Iuran BPJS Naik 100 Persen, Pasien Cuci Darah Gugat Jokowi ke MA

Kesehatan  JUMAT, 06 DESEMBER 2019 | 12:34 WIB

Iuran BPJS Naik 100 Persen, Pasien Cuci Darah Gugat Jokowi ke MA

Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menunjukkan berkas gugatannya

MoeslimChoice | Presiden Joko Widodo kembali digugat ke Mahkamah Agung (MA) karena menaikkan tarif Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Kali ini Jokowi digugat oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI). Sebelumnya, Jokowi digugat oleh warga Surabaya bernama Kusnan Hadi.

Gugatan itu dilayangkan ke Mahkamah Agung (MA). Para hakim agung diminta membatalkan kenaikan tarif BPJS.

"Menyatakan Perpres No. 75 Tahun 2019 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat," kata kuasa hukum KPCDI, Rusdianto Matulatuwa, saat berbincang dengan wartawan, Jumat (6/12/2019).

Menurut pemohon, angka kenaikan iuran BPJS yang hampir mencapai 100 persen itu menimbulkan peserta bertanya-tanya, dari mana angka tersebut didapat?

Karena, jika mengambil contoh kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), maka logika masyarakat sudah terbangun karena faktor kenaikan minyak internasional.

"Tapi logika tentang kenaikan sudah tergambar, hal ini tidak terjadi dalam kenaikan iuran BPJS sebesar 100 persen. Mengapa harus 100 persen? Mengapa tidak 150 persen atau pun dan lain-lain sebagainya? Sementara dibandingkan asuransi swasta, kenaikan hanya berkisar 5-10 persen setahun," ujar Rusdianto.

Kenaikkan BPJS itu dinilai bertentangan dengan Pasal 4 (Huruf c,d dan e) UU No 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Pasal 4 (huruf c,d dan e) UU 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

"Dengan kenaikan sebesar 100% selama 5 tahun atau 20% setiap tahun terhadap iuran BPJS, ini adalah angka yang sangat tidak wajar, karena kenaikan penghasilan yang tidak sampai 10% per tahun, tapi biaya iuran wajib yang naik rata-rata setiap tahun sebesar 20% membuat ketidakseimbangan," papar Rusdianto.

Sebelumnya, warga Surabaya bernama Kusnan Hadi berharap MA membatalkan kenaikan 100 persen BPJS. Ia bahkan berharap putusan keluar sebelum Januari 2020.

"Semoga sebelum Januari 2020 putusan dari MA sudah keluar. Dan diterima oleh MA kembali seperti dulu," tutur Kusnan yang juga pengusaha warung kopi itu. [yhr]


Komentar Pembaca