Aksi Mahasiswa Terblokir di Patung Kuda

Polhukam  JUMAT, 18 OKTOBER 2019 | 10:05 WIB

Aksi Mahasiswa Terblokir di Patung Kuda

Polwan versus Mahasiswi

MoeslimChoice | Gerakan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), yang kembali menggelar unjuk rasa pada Kamis (17/10/2019), terblokir di sekitar Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Blokade polisi membuat mereka tak sanggup mencapai target titik aksi, yaitu di Istana Merdeka.

Berikut redaksi merangkum sejumlah hal terkait aksi unjuk rasa kali ini:

 

Tetap Dikawal Polisi

Polda Metro Jaya sendiri telah melarang adanya unjuk rasa mulai Selasa (15/10/2019) sampai Minggu (20/10/2019).

Larangan ini berupa diskresi bahwa kepolisian tidak akan menerbitkan izin unjuk rasa.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Gatot Eddy Pramono, mengklaim, larangan tersebut agar keadaan kondusif jelang pelantikan Presiden-Wakil Presiden RI terpilih 20 Oktober 2019.

Akan tetapi, aksi BEM SI tetap terlaksana dan dikawal polisi. Pukul 13.45 WIB, rombongan pertama mulai berunjuk rasa dekat Patung Kuda Arjuna Wiwaha.

"Mereka tidak memberikan izin tertulis, namun melalui broadcast di media sosial. Dari imbauan, memang tidak boleh diizinkan. Namun, karena memang sudah terjadi, kita tetap sebagai anggota kepolisian memberikan pendampingan, jangan sampai kegiatan ini mengganggu kegiatan masyarakat yang lain," kata Kapolsek Gambir, Kompol Wiraga, kepada wartawan, Kamis (17/10/2019) siang.

Jumlah peserta tak sesuai target BEM SI. Awalnya, mereka mengklaim akan mendatangkan ribuan mahasiswa dalam aksi itu. Namun, massa yang datang tidak sebanyak yang disebutkan.

Koordinator aksi, Muhammad Abdul Basit, menyebut, keadaan ini dipicu oleh penggembosan dari berbagai sisi yang dilakukan sejumlah pihak.

"Ada yang ditahan birokrat, ada yang lain lagi, pelarangan-pelarangan aksi itu ada. Itu kekecewaan kita, khususnya pada Kemristekdikti yang sudah mengimbau rektor untuk mengeluarkan larangan aksi kepada mahasiswa," ujar pemuda yang akrab disapa Abbas itu kepada wartawan, selepas aksi, Kamis (17/10/2019) sore.

"Larangan berupa tulisan, ada yang berupa edaran dari pihak kampus, khususnya dari tanggal 15 (Oktober) sampai 20 (Oktober)," imbuhnya.

 

Desak Perppu KPK

Aksi mahasiswa kali ini berfokus pada satu agenda, yakni mendesak Presiden RI Joko Widodo segera menerbitkan Perppu untuk membatalkan UU KPK hasil revisi yang berlaku sejak Kamis (17/10/2019), tepat 30 hari setelah disahkan dalam paripurna DPR.

UU KPK hasil revisi memang menuai kecaman publik karena berpeluang mengamputasi berbagai kewenangan KPK dalam memberantas korupsi.

"Makanya teman-teman BEM SI Jabodetabek dan Banten hadir di sini mendesak Presiden menerbitkan Perppu. Kenapa Perppu harus terbit, karena hanya ini opsi yang paling memungkinkan dilakukan," kata orator dari atas mobil komando.

"Perppu itu adalah jalan keluar terbaik. Saya berpikir, justru (Perppu) adalah buah manis untuk masyarakat. Kalau kemarin ada yang mengatakan, ini (Perppu) adalah buah simalakama, itu tidak benar. Justru ini adalah buah manis dari Presiden pada periode jilid keduanya," imbuhnya.

 

Polwan versus Mahasiswi

Ada yang berbeda dalam unjuk rasa mahasiswa ini kali. Kepolisian mengerahkan polisi wanita sebagai garda terdepan menghadapi demonstran.

Merespons keadaan ini, para peserta aksi “mengirim” mahasiswi sebagai garda terdepan. Keduanya pun saling berhadapan.

Kapolsek Gambir, Kompol Wiraga, mengklaim, langkah ini untuk membuat suasana aksi lebih "dingin". Ada sekitar 100 personel Polwan yang dikerahkan.

"Memang kita mengedepankan persuasi, jadi terkesan polisi tidak sangar atau antimahasiswa, soft. Betul (untuk mendinginkan suasana), karena memang kita tidak ada keinginan berbenturan dengan mereka," kata Wiraga.

"Kalau yang laki-laki kan kelihatannya sangar, cemberut. Kalau ini kan soft. Dan kebetulan adik-adik mahasiswa yang melaksanakan kegiatan komunikasinya juga bagus," ia menambahkan.

 

Hanya 2,5 Jam

Aksi mahasiswa bubar secara kondusif pukul 16.15 WIB atau 2,5 jam sejak rombongan pertama menginjakkan kaki di sekitar Patung Kuda. Tidak ada bentrok sama sekali.

Polwan malah sempat menerima “oleh-oleh” dari mahasiswa berupa bentangan spanduk bergambar tikus berdasi yang tengah menginjak logo KPK.

"Terima, Bu. Ini dari mahasiswa!" seru seorang mahasiswi.

"Ini bukan barang haram, Bu!" seru lainnya.

"Ini oleh-oleh dari kami mahasiswa," seru orator dari atas mobil komando.

Setelah "seremoni" itu, para mahasiswa undur diri. Sementara itu, polisi mengucapkan terima kasih kepada para mahasiswa yang telah unjuk rasa secara tertib dan sesuai kesepakatan awal. [yhr]


Komentar Pembaca
Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Doa Kesembuhan Dari Virus Corona

Rabu, 20 Mei 2020 | 21:05

Bubarkan Fpi

Bubarkan Fpi

Ahad, 03 Mei 2020 | 19:55

Perahu KN 3 SAUDARA Terhempas Ombak, 1 Orang Nelayan MD