Ulama Indonesia Paparkan Standardisasi Halal di Forum Global

Ekonomi Syariah  JUMAT, 15 NOVEMBER 2019 | 09:35 WIB | Warni Arwindi

Ulama Indonesia Paparkan Standardisasi Halal di Forum Global

MoeslimChoice | Ketua Komite Syariah World Halal Food Council (WHFC) Asrorun Niam Sholeh memaparkan standard hewan halal sebagai pedoman bagi lembaga sertifikasi halal dunia dalam sidang pleno yang berlangsung Kamis, 14/11/19. Ia menyampaikan  sejumlah poin standardisasi hewan halal yang bisa dikonsumsi dan dijadikan bahan dalam produk pangan.

Niam menjadi salah satu pembicara dalam pertemuan 48 Lembaga Halal Dunia dari 26 negara yang tergabung dalam World Halal Food Council (WHFC) yang berhimpun di Jakarta, Rabu hingga Jumat 13-15 November 2019 dalam pertemuan tahunan. Pertemuan kali ini mengagendakan evaluasi program selama satu tahun dan membahas berbagai masalah kontemporer terkait produk halal global.

“Pembahasan standard ini penting untuk menjadi pedoman dalam proses sertifikasi halal, dan pengakuan sertifikat halal dari lembaga halal dunia. Pertemuan ini sangat stretegis, terlebih ini momentum pertama pasca berlakunya efektif kewajiban sertifikasi halal sesuai UU Jaminan Produk Halal”, ujarnya kepada wartawan di Hotel Sheraton Jakarta, Kamis, 14/11/19.

Ini merupakan rekomendasi tindaklanjut dari pertemuan sebelumnya yang dilaksanakan di Australia, Italia, dan Indonesia. “Pertemuan komite syari’ah terakhir merekomendasikan pembahasan dan penetapan standar hewan halal seiring dengan semakin berkembangnya teknologi pangan, terutama yang menggunakan bahan hewani”, ujar dosen Pascasarjana UIN Jakarta ini.

Dalam paparannya, Niam menjelaskan prinsipnya, hewan halal itu ada yang disebutkan secara eksplisit dalam nash, ada yang disebutkan indikasinya. “Ini yang lebih banyak. Karenanya, perlu kedalaman pemahaman, baik aspek syari’ah maupun aspek teknis untuk mengetahui boleh tidaknya suatu jenis hewan untuk dikonsumsi”, ujarnya.

Lebih lanjut ia memberikan uraian, untuk hewan yang haram, di samping disebutkan oleh dalil nash seperti babi, ada juga yang disebutkan indikasinya. “Setidaknya ada enam indikasi yang membuat hewan itu haram dimakan, yaitu karena masuk kategori kotor (khabits), membahayakan (dlaarrah), diperintahkan untuk dibunuh, dilarang untuk dibunuh, sebagai hewan buas yang memiliki taring, memiliki kuku tajam untuk memangsa, serta hewan yang mayoritas makannya barang najis dan kotor”, ujar doktor bidang hukum Islam ini.


Komentar Pembaca