BNPT Ternyata Tak Punya Data 3 Persen Anggota TNI Terpapar Radikalisme yang Diisukan

Nasional  KAMIS, 21 NOVEMBER 2019 | 21:54 WIB | Sugiharta Yunanto

BNPT Ternyata Tak Punya Data 3 Persen Anggota TNI Terpapar Radikalisme yang Diisukan

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Aliu/net

Moeslimchoice | Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius mengklarifikasi data 3% anggota TNI terpapar radikalisme yang pernah disampaikan oleh mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

Suhardi mengatakan, BNPT tidak punya data seperti yang disampaikan Ryamizard. Dirinya sempat dihubungi Menkopolhukam Wiranto untuk mengklarifikasi pernyataan Ryamizard.

"Saya ditanya Pak Wiranto. Saya bilang, saya tidak punya data itu," kata Suhardi di gedung DPR, Senayan, Jakarta, 21/11/2019.

Menurut Suhardi, BNPT tidak memiliki data terkait radikalisme seperti yang dikatakan oleh Ryamizard, tetapi hanya mendapatkan informasi. Hal serupa juga disampaikan Suhardi untuk kasus ASN dan perguruan tinggi yang terpapar radikalisme.

"Tanya kepada yang memberikan statement. Itu bukan saya, teman teman boleh tanya ke instansi-instansi itu," ucapnya

Suhardi mengatakan penelitian BNPT tidak sampai masuk ke wilayah TNI. Karenanya tidak bisa memastikan berapa persen anggota TNI, termasuk Polri yang terpapar radikalisme.

"Penelitian saya gak masuk ke situ. Bagaimana saya memonitor semacam itu. Kalau sekarang di Polri contohnya ada Polwan kan terpapar. Teman-teman tanya lah ke Polri," ungkapnya  

Suhardi menambahkan, dirinya hanya diperintahkan untuk mendata semua orang di lembaga atau instansi pemerintah yang terpapar radikalisme.

"Tadi ada perintah untuk mencari data itu. Kita meminta kementerian itu lapor ke kita, termasuk di BUMN," jelasnya

Suhardi juga mengatakan tidak akan membuka data beberapa persen ASN yang terpapar radikalisme saat ini, karena khawatir ketika dibuka justru menimbulkan kegaduhan.

"Gini, saya katakan sekali lagi, saya tidak mau merilis itu, walaupun ada, kenapa, ya tugas kita mereduksi. Nanti bikin resah. Coba contohnya sekarang, perguruan tinggi sekian, kan ribut itu di masyarakat. Nah ini masalah paparannya dari media sosial. Kalau saya share itu perguruan tinggi ternama, mau sekolah dimana anak-anak kita," tandasnya. [zul]


Komentar Pembaca