MUI Terbitkan Fatwa Terbaru tentang Hukum Melihat Mushaf Saat Shalat

Berita  RABU, 20 NOVEMBER 2019 | 15:29 WIB | Adhes Satria

MUI Terbitkan Fatwa Terbaru tentang Hukum Melihat Mushaf Saat Shalat

Moeslimchoice |Komisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mengeluarkan fatwa terbaru. Kali ini tentang Hukum Melihat Mushaf Saat Shalat. Berikut  Fatwa MUI Nomor: 49 Tahun 2019 , ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Rabi'ul Awwal 1441 H, 6 November 2019 M, ditandatangani oleh  Ketua Umum MUI Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin dan Sektretaris Jenderal  MUI Anwar Abbas MM., M.Ag.

MC Award 2

Menimbang, salah satu hal yang sangat dianjurkan saat melaksanakan shalat adalah menjaga kekhusyu'an, diantaranya dengan bacaan Al-Qur'an yang mujawwad, serta tidak melakukan hal-hal yang membatalkan shalat (baik ucapan maupun gerakan).

Disebagian masyarakat ada imam membaca Al-Qur'an dengan melihat mushaf saat shalat dan karenanya ada yang menanyakan hukumnya. Untuk menjawab pertanyaan di atas, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan Fatwa tentang Hukum Melihat Mushaf Saat Shalat untuk dijadikan sebagai pedoman.

Berdasarkan Qur’an (Firman Allah SWT) dan beberapa Hadits, Komisi Fatwa MUI menjelaskan riwayat Aisyah ra tentang budaknya yang membaca mushaf saat menjadi imamnya dan dalam riwayat yang lain bahwa Aisyah ra membaca mushaf dalam keadaan shalat.

Dari Aisyah istri Rasulullah SAW, ghulamnya menjadi imam shalat atas dirinya sambil memegang mushaf (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah]. Sedangkan Ibnu At-Taimi meriwayatkan dari ayahnya bahwa Aisyah dari ayahnya bahwa ra membaca mushaf dalam keadaan shalat [HR. Abdurrazzaq)

Pleno Komisi Fatwa MUl tanggal 6 November 2019 menetapkan dan memutuskan Fatwa tentang hukum melihat mushaf saat shalat. Inilah ketentuan hukumnya:  

Melihat mushaf al-Quran saat shalat tidak membatalkan shalat. Membaca ayat Al-Qur'an dengan cara melihat mushaf bagi orang yang sedang shalat hukumnya boleh jika ada kebutuhan sepanjang tidak mengganggu kekhusyu’an dan tidak melakukan gerakan yang membatalkan shalat.

Untuk menjaga kekhusyu’an shalat, maka imam shalat diutamakan membaca ayat al-Quran bil ghaib [dengan hafalan, tanpa melihat mushaf).

Kajian Fatwa MUI merekomendasikan: Orang yang akan menjadi imam shalat harus memahami ketentuan fikih shalat, menjaga kekhusyu'an, dan memperhatikan kondisi makmum.

Bagi seorang imam shalat fardhu untuk tidak memanjangkan bacaan ayat Al-Qur'an, terlebih jika kondisi makmum beragam. Bagi pengurus takmir masjid untuk memilih imam rawatib dengan pemahaman keagamaan yang baik, hafalan yang baik dan bacaan yang mujawwad.

Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata dibutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini. (des)


Komentar Pembaca