Nilai Jual Prabowo Dinilai Ambruk ke Titik Terendah

Polhukam  SABTU, 09 NOVEMBER 2019 | 13:20 WIB

Nilai Jual Prabowo Dinilai Ambruk ke Titik Terendah

Prabowo Subianto

MoeslimChoice | Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr Ahmad Atang Msi, menyatakan nilai jual Prabowo Subianto untuk Pilpres 2024 kini berada pada titik terendah.

Kondisi ini disebabkan sikap Prabowo Subianto sendiri, yang hari ini sudah masuk dalam gerbong PDI Perjuangan.

“Itu tidak lebih dari perilaku politik bunglon,” kata Ahmad Atang di Kupang, Jumat (8/11/2019).

Dia mengemukakan hal itu berkaitan fenomena politik nasional akhir-akhir ini, yang mulai menunjukkan adanya berbagai rancangan dan strategi untuk Pilpres 2024, terutama yang berhubungan dengan posisi Prabowo.

Pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin belum berlangsung lama. Namun, perubahan konstelasi politik di level nasional berubah begitu cepat.

Beberapa politisi bahkan sudah mulai merancang pasangan untuk Pilpres 2024 kelak.

Kini, kalangan politisi telah mewacanakan mantan rival Jokowi di dua kali pilpres, Prabowo Subianto, berpasangan dengan Puan Maharani.

"Menurut saya, Prabowo yang hari ini sudah masuk dalam gerbong PDI Perjuangan tidak lebih dari perilaku politik bunglon. Di sini Prabowo memiliki cacat politik secara permanen, sehingga harga jual untuk Pilpres 2024 berada pada posisi terendah," katanya.

Mengenai politik Islam, dia mengatakan, setelah Prabowo Subianto masuk dalam gerbong PDI Perjuangan, maka peluang politik Islam lebih sulit jika figur yang didorong adalah Anies Baswedan.

“Karena itu, masuknya NasDem justru memperkuat dukungan terhadap Anies, yang bukan saja dari partai Islam modernis namun dari partai nasionalis seperti NasDem,” katanya.

NasDem akan memperlebar sayap politik dengan merangkul partai lain bergabung setelah pertemuan petinggi NasDem-PKS dan meninggalkan PDI Perjuangan dan Gerindra.

“Paling tidak, selain PKS, masih ada PAN dan Demokrat yang kemungkinan besar menjadi gerbong NasDem selanjutnya untuk mengusung Anies Baswedan,” katanya.

Selain itu, NasDem juga akan memperkuat dukungan non-partai seperti NU, yang secara psikologis ditinggalkan oleh PDIP dan Jokowi.

"NU tidak mendapatkan peran signifikan dalam pemerintahan Jokowi, dan ini akan menjadi pintu masuk bagi Nasdem untuk melakukan komunikasi politik,” katanya menjelaskan. [yhr]


Komentar Pembaca