Nadiem Ditantang Pangkas Beban Guru

Pendidikan  SENIN, 25 NOVEMBER 2019 | 09:15 WIB

Nadiem Ditantang Pangkas Beban Guru

Ilustrasi

MoeslimChoice | Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, ditantang untuk memangkas beban administrasi guru agar mewujudkan proses belajar mengajar yang inovatif, seperti tertulis dalam pidatonya pada peringatan Hari Guru Nasional.

Sebab, seorang guru mengatakan, mustahil untuk berinovasi sementara mereka dituntut menyelesaikan pekerjaan administrasi yang menguras tenaga dan pikiran.

Fahriza Tanjung, seorang guru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, bercerita, ada dua tugas besar yang dibebankan kepada mereka: membuat model atau kerangka belajar yang merujuk pada kurikulum, dan merampungkan kelengkapan administrasi yang terkait dengan tunjangan profesi.

Dua beban itu, katanya, sangat menguras tenaga dan pikiran mereka. Sebab, dalam merancang model atau kerangka belajar, guru harus cermat.

Jika terlalu rumit, tujuan kurikulum tidak akan tercapai dan siswa akan kerepotan saat menghadapi Ujian Nasional.

Belum lagi kalau ada perubahan dalam kurikulum. Hal itu, katanya, bakal menambah beban guru.

"Karena, hampir dua sampai tiga tahun sekali, ada perubahan kurikulum. Itu sangat membebani. Kalau tidak terpenuhi [kurikulum], tunjangan profesi tidak bisa dicairkan," ujar Fahriza Tanjung kepada wartawan, Minggu (24/11/2019).

Tak hanya merancang model pembelajaran, guru juga mesti menyusun instrumen penilaian setiap siswa dan lembar kerja peserta didik. Itu semua, kata Fahrizal, bukan hal mudah.

"Kenyataannya banyak guru yang tidak mahir, akhirnya banyak yang copy-paste dari guru lain," tukasnya, "Penilaian untuk siswa itu sendiri ada tiga aspek: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penilaian itu pun tidak hanya ketika evaluasi atau sesudah, tapi selama berlangsung."

Sementara untuk beban kelengkapan administrasi yang terkait dengan tunjangan profesi dilakukan dengan mengisi sederet formulir yang diserahkan kepada Badan Kepegawaian Daerah.

Kemudian, jika menyangkut kenaikan pangkat, guru diwajibkan membuat makalah atau karya tulis.

"Kenaikan pangkat itu juga repot, karena kenyataannya banyak guru belum banyak paham akhirnya banyak calo untuk mengurus," katanya.

Berjibunnya kewajiban dan tuntutan kepada guru tak memungkinkan mereka berinovasi di kelas dan kerap berjalan satu arah.

Itulah mengapa, menurut Fahrizal, sulit untuk memenuhi harapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, sesuai pidatonya.

"Kalau berharap student centre sulit dilakukan, kalau ada tuntutan-tuntutan begitu," tambahnya.

Kalaupun dilakukan, harus ada kebijakan konkret yang menyeluruh, mulai dari pusat hingga daerah.

Menteri Nadiem, katanya, tak bisa hanya mengandalkan perubahan pada guru yang terikat pada jalur birokrasi.

"Harus ada pemahaman bersama antara guru dengan dinas pendidikan. Kalau tidak, ya nanti sama aja di lapangan dituntut untuk lebih mengutamakan pembuatan administrasi," tukasnya.

 

Nadiem Minta Guru Berinovasi

Dalam lembar pidato memperingati Hari Guru Nasional yang diunggah di akun Twitter resmi Kemendikbud, Nadiem Makarim menyentil beban para guru yang harus mengerjakan tugas administratif, yang menurutnya tanpa manfaat yang jelas.

Hal lain terkait penerapan ujian yang secara paksa diterapkan para pemangku kepentingan sebagai tolok ukur capaian siswa.

"Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan," kata Nadiem dalam teks pidatonya.

Persoalan lain yang juga disinggung Nadiem mengenai kurikulum yang begitu padat dan menutup pintu pada kemampuan siswa berkarya dan berkolaborasi. Menurutnya, kurikulum cenderung membuat siswa sebagai penghafal.

"Anda tahu setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi. Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi," katanya.

Karena itulah, mantan bos GoJek ini memerintahkan para guru untuk melakukan perubahan di kelas mereka.

Mulai dari berdikusi, mencentuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, dan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas.

"Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia pasti akan bergerak," katanya menutup pidato.

 

Pangkas Beban Guru

Pengamat pendidikan, Itje Chodijah, mengatakan, apa yang disampaikan Nadiem Makarim dalam pidatonya menyasar jantung persoalan di dunia pendidikan, tapi sekaligus memberi harapan kepada guru tentang bagaimana mengajar.

Itje menilai, guru tidak semestinya dibebani pekerjaan administrasi. Menurutnya, satu-satunya tugas pendidik adalah melahap sebanyak-banyaknya ilmu dan mendiskusikannya dengan murid-murid.

"Kalau guru setahun baca tiga buku juga enggak, gimana bisa mengajar anak-anak yang dinamis itu? Pesan itu [pidato Nadiem] memberikan motivasi bahwa `oh iya guru ternyata selama ini hanya memenuhi apa yang diminta administrasi, tapi belum memenuhi kebutuhan anak-anak`," ujar Itje kepada wartawan, Minggu (24/11), "Tugas guru tidak bersentuhan langsung dalam jumlah yang besar untuk birokrasi."

Itulah mengapa Itje berharap Menteri Nadiem Makarim segera melahirkan kebijakan yang berpihak pada guru dan siswa, yakni memangkas beban administrasi yang dibebankan kepada para pendidik dan mereformasi pola pengembangan guru.

Dengan begitu, guru akan lebih leluasa merancang metode pembelajaran yang tak berorientasi pada guru semata.

"Bahasa guru sering kali bukan bahasa yang mengaktifkan anak berpikir, tapi lebih banyak instruksi menyelesaikan soal-soal. Maka butuh upaya besar dari Kemendikbud," katanya.

Gebrakan lain yang ditunggu dari Menteri Nadiem, yakni mengubah cara pandang terhadap Ujian Nasional.

Selama ini, katanya, UN dijadikan alat motivasi siswa dan guru sehingga mengabaikan proses belajar yang dinamis.

Padahal, UN sebaiknya menjadi salah satu sumber data atau informasi yang real terhadap capaian kurikulum, dengan pelaksanaannya tanpa menekan siswa dengan menggelar try out.

"Kalaupun UN harus ada, hanya untuk ambil data tentang bagaimana ketercapaian kurikulum dan enggak perlu direpotin tapi pure mengukur. Jadi ujian enggak pakai bimbel, try out, kan akhirnya mengukur kemampuan sekolah yang sebenarnya," jelas Itje.

Wartawan telah berusaha menghubungi Nadiem serta sejumlah pejabat di Kementerian Pendidikan, namun mereka belum menanggapi permintaan wawancara.

Adapun Staf Ahli Bidang Regulasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Chatarina Muliana Girsang, lewat pesan singkat, menyatakan bahwa Menteri Nadiem tidak akan membuat janji-janji kosong

"Beliau [Menteri Nadiem Makarim] tidak akan membuat janji-janji kosong," katanya kepada wartawan. [yhr]


Komentar Pembaca