Kasus Bowo Sidik di Balik Lambaian Hampa Tetty Paruntu di Istana

Hukum  RABU, 23 OKTOBER 2019 | 10:49 WIB

Kasus Bowo Sidik di Balik Lambaian Hampa Tetty Paruntu di Istana

Tetty Paruntu

MoeslimChoice | Selama dua hari, Senin-Selasa (21-22/10/2019), Presiden Joko Widodo alias Jokowi memanggil orang-orang yang akan duduk dalam Kabinet Indonesia Maju.

Hal yang menarik dalam pemanggilan itu adalah batalnya Bupati Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Christiany Eugenia Paruntu (Teety Paruntu) sebagai calon menteri.

Padahal, pada Senin pagi, Tetty menjadi orang kedua setelah Mahfud MD yang datang ke Istana.

Mengenakan kemeja putih khas baju kerja Jokowi, Tetty datang sembari melempar senyum dan melambaikan tangannya kepada wartawan.

Namun, setelah masuk kedalam Istana, Tetty keluar lewat pintu berbeda, sehingga tak diketahui oleh wartawan.

Pada Senin (21/10/2019) siang, Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden, Bey Mahmudin, menyatakan, Tetty bukanlah calon menteri Jokowi.

Bey Mahmudin menyebut, Tetty datang ke Istana karena diusulkan Partai Golkar sebagai menteri.

Lantas, bagaimana cerita sesungguhnya Tetty batal menjadi menteri Jokowi?

Selasa (22/10/2019), Tetty menjelaskan duduk perkara dirinya diundang ke Istana hingga kemudian batal bertemu Jokowi.

Menurut Tetty, ia datang ke Istana karena diundang secara langsung oleh Menteri Sekretaris Negara 2014-2019, Pratikno. Panggilan itu dilakukan pada Minggu (20/10/2019), pukul 22.27 WIB, via WhatsApp.

Maka, Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Utara itu pun tiba di Istana pukul 10.00 WIB.

Sesuai petunjuk Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Tetty diminta berkordinasi dengan Kepala Biro Protokol, Pers, dan Media, Sekretariat Presiden, Bey Triadi Machmudin, untuk mendapat akses masuk Istana.

Hari itu, agenda Presiden menerima dan berkenalan dengan calon anggota kabinetnya. Tak ayal, kehadiran Tetty Paruntu di Istana pun mendapat perhatian khusus dari para wartawan yang bersiaga sejak pagi.

Tetty adalah satu-satunya perempuan di antara tokoh-tokoh yang menghadap Presiden Jokowi pada hari Senin itu.

 

Praktikno Klarifikasi Tetty

Setelah Tetty menunggu di ruang tamu sekitar satu jam lebih, pukul 11.30 WIB protokol Istana menemuinya.

Dia terlebih dahulu diminta mengisi formulir dan menandarangani “Pakta Integritas” yang berisi beberapa hal.

“Pertama, tidak tersangkut kasus hukum. Kedua, kewarganegaraannya tidak berstatus ganda (dwikewarganegaraan). Itu antara lain. Semua pertanyaannya saya jawab. Dan, tandatangani,” ungkap Tetty Paruntu dalam wawancara khusus dengan Ilham Bintang, Senin (21/10/2019) malam.

Setelah itu, Tetty pindah tempat, menunggu di lounge Istana. Tidak berapa lama, Mensesneg Pratikno menemuinya.

Ia memberitahu Tetty bahwa dirinya telah menerima pesan singkat (SMS). Praktikno meminta klarifikasi Tetty pada dua kasus.

Pertama, mengenai keterlibatan Tetty dalam kasus mantan anggota DPR dari Partai Golkar, Bowo Sidik, yang sudah memasuki tahap persidangan di pengadilan Tipikor.

Kasus kedua, mengenai mutasi Aparatur Sipil Negara (ASN) di kantornya yang mengakibatkan Sekdanya diselidiki pihak berwajib.

Tetty pun mengklarifikasi langsung di depan Pak Pratikno. Yang pertama, dia bantah terlibat dalam kasus Bowo Sidik. Juga menyangkal pernah memberikan uang kepada Bowo Sidik.

“Saya memang tidak melakukan itu,“ ujar Tetty.

Menurut keterangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (21/10/2019) siang, Tetty pernah diperiksa sebagai saksi dalam proses penyidikan dan persidangan Bowo Sidik. Hal itu disampaikan juru bicara KPK, Febri Diansyah, Senin (21/10/2019).

KPK memeriksa Tetty dalam proses penyidikan kasus suap Bowo Sidik pada 26 Juni 2019.

Dalam dakwaan KPK, Bowo disebut menerima suap sebesar Rp 2,6 miliar dari Tetty Paruntu atas kerja sama pengangkutan pupuk dan gratifikasi senilai Rp 7,7 miliar terkait jabatannya sebagai pimpinan Komisi VI DPR.

“Benar, saya pernah diperiksa sebagai saksi. Kesaksian membantah tuduhan memberi uang kepada Bowo. Dalam persidangan Bowo juga tidak menyatakan saya memberi uang. Clear. Selesai,” kata mantan pengusaha alutsista ini.

“Saya juga membantah soal kasus mutasi ASN, yang ditanyakan Pak Pratikno. Kasus itu sama sekali tidak ada. Saya juga heran, kok isu itu muncul,“ jelas Tetty.

 

Diminta Langsung Pratikno

Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, pun datang. Tapi, Tetty membantah Airlangga datang untuk menyuruhnya pulang.

Justru Airlangga membantu Tetty Paruntu menjelaskan mengenai tuduhan itu. Setelah itu Tetty pun pulang.

Ketika pulang, Tetty tidak melewati jalan yang sama dengan saat datang ke Istana. Dia pulang lewat samping.

Ini pula yang membuat wartawan makin menyoroti kehadirannya. Ia sedih mengikuti pemberitaan media yang berbagai versi.

“Saya itu diminta datang oleh Pak Pratikno. Ini masih saya simpan pesannya di WhatsApp. Pesan beliau masuk pukul 22:27 WIB. Emangnya saya gila datang ke Istana tanpa diundang,” cerita Tetty.

 

Usulan Resmi Partai Golkar

Menurut Tetty Paruntu, dia diusulkan resmi oleh Partai Golkar untuk menjadi anggota kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin.

Yang mengusulkan namanya kepada Presiden Jokowi adalah Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto.

“Saya diberitahu Pak Ketum di Kantor Golkar tiga hari lalu, hari Jumat. Pak Airlangga menyampaikan bahwa Tetty termasuk dari empat nama dari Partai Golkar yang diusulkan menjadi anggota kabinet," ujarnya.

Tiga usulan dari Partai Golkar untuk anggota Kabinet Jokowi adalah Zainuddin Amali, Agus Gumiwang, dan Airlangga Hartarto sendiri.

"Saya tidak pernah minta-minta untuk diutus Partai Golkar. Catat itu Bang,“ sambung Tetty.

Tetty mengaku tidak kecewa oleh kejadian yang tidak mengenakkan dirinya Senin siang itu. Baginya, apa yang terbaik buat Presiden Jokowi akan didukungnya.

“Saya kan bukan orang yang tidak punya pekerjaan,” ujar Tetty yang sebelumnya tergabung dalam tim sukses Gojo, Golkar-Jokowi. [yhr]


Komentar Pembaca