Saat Jumatan di Musirawas, Begini Kesan Herman Deru

Tentang Sumsel  JUMAT, 18 OKTOBER 2019 | 16:10 WIB | Rahmad Romli

Saat Jumatan di Musirawas, Begini Kesan Herman Deru

MOESLIMCHOICE. Usai menghadiri perayaan Ulang Tahun Kota Lubuk Linggau, Gubernur Herman Deru melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Musi Rawas Utara untuk meletakan batu pertama tanda dimulainya pembangunan Markas Polres (Mapolres) Muratara pada Jumat, (18/10) pagi.

Selanjutnya meneruskan lawatannya di Kabupaten Musirawas untuk sholat jumat berjemaah di Masjid  Nurussa'adah Desa Muara Kati Baru Kecamatan Tiang Pumpung Kepungut Kabupaten Musi Rawas, Jumat (18/10) siang.

Herman Deru menegaskan,  kegiatan safari jumat yang dilakoninya  bukan hal yang baru melainkan telah  menjadi agenda rutinnya sejak menjabat sebagai Bupati OKU Timur selama dua periode yakni dari tahun 2005 hingga 2015.

Banyak hal yang didapat dari Safari Jumat tersebut, maka dirinya melanjutkan kegiatan tersebut sebagai agenda rutin ketika menjabat sebagai Gubernur Sumsel, bukan saja mendatangi masjid yang ada di perkotaan melainkan juga safari ke masjid ditengah perkampungan padat termasuk ke pelosok pedesaan.

“Ada banyak manfaat yang saya dapatka, selain menjalin silaturahmi dengan jemaah juga jadi ajang mendapatkan masukan terkait dengan kebutuhan masyarakat,” tegasnya mengawali sambutan usai mengelar sholat jumat berjemaah.

Herman Deru dikesempatan ini juga mengucapkan terimakasih atas kerja para tokoh agama dan tokoh masyarakat  desa setempat yang dinilainya telah mampu melakukan pembinaan umat dengan baik, dibuktikan dengan terjaganya keharmoniskan dalam beragama dan  masyarakat diwilayah sekitar.

"Saya  melihat  desa ini  desa yang   agamis, masyarakatnya  terbuka dengan pendatang. Jaga persatuan dan kesatuan, termasuk juga keamanan tidak terganggu,” imbuhnya.

Gubernur juga memberikan apresiasi atas didirikannya rumah Tahfidz di Masjid Nurussa'adah. Karena menurut dia  program satu desa satu rumah trahfidz merupakan program Pemprov Sumsel dalam mencetak generasi yang faham agama mulai dari  usia dini.

Dia juga meminta warga setempat untuk tetap mempertahankan kearifan lokal di tengah derasnya gempuran budaya luar  yang saat ini nyaris sulit dibendung karena telah  terbukanya semua akses informasi  yang sulit  dihindari.

“Saat ini kita berada dizaman serba canggih. Budaya luar bisa masuk  dan mengancam budaya  warisan nenek moyang  kita. Untuk itu  mari kita bersama-sama mempertahankan kekayaan  budaya dan adat istiadat yang telah lama kita miliki selama ini. Jangan samapai hilang tergerus oleh kemajuan zaman,” tandas Herman Deru. [rhd]


Komentar Pembaca