Indef: Kita Apresiasi Protes Ekonom Asing, BPS Harus Berbenah

Ekonomi  JUMAT, 08 NOVEMBER 2019 | 07:25 WIB | Ilham Akbar

Indef: Kita Apresiasi Protes Ekonom Asing, BPS Harus Berbenah

MoesimChoice | Wakil Direktur Institut for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengapresiasi sikap protes ekonom asing Gareth Leather mengenai aktivitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dianggap tidak sesuai antara BPS dan dalam penelitiannya.

“Saya mengapresiasi dalam konteks protesnya dia,” ungkap Eko kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis, 7/11/19. Apa yang dilakukan Gareth dkk pernah dilakukan Indef sebelumnya, memprotes beberapa hal mengenai ekonomi Indonesia salah satunya perkembangan ritel dalam negeri.

“Ini kayaknya bukan segitu dan sebagainya, pertanyaan itu banyak sering kita hadirkan sebetulnya. Tahun lalu kita berdebat panjang dengan daya beli naik atau turun, itu juga ada yang bilang shifting, tapi begitu kita cari di data-data ekonomi digital data ritelnya enggak sebanding dengan yang masuk ke digital,” ungkapnya.

Eko menambahkan, apa yang dilakukan Gareth harus menjadi peringatan bagi BPS agar berani mengeluarkan data dan membagikannya kepada masyarakat. Tujuannya agar informasi yang dikeluarkan pemerintah dipercaya oleh publik.

“Jadi ini menurut saya BPS harus lebih terbuka, menurut saya bagaimana proses atau goverments tahapan-tahapan membuat atau merilis data ekonomi begitu,” paparnya.

“Kayak dulu saya mengapresiasi Kemenkeu sekarang APBN itu semakin gampang kita akses bentuk-bentuk infografisnya semakin baik artinya itu membuat publik semakin paham apalagi kemmaren ada isu yang DKI (kisruh APBD)jadi publik ini harus tahu tentang data publik,” tandasnya.

Gareth dari Lembaga Riset Capital Economics asal Inggris meragukan pertumbuhan PDB di Indonesia bisa stabil di angka lima persen sepanjang lima tahun terakhir. Puncaknya dia mempertanyakan angka pada pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2019 tersebut.

"Peneiliti kami yang khusus meneliti aktivitas Indonesia menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh pada kecepatan yang jauh lebih lemah," kata Gareth seperti dikutip dalam laman resmi Capital Economics, Selasa, 5/11/19.



Komentar Pembaca