Cegah Radikalisme, Kemenag Sumsel Keluarkan 9 Rekomendasi

Tentang Sumsel  SABTU, 23 NOVEMBER 2019 | 14:24 WIB | Rahmad Romli

 Cegah Radikalisme, Kemenag Sumsel Keluarkan 9 Rekomendasi

MOESLIMCHOICE. Menindaklanjuti kebijakan Menteri Agama terkait masalah radikal, Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kanwil Kemenag bersama instansi terkait seperti Polda Sumsel, Kodam II Sriwijaya, Kejati, Binda, Kemenkumham, Dinas Sosial, Kesbangpol, Majelis Ulama Indonesia (MUI), FKUB, Dewan Masjid Indonesia (DMI), PWNU, PW Muhammadiyah, para penyuluh agama Islam melakukan pemetaan paham dan aliran keagamaan di Sumatera Selatan.

Dari hasil rapat tersebut Kemenag bersama instansi terkait mengeluarkan sembilan rekomendasi pencegahan meluasnya paham radikal di Sumsel.

Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sumsel H. Abadil menjelaskan rapat ini merupakan wujud kepedulian dan kesadaran mengenai pentingnya kehidupan beragama yang rukun, harmonis, dan moderat.
 
“Terlebih lagi kondisi masyarakat Indonesia saat ini mudah sekali terpecah belah atau terprovokasi. Kita harus memiliki pedoman yang jelas agar dapat membedakan mana paham yang terpapar radikalisme dan mana paham atau aliran yang semata-mata berkomitmen menjalankan ajaran agama. Komitmen kita adalah hendaknya kita dapat mengacu pada kriteria dari MUI. Hal ini penting sebab masyarakat kita saat ini karena kurangnya pemahaman, mudah sekali menjatuhkan vonis sesat terhadap suatu paham atau aliran, dan ini tentu berbahaya karena dapat mengakibatkan terganggunya keharmonisan beragama,” jelas Abadil saat rapat di aula Kanwil Kemenag Sumsel, Sabtu (23/11).
 
Dia berharap, hasil pertemuan ini dapat menjadi pegangan dalam mengantisipasi atau mewaspadai terjadinya gejolak di masyarakat. Sehingga kondisi kerukunan dan ketertiban di Provinsi Sumsel bisa terus terjaga seperti saat ini. “Ini tentu bukan kewajiban Kemenag atau pemerintah semata, namun merupakan kewajiban kita semua. Semoga pertemuan kita ini diberkahi Allah SWT,” harap Abadil.

Dari hasil pertemuan tersebut, ada sembilan rekomendasi untuk menjadi pijakan dalam optimalisasi pencegahan radikalisme. Antara lain melakukan pemilahan terhadap aliran/paham keagamaan yang berkembang mana yang radikal dan mana yang fundamental, membentuk tim terpadu untuk menelusuri aliran/paham keagamaan yang berkembang, membentuk petugas pelapor dan sistem pelaporan, melakukan pengawasan berjenjang terhadap aliran/paham yang sudah ada.
 
Kemudian bersama-sama masyarakat mengawasi napiter yang sudah menjalani hukuman dan sudah kembali ke masyarakat, mengoptimalkan potensi yang ada semisal penyuluh agama, FKDN dan Bakorfakem untuk menjadi agen-agen pembinaan dan pengawasan bagi aliran/paham yang ada.

Selanjutnya melakukan pembahasan khusus antar instansi terkait mengenai konsep radikalisme sehingga tidak terjadi salah tuduh terhadap seseorang atau organisasi, mengawal fatwa MUI mengenai aliran/paham yang dianggap sesat, serta melakukan klarifikasi terhadap aliran/paham yang dicurigai menyimpang, melakukan penilaian, dan mengumumkan hasilnya. [rhd]


Komentar Pembaca