Hidayat Nur Wahid Memotivasi Pelajar dan Pemuda Islam Asia Tenggara

Nasional  SELASA, 05 NOVEMBER 2019 | 07:38 WIB | Ilham Akbar

Hidayat Nur Wahid Memotivasi Pelajar dan Pemuda Islam Asia Tenggara

Wakil Ketua MPR di Kuala Lumpur, Malaysia | Foto: Ist

MoeslimChoice | Puluhan pelajar Islam di kawasan Asia Tenggara berkumpul dalam rangka sidang puncak pemimpin muda ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka tergabung dalam Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara (Pepiat) yang melakukan kongres mulai 1-4 November 2019, di Kuala Lumpur.

Anggotanya berasal dari organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam - Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO), Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM), Persatuan Pelajar Islam Kamboja (CAMSA), Persatuan Pelajar Islam Thailand (TMSA), Persatuan Pelajar Islam Filipina (FAMSA),  dan National University of Singapore Muslim Society.

Dalam acara penutupan kongres yang dilaksanakan di Kantor Angkatan Belia Malaysia (ABIM), Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyampaikan motivasi kepada kaum pelajar untuk memperkuat persatuan dan kerjasama, agar dapat berkontribusi membangkitkan kejayaan Umat dan kawasan Asia Tenggara.

“Saya berharap para pelajar untuk senantiasa meneladani akhlak Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, dengan mempelajari sejarah perjuangan beliau dan para sahabatnya, mrk yg sukses menghadirkan Islam yg Rahmatan lil ‘alamin. Kita perlu memperkuat Islam yang bersikap moderat (wasatiyah), toleran, berperadaban, dan memiliki jati diri yang kokoh sbg warga Asia Tenggara, serta unggul dalam berbagai bidang,” ujar Hidayat yang dikenal sebagai aktivis saat menjadi santri Pesantren Gontor atau mahasiswa Universitas Islam Madinah.

Selain itu, pelajar Islam harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu berkompetisi dalam beragam kebaikan. Kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual dibutuhkan untuk melahirkan pencerahan dan kemajuan bagi umat dan warga di Asia Tenggara.

Hidayat mengutip penggalan sejarah pahlawan Indonesia, ada sosok yang sangat layak diteladani, yaitu Panglima Besar Jenderal Sudirman. “Soedirman seorang santri dan guru yang memiliki pendirian teguh, tidak mau berkompromi dengan penjajah, berjuang unt Bangsanya. Ia senantiasa memegang tiga rahasia kenapa selalu lolos dari sergapan tentara Belanda. Yakni, senantiasa menjaga wuduk, shalat tepat waktu, dan senantiasa ikhlas,” papar Hidayat.

Untuk menangkal isu islamopobhia, termasuk stigma radikalisme dan terorisme dan intoleran, para pelajar diminta mampu menampilkan dan mempraktekkan Islam yang rahmatan lil alamin, cinta perdamaian dan mementingkan ukhuwwah baik Islamiyah maupun basyariyah.

“Para pelajar harus memegang prinsip-prinsip dakwah Rasulullah, dengan menampilkan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, memahami nilai-nilai sosiologis di negara/kawasan tempat kita berkiprah, serta penguatan dalam bidang ekonomi umat,” jelas Hidayat yang tercatat sebagai anggota Majelis Ta’sisi dalam Rabithah Alam Islami.

Pelajar Islam harus bisa bekerja sama dengan organisasi apapun, siapapun, latar belakang apapun asal memberi manfaat dan tidak melanggar hukum. Apalagi, dengan sesama organisasi dan komunitas Islam harusnya lebih kuat berinteraksi n dan bekerjasama.

Dalam acara kongres tersebut, hadir juga sebagai narasumber tokoh-tokoh Malaysia, antara lain Datuk Seri Anwar Ibrahim (anggota parlemen), Senator Ismail Yusop, dan Mustaffa Kamil Ayub, politisi senior. Mereka bernostalgia saat menjadi aktivis kampus dan memberikan arahan agar kaum muda siap menyongsong masa depan yang penuh peluang dan tantangan.


Komentar Pembaca