Kemenag Gelar Dialog Lintas Agama di Yogya Jelang Natal 2019

Sosial  SELASA, 10 DESEMBER 2019 | 06:55 WIB

Kemenag Gelar Dialog Lintas Agama di Yogya Jelang Natal 2019

MoeslimChoice | Kementerian Agama melalui Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) melangsungkan dialog lintas agama di Daerah Istimewa Yogyakarta menjelang Natal.  Acaranya bertema pemeliharaan dan penguatan kerukunan umat beragama.

Dalam acara ini hadir antara lain  60 peserta yang berasal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligeraja Indonesia (KWI), Parisadha Hindu Dharma Indinesia (PHDI), Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin), dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Turut hadir para wakil ormas keagamaan, antara lain Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU), Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), Pimpinan Aisyiyah, Fatayat, Pemuda Anshor, dan Pemuda Muhammadiyah.

“Sengaja kami menggelar dialog lintas agama ini sebagai upaya hadapi Natal dan Tahun Baru agar tahun ini semakin aman dan nyaman dalam menjalankan ibadah,” ujar Ketua PKUB Kemenag Nifasri dalam pernyataan resmi, Senin, 9/12/19. Dia bilang, julukan Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia menjadi alasan Kemenag memilih Kota Gudeg menjadi tempat dialog lintas agama.

Menurut dia Yogya juga sudah dikenal sebagai miniatur Indonesia oleh komunitas global. “Kalau kami kerja sama dengan luar negeri, seperti menggelar beberapa kegiatan dialog lintas iman, mereka pasti memilih Yogyakarta yang disebut sebagai miniaturnya Indonesia,” sambungnya.

Kepala Kanwil Kemenag DIY Edhi Gunawan yang turut hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, yakni memudarnya budaya bangsa, ancaman disintegrasi bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa. “Kita harus bangun kerukunan nasional melalui kerukunan umat beragama. Khusus DIY, sudah membentuk FKUB sampai tingkat kecamatan,” jelasnya.

Menurut dia, kunci kerukunan beragama adalah rutin menggelar pertemuan dengan komunikasi yang produktif. Dari pertemuan itu, bisa dilakukan deteksi dini kejadian yang berpotensi muncul di DIY.

Selain itu, Edhi juga mengingatkan upaya memperkuat moderasi beragama yang berbasis pada tiga pilar, yakni komitmen kuat membangun negara dan bangsa, toleransi, dan semangat antiradikalisme.

Sementara itu, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY Ahmad Muhsin Kamaludiningrat menyebut posisi kota Yogyakarta yang kondang disebut sebagai City of Tolerance.  “Kami tiap pekan mengadakan rapat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB),” ujarnya seraya menyebut pembinaan KUB di DIY sudah dilakukan sejak kurun 1970.

Bahkan menurutnya, dialog FKUB pada 9 Juni 1993 mampu terpublikasi dengan baik. “Waktu itu kami berhasil mengidentifikasi masalah dan menyiapkan solusinya terkait penyiaran agama, pendirian rumah ibadah, peringatan hari besar keagamaan, perkawinan berbeda agama, dan penguburan jenazah,” ujarnya.


Komentar Pembaca