Selamat Jalan Djoko Harjanto, Pahlawan ‘Suriah’ dari Indonesia

Berita  JUMAT, 15 NOVEMBER 2019 | 09:37 WIB

Selamat Jalan Djoko Harjanto, Pahlawan ‘Suriah’ dari Indonesia

Djoko Harjanto

MoeslimChoice | Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Suriah, Djoko Harjanto, meninggal dunia pada Rabu (13/11/2019), sekitar pukul 01.45 dini hari.

Entah kenapa, tidak ada satu media pun yang memberitakan tentang kematiannya. Padahal, Dubes RI untuk Suriah (2013-2019) ini merupakan salah satu pejabat pemerintah yang berani berbicara blak-blakan tentang fakta perang Suriah.

Kabar meninggalnya Djoko Harjanto ini diperoleh melalui info dari fanpage PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Suriah.

Melalui info itu diketahui, PPI Suriah, beserta Dubes RI dan para stafnya, juga salah satu ulama Suriah, Syaikh Abdul Razaq An Najm, melaksanakan shalat ghaib dan tahlil atas wafatnya Duta besar RI periode 2013-2019, Drs Djoko Harjanto, di Kedutaan Besar Republik Indonesia Damaskus, Suriah.

Berikut adalah salah satu penjelasan Djoko Harjanto terkait fakta perang Suriah, yang sekaligus membuatnya dijuluki banyak pihak sebagai pahlawan “Suriah” dari Indonesia.

Ada alasan yang cukup kuat mengapa Pemerintah Republik Indonesia, hingga saat ini, masih menempatkan duta besarnya di Suriah.

Padahal, separuh dari 63 kedutaan besar di negara yang dirundung konflik itu sudah tidak beroperasi lagi.

Selain itu, saat muncul persoalan Timor Timur, dukungan Suriah ke RI sangat kuat.

“Disuruh apa saja untuk mendukung kita, mereka mau,” kata Djoko Harjanto kepada wartawan, saat itu.

Dalam perbincangan singkat saat kunjungannya ke Tanah Air untuk menghadiri seminar internasional ihwal Konflik Suriah dan gejolak Timur Tengah yang dihelat Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami), beberapa waktu lalu, pria asal Jawa Tengah ini pun mengingatkan umat Islam Indonesia agar tak terseret ke dalam pusaran konflik dan mengimpornya ke Indonesia. Berikut petikan perbincangannya:

 

Bagaimana Anda melihat Pemerintah Suriah saat ini?

Pertama, orang sudah terlanjur menganggap pemerintah Suriah itu Syiah. Itu yang harus saya luruskan. Bashar Assad itu Alawie (Sayyid), yang terdiri antara lain dari Druze. Ia seorang bermadzhab Sunni.

Saya lihat langsung. Mufti Syekh Adnan al-Fayouni, yang diundang beberapa kali ke Indonesia oleh ICIS, dan belum lama ini ke Indonesia, memimpin mengimami shalat pada acara Maulid Nabi, di belakangnya Assad, shalatnya sendakep berarti bukan Syiah. Itu kita luruskan dulu.

Kedua, informasi yang menyatakan pemerintah Assad membunuhi rakyatnya. Itu tidak benar. Bagaimana mungkin, wong pemerintah solid didukung rakyatnya. Jadi jika memang ada yang meninggal, itu karena perang dua kubu, namanya perang.

Kalau dulu perang itu antar-prajurit, tak boleh menyerang rumah sakit dan lain-lain, rumah ibadah, sekolah. Nah sekarang jihadis di Suriah yang fanatik dengan ISIS, Al-Qaeda, saling berperang. Bukan hanya pemerintah. Itu yang harus diketahui. Saya langsung di sana, melihat dengan mata saya, mengamati detik demi detik dan melaporkan ke pemerintah RI.

 

Menurut Anda, mengapa muncul kesimpangsiuran informasi terkait Suriah?

Media dikuasai Barat milik Yahudi, dikuasai oleh miliader Yahudi George Soros, berarti agendanya harus sesuai kepentingan mereka. Aljazeera milik Qatar, yang memusuhi Suriah, tak mungkin dia berpihak ke Assad. Ini saya sampaikan apa adanya secara pribadi dan tidak memihak.

Dan itu memang tugas pemerintah, tidak boleh macam-macam, fokus perlindungan dan  bantuan kemanusiaan.

 

Apakah bantuan kemanusiaan RI sudah mengalir untuk Suriah?

Alhamdulillah sudah mengalir, setelah sekian lama, lewat Lembaga Koordinasi Bantuan Kemanusiaan PBB (OCHA) yang tidak memihak. Tapi soal sampai tidaknya wallahua’lam, sudah 500 juta USD mengalir, belum ada satu bulan ini.

Kalau memang mau aman memang lewat pemerintah. Anda sudah dengar, dari Palang Merah Internasional (ICRC) enam orang hilang, sampai sekarang tidak ketemu. Conflict is conflict, bantuan kemanusiaan perlu, tetapi persoalannya yang lama sejak 2012, bantuan biasanya tidak sampai, di tengah perjalanan sudah diserobot oleh pemberontak. Itu yang jadi persoalan. Jadi sensitif di luar negeri.

Begitu bantuan pertama masuk melalui OCHA, saya sudah punya impian untuk mendorong bantuan kemanusiaan ke Suriah. Kita sudah menghubungi Palang Merah mereka, tidak minta macam-macam. Obat tidak terlalu diperlukan karena disana murah, saya cek up sebagai dubes hanya 100 dolar tidak habis, meliputi semua. Kalau membantu yang diperlukan ambulans, kita sudah sampaikan.

 

Bagaimana dengan upaya diplomasi damai di Suriah?

Sejak konflik mulai 2012, kita serukan damai karena konflik apapun akan selesai dengan perindungan, praktiknya di lapangan sulit, memang realitanya begitu. Politik juga begitu kan, lihat sendiri di Indonesia, Anda tahu sendiri. Yang kita khawatirkan, menurut [Universitas] Gajah Mada dan UMS, adalah perseteruan Sunni-Syiah, bahkan di Indonesia. [yhr]


Komentar Pembaca