Pidato Surya Paloh Saat Harlah NasDem, dari Sentilan Hingga "Tamparan"

Polhukam  SABTU, 09 NOVEMBER 2019 | 03:30 WIB

Pidato Surya Paloh Saat Harlah NasDem, dari Sentilan Hingga

Moeslimchoice | Pidato Ketua Umum NasDem, Surya Paloh dalam Kongres dan Harlah ke-8 sarat narasi yang menyimpan makna.

Salah satu narasi yang menyita perhatian adalah adanya partai yang mengaku pancasilais namun tak mengamalkan ajaran Pancasila. Ia juga menyinggung soal pentingnya merangkul teman.

Usai membuka Kongres, Surya Paloh menyebut bahwa pernyataannya dalam pidato itu sudah sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.

"Dalam kehidupan ini tidak semua sepakat, dan ini sudah menjadi hukum duniawi. Tidak semua niat baik kita dapat diterima, enggak semua persepsi bisa diterima," kata Surya Paloh di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (8/11).

Tak hanya itu, saat disinggung soal posisi NasDem dalam koalisi, ia menegaskan tetap berada di pemerintahan. Hal itu sekaligus menegaskan isu yang berkembang selama ini bahwa NasDem hendak membelot menjadi oposisi.

"Posisi NasDem seperti apa adanya dalam bagian koalisi pemerintahan sepenuhnya," tegasnya. Meski demikian, ia menegaskan partainya akan tetap kritis kepada kebijakan pemerintah meski masuk dalam koalisi di bawah kepemimpinan Jokowi-Maruf.

"Pemerintah butuh mana, yang ABS (asal bapak senang), complimentary, atau pengusung yang mengkritisi," ujarnya.

Surya Paloh juga mengajak para kader mengutamakan komitmen kesetiaan. Dia lantas menyindir partai di koalisi yang mengaku paling setia dalam mendampingi Jokowi. Dia tidak ingin ucapan itu sebatas janji yang selesai di mulut saja.

“Diperlukan komitmen kesetiaan yang mengikat, bukan hanya janji sembarang janji, bukan hanya ucapan lips service menyatakan aku lah yang paling setia mendampingi bapak presiden," sindir Paloh yang disambut tepuk tangan ribuan peserta kongres.

Dia mengingatkan, bahwa janji kesetiaan itu akan dibuktikan saat Jokowi mendapat ujian berat di kemudian hari. Surya tidak yakin semua partai yang mengaku paling setia bakal bertahan. “Jangan-jangan hanya tinggal Nasdem yang bersama presiden," imbuhnya yang lagi-lagi disambut gemuruh tepuk tangan.

Tak hanya sampai disitu, Surya juga menyindir sejumlah partai yang mengaku pancasilais, tapi di satu sisi tidak mengamalkan ajaran Pancasila dengan baik. Menurutnya, gembar-gembor Pancasila tidak cukup hanya diucapkan, tapi harus dibuktikan secara nyata.

“Eh buktikan saja. Rakyat butuh pembuktian partai mana yang paling mengamalkan nilai Pancasila,” ujarnya. Bagi Surya Paloh, partai yang masih membawa aroma perkelahian dalam berhubungan, maka itu bukan Pancasila. Untuk itu, kepada kader-kader Nasdem, Surya mengajak untuk rendah hati. Dia meminta kader untuk merangkul teman maupun lawan.

“Bersikaplah rendah hati. Rangkul teman, salami teman, tawarkan pikiran-pikiran bersama teman. Jangan musuhi teman. Itu baru mengamalkan nilai-nilai Pancasila,” tegasnya.

Surya sebelumnya sempat mengaku aneh saat pelukannya dengan Presiden PKS Sohibul Iman ditaksirkan ke mana-mana. Bahkan Jokowi sempat menyindir hal itu di HUT ke-55 Partai Golkar.

“Berkunjung ke kawan mengundang kecurigaan. Ini bangsa model apa seperti ini? Tingkat diskursus paling picisan menurut saya,” tegasnya. Menurutnya ada paradoks yang terjadi di negeri ini. Di satu sisi menggemborkan keinginan maju, tapi fakta menyebut sedang melangkah ke belakang.

“Kita bilang gotong-royong, tapi ada yang pentingkan diri sendiri dan ingin yang lain mati saja. Kalau begitu kita akan menjauhi Pancasila,” punkasnya.

Sejumlah manuver yang dilakukan elite Nasdem sempat menuai spekulasi partai yang berusia 8 tahun itu bakal hengkang dari koalisi. Teranyar, Surya Paloh bersama elite berkunjung ke DPP PKS.

Pertemuan itu sempat disindir Presiden Joko Widodo dalam HUT ke-55 Partai Golkar beberapa waktu lalu. Jokowi mengaku tidak pernah mendapat pelukan erat Surya Paloh seperti saat bos Media Group itu merangkul Presiden PKS Sohibul Iman.
 


Komentar Pembaca