Gus Baha, Idola Baru Jemaah Madrasah al-Youtubiyah

Oleh JAFAR SODIQ ASSEGAF

Islamtainment  KAMIS, 05 DESEMBER 2019 | 10:17 WIB

Gus Baha, Idola Baru Jemaah Madrasah al-Youtubiyah

Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha

GENERASI muda patut berterimakasih pada perkembangan teknologi yang belakangan membuat akses informasi seolah menjadi tak terbatas.

Karena internet, pemikiran-pemikiran dan ceramah Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha menjadi mudah diakses.

Kiai-kiai muda kekinian dengan mudah diterima di kalangan milenial yang kebanyakan tidak bisa lepas dari media sosial dan Internet. Gus Baha menjadi salah satunya.

Meski tak terdorong untuk mensyiarkan ilmunya ke Youtube, nyatanya sederet ceramah Gus Baha banyak muncul di platform bebagi video itu.

Gus Baha menjadi idola baru kalangan pendengar ceramah via Youtube atau Jemaah Madrasah al-Youtubiyah.

 

Sosok Gus Baha

Gus Baha adalah alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, di bawah asuhan KH Maimoen Zubair. Gus Baha memiliki nama lengkap Ahmad Bahauddin Nursalim.

Pemahaman Gus Baha tentang ragam keilmuan di dalam Islam dan ilmu-ilmu al-Quran telah diakui oleh banyak ulama besar, seperti Ustaz Adi Hidayat hingga penulis kitab Tafsir Al-Misbah, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab.

Ustaz Adi Hidayat, dalam salah satu ceramahnya, menyebut Gus Baha sebagai Manusia Al-Qur’an.

Hal ini lantaran kemampuannya menjelaskan Al-Qur’an untuk banyak perkara dengan fasih.

“Di Rembang itu ada manusia Quran yang tidak banyak dikenal orang. Itu kalau bapak-ibu Tanya tentang fikih-fikih dalam Al-Quran, itu beliau luar biasa. Namanya Gus Baha, Gus Baha. Kapan-kalau kalau ada pengajiannya, hadiri pengajiannya. Itu di antara orang yang mengerti Al-Quran,” kata Ustadz Adi Hidayat.

 

Viral di YouTube

Tanpa terekam media, Gus Baha datang dari satu pesantren ke pesantren lain. Dia memberikan paparan tentang tafsir dan hadis.

Misalnya di Pesantren Sidogiri, ia mengisi Pengaruh Israiliyat Terhadap Penafsiran Alquran. Lain waktu ia menyampaikan paparan dalam seminar tafsir dan hadis di Pesantren Fathul Ulum, Kwagean, Kediri.

Di Ma’had Ali Pesantren Maslakul Huda, ia mengkaji Kontekstualisasi Ayat-Ayat Perang dalam sebuah kuliah umum.

Dalam pengajiannya ia menegaskan sebagai bukan penceramah atau mubalig. Ia mengaji. Sambil membaca kitab Jalalain misalnya, ia membacakan juga sejumlah rujukan yang relevan dengan tema yang dibahas.

Awalnya ia menolak untuk muncul di Youtube, tapi membolehkan para santrinya untuk merekam.

Para santri ini lalu berhimpun dalam aplikasi telegram untuk saling berbagi rekaman pengajian Gus Baha. Ada juga yang menggunakan media dan aplikasi lain.

Baru belakangan Gus Baha berkenan pengajian atau ceramahnya tayang di Youtube. Itulah sebabnya dalam tampilan di Youtube, pengajiannya kebanyakan masih berupa audio.

Dalam salah satu ceramahnya di Korea Selatan, September 2019, Gus Baha pernah ditanya soal sanad (rantai) keilmuan menonton ceramahnya di Youtube.

Pada pertanyaan yang sama juga memuat tentang bagaimana hukum menonton ceramah Gus Baha di Youtube.

“Mengaji saya di Youtube itu saya ikhlaskan lillahi ta’ala. Secara otomotis, secara sanad tersambung. Yang ada syarat ketat itu kalau yang mau menjadi mufti,” jawab Gus Baha lugas. [yhr]


Komentar Pembaca