China Tahan Jurnalis Peliput Demo Hong Kong

Internasional  JUMAT, 25 OKTOBER 2019 | 17:05 WIB

China Tahan Jurnalis Peliput Demo Hong Kong

Ilustrasi

MoeslimChoice | China dilaporkan menahan seorang jurnalis warga lokal, Huang Xueqin, yang meliput aksi demonstrasi pro-demokrasi di Hong Kong.

Sejumlah sumber mengatakan kepada AFP bahwa China menahan Huang ketika jurnalis tersebut pulang setelah meliput unjuk rasa di Hong Kong.

Jurnalis yang juga aktivis itu bertolak ke Hong Kong pada musim panas lalu. Sejak saat itu, ia sudah menulis dua laporan mengenai demonstrasi yang membawa Hong Kong ke dalam salah satu krisis terparah tersebut.

Dalam salah satu esainya, Huang menulis bahwa rangkaian protes tersebut merupakan cara untuk "melawan tirani."

Ia juga menyebut "tirani mungkin saja merengkuh kuasa atas populasi, tapi tak bisa memenangi hati manusia."

Ketika Huang pulang, pihak berwenang di Kota Guangzhou menahannya. Mereka kemudian menyita dokumen-dokumen perjalanan Huang.

Setelah itu, Huang diminta untuk mengambil kembali dokumen-dokumennya pada 17 Oktober 2019.

Namun, ternyata, Huang malah ditahan atas tuduhan "membuat masalah dan memicu perkelahian."

Pusat detensi Guangzhou enggan menjawab pertanyaan AFP mengenai penahanan ini. Mereka malah menyuruh wartawan untuk menanyakan masalah ini ke kepolisian.

Huang sendiri seharusnya melanjutkan studinya di bidang hukum di Hong Kong University. Tanpa dokumen-dokumen perjalanannya, ia tak akan bisa berangkat.

Sampai saat ini, Hong Kong juga masih terus dirongrong aksi demonstrasi yang kerap berakhir ricuh.

Awalnya, para demonstran menuntut pencabutan RUU ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di luar Hong Kong, termasuk China.

Para demonstran tak terima karena sistem peradilan di China kerap bias, terutama jika terkait dengan Hong Kong selaku wilayah otonom yang masih di bawah kendali Beijing.

Saat pertama kali demonstrasi memanas, Carrie sebenarnya langsung mengumumkan bahwa pemerintah akan menangguhkan pembahasan RUU ekstradisi.

Namun, para demonstran tak puas. Mereka tetap menggelar aksi rutin untuk menuntut agar RUU ekstradisi tersebut benar-benar dicabut.

Carrie Lam sekali lagi tampil di hadapan publik untuk menyatakan bahwa RUU tersebut "sudah mati" tanpa menjelaskan lebih lanjut maksudnya.

Warga kian geram karena ketidakjelasan tersebut. Mereka pun mengajukan tuntutan lebih besar, yaitu agar Carrie Lam mundur dan pemisahan penuh Hong Kong dari China.

Terdesak, Carrie akhirnya mengumumkan bakal mencabut RUU ekstradisi tersebut. Namun, menurut demonstran, Carrie Lam terlambat karena kini tuntutan mereka sudah berkembang menjadi pelepasan diri dari Hong Kong. [yhr]


Komentar Pembaca