Menteri Edhy Prabowo Petakan Masalah Lewat Tatap Muka dan Kunjungan

Ekonomi  SELASA, 12 NOVEMBER 2019 | 09:20 WIB | Warni Arwindi

Menteri Edhy Prabowo Petakan Masalah Lewat Tatap Muka dan Kunjungan

MoeslimChoice | Selama dua pekan menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo menerima sejumlah pemangku kepentingan untuk memetakan masalah. Dalam setiap temu muka itu, Menteri Edhy banyak menerima informasi dari berbagai sektor baik itu perikanan tangkap,  budidaya, pembangunan SDM, hingga pengolahan dan pemasaran produk kelautan dan perikanan.

"Kita mendengar semua masalah dan keluhan dari stakeholder kita. Tak hanya pihak yang pro terhadap suatu kebijakan, tetapi juga pihak yang kontra. Ini penting untuk menemukan solusi terbaik dari setiap masalah dengan melihat sudut pandang dari berbagai sisi," ujarnya, Senin, 11/11/19.

Intinya, kata dia, terjalin komunikasi dua arah. Selanjutnya diharapkan terjadi saling pengertian sehingga akan lebih mudah mengatasi masalah di bidang kelautan dan perikanan.

Sejauh ini tercatat, Menteri Edhy telah bertemu dengan nelayan, Awak Kapal Perikanan (ABK), dan pelaku usaha di PP Muara Angke; pelaku usaha dan ABK di PPS Muara Baru; perwakilan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI); Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia; nelayan Aceh; pelaku usaha perikanan tangkap Jawa Tengah;

Selanjutnya Edhy juga menemui pimpinan Perum Perindo;  Asosiasi Koral, Kerang, dan Ikan Hias Indonesia (AKKII); Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) yang terdiri dari pelaku usaha perikanan tangkap, pembudidaya, petambak garam, penggiat wisata bahari, pelaku usaha kuliner, pengrajin handicraft, dan sebagainya; serta asosiasi pembudidaya udang.

Menteri Edhy pun telah bertemu dengan beberapa kepala daerah untuk menyelami permasalahan kelautan dan perikanan yang dihadapi masing-masing daerah. Tak hanya itu, Menteri Edhy juga menghadiri acara terkait kelautan dan perikanan yang diadakan pemerintah daerah seperti West Java Festival di Bandung, Jawa Barat dan rangkaian peringatan menuju Hari Nusantara XIX di Palembang, Sumatera Selatan.

Beberapa keluhan yang masuk di antaranya lamanya proses perizinan kapal; larangan bongkar muat di tengah laut; larangan penggunaan alat tangkap cantrang; pembatasan ukuran tangkapan lobster, kepiting, dan rajungan; larangan budidaya benih lobster; pengkategorian kapal eks-asing; pembagian Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP); perdagangan karang hias; penyakit udang budidaya; regulasi perizinan usaha; dan sebagainya.

Menteri Edhy akan mengunjungi beberapa daerah untuk mengetahui dan melihat aktivitas pelaku usaha kelautan dan perikanan secara langsung untuk mendapatkan informasi dari masyarakat  secara lebih jelas dan akurat. Termasuk terkait beberapa kebijakan yang masih menimbulkan polemik.

"Misalnya pelarangan cantrang ini kan masih menimbulkan pro dan kontra di sana sini. Kita perlu bertemu dengan mereka yang menggunakan cantrang yang percaya bahwa cantrang tidak merusak lingkungan, tentunya juga dengan kelompok nelayan yang menolak penggunaan cantrang karena merasa dirugikan dengan penggunaan alat tersebut," jelasnya.

Tak hanya cantrang, pembatasan ukuran pengambilan kepiting yang harus di atas 200 gram per ekor juga menjadi pertimbangan. Pasalnya, jenis kepiting tertentu misalnya soft shell crab tidak harus menunggu berukuran di atas 200 gram terlebih dahulu untuk bisa dipanen.

Begitu juga dengan keinginan pelaku usaha untuk diberi izin melakukan budidaya benih lobster, perdagangan karang hias yang terhenti karena penghentian pengeluaran health certificate, dan berbagai persoalan lainnya.

Lantas, bagaimana dengan eksekusi atau kebijakan mengatasi masalah itu? "Kita tidak akan terburu-buru, kita tidak mau gegabah dalam membuat keputusan," tandasnya.


Komentar Pembaca