Indonesia Naik Enam Peringkat di Islamic Finance Development Report 2019

Ekonomi Syariah  RABU, 13 NOVEMBER 2019 | 22:15 WIB | Natasha

Indonesia Naik Enam Peringkat di Islamic Finance Development Report 2019

(kiri-kanan) Direktur Eksekutif KNKS Ventje Rahardjo Soedigno, Proposition Manager Refenitif Shaima Hassan, Direktur Pendidikan dan Riset KNKS Sutan Emir Hidayat

Moeslimchoice | Indonesia mencatat peningkatan signifikan pada Islamic Finance Development Report 2019. Yaitu menjadi peringkat empat, naik enam peringkat dari peringkat 10 pada tahun 2018.

Dalam penentu peringkat, ada lima komponen yang dijadikan tolak ukur. Yaitu Pembangunan Kuantitatif, pengetahuan yang meliputi pendidikan dan penelitian, governance atau tata kelola, CSR dan awareness. 

Preposition Manager Refenitif Shaima Hassan menyebutkan ada tiga alasan yang menyebabkan Indonesia berhasil meningkatkan peringkatnya. 

"Indonesia sudah men-develop masterplan ekonomi syariah 2019-2024, dengan mengedepankan pendidikan dan penelitian," kata Shaima saat konferensi pers  ISEF 2019 di JCC Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Selain itu,  kebijakan pemerintah juga mendukung perkembangan ekonomi syariah. "Total aset Indonesia juga mengalami peningkatan sebesar lima persen, menjadi 86 miliar Dollar Amerika," ujar Shaima. 

Terkait kebijakan pemerintah, Direktur Eksekutif KNKS Ventje Rahardjo Soedigno menyatakan bahwa pemerintah memang sangat mendukung pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. 

"Support pemerintah untuk pengembangan sangat kuat. Ini bisa dilihat dari disusunnya rencana implementasi dari roadmap pengembangan ekonomi syariah, yang akan kita luncurkan pada awal 2020," kata Ventje. 

Ventje menyebutkan bahwa hal ini sejalan dengan permintaan presiden yang meminta Indonesia sudah menduduki peringkat tiga dalam lima tahun. 

"Sekarang sudah peringkat empat. Semoga selanjutnya bisa peringkat tiga, lalu peringkat dua dan seterusnya. Insha Allah bisa peringkat satu," tutur Ventje pada awak media. 

Pada tatanan global,  aset industri keuangan syariah tercatat meningkat tiga persen,  dari 2,4 bilyar Dollar Amerika pada tahun 2017 menjadi 2,5 bilyar Dollar Amerika pada tahun 2018.

Iran,  Saudi Arabia dan Malaysia mencatatkan diri sebagai market terbesar dari 61 negara yang melaporkan asetnya. Total aset dari ketiga negara ini adalah 500 bilyar Dollar Amerika. Dan yang mencatatkan pertumbuhan aset tercepat adalah Maroko,  Cyprus dan Ethiopia. 

Dalam penilaian tahun ini, Indonesia mencatat peringkat 8 untuk pembangunan kuantitatif,  peringkat 2 untuk pengetahuan, peringkat 9 untuk tata kelola, peringkat 13 untuk CSR dan peringkat 10 untuk awareness.


Komentar Pembaca