Kampanye Anti-Plastik di Kemah Santri

Daerah  KAMIS, 24 OKTOBER 2019 | 16:55 WIB

Kampanye Anti-Plastik di Kemah Santri

Kemah Santri di Tempat Wisata Hutan Pinus Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur

MoeslimChoice | Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar kemah santri, Minggu (20/10/2019) lalu.

Menariknya, selama pelaksanaan kemah yang diikuti oleh 999 santri itu, peserta tidak boleh dibesuk siapa pun.

Suasana tempat wisata hutan pinus di Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, itu pun menjadi tak seperti biasa.

Ratusan santri berkumpul di lapangan hutan pinus. Mereka sedang mengikuti kemah santri. Puluhan tenda berjajar rapi di sela-sela tanaman pinus.

Hari sudah mulai gelap. Deretan lampu bersinar menerangi setiap sudut bumi perkemahan. Sayup-sayup terdengar suara pembacaan nadzom aqidatul awam. Suaranya sangat kompak dan serempak.

Suara tersebut berasal dari lapangan yang berada di bumi perkemahan Wisata Rumah Pohon. Lapangan itu seukuran separo dari lapangan sepak bola.

Namun demikian, lapangan itu mampu memuat hampir seribu orang santri putra. Ketika senja sudah tenggelam, seruan azan Magrib berkumandang. Ratusan santri yang sudah mengenakan sarung, kopiah hitam, dan baju koko langsung berdiri dengan serempak.

Dengan saksama dan tertib, mereka mengikuti gerakan imam salat. Selesai salat, para santri tetap berada di tempat dan mendengarkan materi yang disampaikan narasumber.

Tidak tanggung-tanggung, narasumber yang memberikan materi di acara tersebut adalah salah satu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Endin Sofihara.

Kemah santri malam itu diikuti para santri milenial. Dalam acara itu juga diberikan materi santri di era disruption yang disampaikan oleh Direktur TV 9, Hakim Jayli.

”Sengaja kami hadirkan narasumber yang mumpuni, profesional, dan ahli di bidangnya untuk membekali para santri dalam menghadapi tantangan zaman,” ungkap Ketua PCNU Banyuwangi, H Mohamad Ali Makki Zaini.

Gus Makki menyebut, santri saat ini harus optimistis dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Sudah bukan zamannya santri minder. Sebab, santri telah terbukti mampu berbuat lebih untuk bangsa dan negara.

”Dari santri telah lahir seorang presiden, KH Abdurrahman Wahid. Minggu lalu (20/10) telah dilantik seorang wakil presiden dari santri, KH. Ma’ruf Amin,” jelas Gus Makki.

Keberadaan UU Pesantren yang baru disahkan, imbuh Gus Makki, semakin meneguhkan eksistensi pendidikan pesantren dan santri.

Santri tidak hanya bisa mengaji, tahlilan, dan istightosah. Santri di era milenial juga harus paham teknologi, gadget, dan mengikuti perkembangan kemajuan zaman.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari satu malam itu, para santri juga mendapatkan pembekalan tentang wawasan kebangsaan dan cinta tanah air.

Selama pelaksanaan kegiatan, peserta kemah santri tidak boleh dijenguk. Konsumsi para santri sudah terjamin oleh panitia.

”Konsumsi nasi bungkus disumbang oleh warga NU dari beberapa desa di Kecamatan Songgon, Kalibaru, dan Purwoharjo. Semuanya menggunakan bungkus daun pisang,” katanya.

Air minum selama pelaksanaan kemah santri juga menggunakan air yang ditampung di galon.

Peserta pun mengikuti kemah dengan penuh suka cita. Mereka menyantap nasi bungkus bersama-sama. Sesudahnya juga meminum air dari galon.

”PCNU Banyuwangi sedang mengampanyekan anti-sampah plastik kepada para santri,” terang pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Hidayah Parijatah Kulon ini.

Tidak hanya dibekali kepribadian dan karakter kebangsaan, santri juga diajak berolahraga dengan berjalan kaki menjelajahi hutan pinus sembari mengumpulkan sampah.

Selanjutnya, mereka diajak menyusuri aliran Sungai Badeng sepanjang satu kilometer sembari membersihkan sampah.

”Kami berharap, sepulang acara ini para santri dapat mengamalkan dan menerapkan ilmu yang diperoleh,” pesan Gus Makki.

Dalam kesempatan tersebut, juga diselenggarakan haul akbar sesepuh NU Banyuwangi. Para keturunan sesepuh pengurus NU Banyuwangi dari masa ke masa juga diundang.

Mereka diberikan penghargaan atas jasanya sebagai pengurus NU, mulai dari jajaran Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah. Penghargaan tersebut diterima oleh anak ataupun cucu dari para sesepuh NU tersebut.

”Ini sebagai bagian dari upaya NU untuk memperkenalkan para pendahulu kepada generasi muda,” tutur Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi, KH Zainullah Marwan. [yhr]


Komentar Pembaca