Hari Ini, Mahkamah Internasional Mulai Sidang Genosida Rohingya

Internasional  SELASA, 10 DESEMBER 2019 | 09:25 WIB

Hari Ini, Mahkamah Internasional Mulai Sidang Genosida Rohingya

Warga Muslim Rohingya menjadi korban upaya genosida militer Myanmar

MoeslimChoice | Para pengungsi Rohingya yang sejak beberapa tahun terakhir tinggal di kamp-kamp di Cox's Bazar, Bangladesh, mendesak Mahkamah Internasional menyatakan Myanmar bertanggung jawab atas terjadinya "genosida".

Mohammed Zobayer, 19 tahun, mengatakan, dirinya menyaksikan perkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan.

Dia mengaku, yang bisa dia lakukan adalah lari menyelamatkan diri ketika rumah-rumah warga dibakar.

"Saatnya sekarang masyarakat internasional bertindak dan meminta pertanggungjawaban Myanmar. Mereka harus bertanggung jawab atas terjadinya genosida terhadap warga Rohingya," kata Zobayer, seperti dikutip BBC, Selasa (10/12/2019).

Lebih dari 730.000 warga minoritas muslim Rohingya menyelamatkan diri ketika militer Myanmar melancarkan operasi militer pada 2017.

PBB menyatakan, warga Rohingya dibunuh "dengan niat memusnahkan mereka". Tindakan militer Myanmar, kata PBB, "mencakup pembunuhan massal dan perkosaan".

Myanmar selalu membantah tudingan genosida dengan alasan bahwa tindakan militer adalah respons atas serangan yang dilakukan oleh kelompok perlawanan Rohingya.

Ratusan ribu warga Rohingya kini tinggal di tempat-tempat penampungan pengungsi di Bangladesh selatan.

Myanmar digugat ke Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag, yang sidangnya dimulai hari Selasa (10/12/2019) ini hingga Kamis (12/12/2019). Gugatan diajukan oleh negara kecil Afrika barat, Gambia.

Tahun lalu, PBB mengeluarkan laporan yang mengecam kekerasan di Myanmar, dengan menyatakan para pemimpin militer seharusnya diadili terkait genosida.

Namun, Pemerintah Myanmar ngotot menyangkal tentaranya melakukan kejahatan tersebut.

Misi Pencari Fakta Internasional PBB terkait Myanmar (Independent International Fact Finding Mission), pada Agustus 2018, menyatakan, taktik militer "sangat tidak sepadan dengan ancaman keamanan yang ada" dan "keperluan militer tidak pernah dapat menjadi pembenaran bagi pembunuhan tanpa pandang bulu, perkosaan berkelompok terhadap perempuan, penyerangan pada anak-anak dan pembakaran keseluruhan desa". [yhr]


Komentar Pembaca