Ditolak UGM, UAS Tenang: Kalo Saya Marah, Umat Meledak!

Pendidikan  SELASA, 15 OKTOBER 2019 | 12:47 WIB

Ditolak UGM, UAS Tenang: Kalo Saya Marah, Umat Meledak!

Ustadz Abdul Somad

MoeslimChoice | Penceramah Ustadz Abdul Somad (UAS) menuturkan alasannya tak emosi atau marah terkait pembatalan kuliah umum yang sebelumnya direncanakan digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Diketahui, UGM membatalkan kuliah umum yang akan diisi oleh UAS di Ruang Utama Masjid Kampus UGM pada Sabtu (12/10/2019) lalu.

Saat itu, UAS direncanakan menjadi pengisi materi kuliah umum bertajuk Integrasi Islam dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK): Pondasi Kemajuan Indonesia.

Dikutip redaksi dari wawancara eksklusif salah satu stasiun televisi swasta pada Senin (14/10/2019), UAS memilih untuk tidak marah atas penolakan UGM padanya.

Ia berkata, apabila dirinya marah, nantinya umat muslim bisa marah berkali lipat.

"Kalau kemudian kita marah-marah, ngamuk-ngamuk, masalah tak selesai. Kalau saya marah sekali, umat akan marah tiga kali. Sekali hentakan, gelombangnya luar biasa," ujar UAS.

Ia pun menuturkan untuk menyerahkan seluruhnya kepada Allah.

"Oleh sebab itu, maka kita serahkan kepada Allah subhanallahu wata'ala. Tapi tetap ada usaha, tetap ada ikhtiar," katanya.

Mengenai para panitia acara di UGM, UAS berharap tak ada kekecewaan yang mendalam atas ketidakhadirannya.

"Mudah-mudahan adik-adik yang membuat program itu tetap semangat, jangan sampai dia down,” katanya.

"Kalau dia down 'Ah saya sudah tobat, saya sudah berhenti pacaran, ustaz begini (tak jadi datang ke UGM), mabuk lagi', ah kacau kita," ujarnya tertawa.

Penceramah yang tengah mengenyam bangku kuliah S3 di Sudan ini pun berseloroh mengenai dosa yang ditanggungnya.

"Tapi kalau mereka balik nakal lagi, saya mungkin dapat dosanya 5 persen aja, yang 85-nya yang batalin itu," katanya, tertawa.

Sebelumnya, UAS menanggapi santai terkait kuliah umumnya ditolak oleh UGM. UAS mengatakan bahwa tausiyah tak mengejar target layaknya artis di dunia hiburan.

"Pertama bahwa saya menyampaikan tausiyah itu kan bukan seperti artis yang kejar target. Jadi saya diundang ya saya datang," ujar UAS.

Jika ada yang membatalkan acara, ia memilih akan menggantikan kehadirannya di tempat lain yang menjadi cadangan.

"Kalau kebetulan dibatalkan, ya saya ke tempat lain yang selalu saya katakan 'Nanti ya kalau ini batal'," ungkapnya.

Ia berpikir bahwa tempat tidaklah penting saat ada media seperti televisi (TV) dan sebagainya.

Kuliahnya yang berganti di UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta pun dirasanya cukup.

"Jadi, setelah kita punya alat komunikasi, multimedia TV, jadi saya pikir tempat itu tidak terlalu penting. […] Jadi saya pikir karena tausiyah akhirnya di UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta, toh nanti kawan-kawan yang di UGM akan menonton. […] Mungkin ingin silaturahim, ingin ketemu, kalau di mana ya di masjid kita," katanya.

UAS lantas ditanya tanggapan terkait sejumlah penolakan terhadap dirinya.

"Publik kan melihatnya kan diterpa lagi nih Ustaz. Ada lagi penghadangan dan segala macam, tapi ustaz lihatnya sudah lebih santai atau bagaimana, terlihat dari wajah ustaz ya atau bagaimana?" ujar presenter.

Menurut UAS, hal ini telah terjadi beberapa kali dan terulang kembali. Ia mengingat di mana pernah tertahan di bandara, hingga acara dengan anak-anak autis di Kudus, Jawa Tengah juga mendapat penolakan.

"Saya kira dari dulu juga begitu ketika kasus dua jam di airport nongkrong kemudian satu jam di Timor Leste pernah. […] Kemudian di beberapa daerah kemarin terakhir di Kudus. Saya tetap datang karena niatnya penggalangan dana untuk anak-anak autis. Jadi waktu batal kita sampaikan saja uang yang ada, peletakan batu pertama," sebutnya.

Ia mengaku tak khawatir dirinya, akan tetapi anak-anak yang telah berharap dari acara tersebut.

"Yang saya khawatirkan bukan saya. 120 anak autis yang tidak berdosa yang saya takutkan, yang saya cemaskan yang saya khawatirkan. [...] 120 anak ini berdoa jadi yang menghadang itu kalau bisa datanglah ke Pesantren Al-Achsaniyyah. Temui anak autis itu cium tangannya. Mudah-mudahan Allah mengampunkan," sebutnya.

 

Tanggapan Rektor UGM

Sementara itu, di tempat terpisah, Rektor UGM, Panut Mulyono, turut diminta klarifikasi atas pembatalan kuliah UAS di UGM.

Ia menuturkan, penolakan tersebut berasal dari adanya pro dan kontra terhadap sosok UAS.

"Sebetulnya kemarin itu kan, salah satu pembicara itu menimbulkan pro dan kontra. Begitu kan?" ujar rektor UGM tersebut, Senin (14/10/2019). "Nah saya sebagai pimpinan, okelah kita mau ngaji, mau berbicara tentang Islam dan keilmuan, itu fine, tapi lalu ketika datang dari pembicara itu ada pro dan kontra lalu suara itu banyak sekali, ya saya dibatalkan saja."

Ia menuturkan, sebagai pengganti atas batalnya seminar UAS, UGM akan mengadakan forum lainnya.

"Tapi pada saatnya nanti akan ada forum yang lebih baik, yang lebih merepresentasikan dari masyarakat akademik untuk pembahasan hal itu," sebut rektor UGM. "Dan kita tidak membatasi siapa pun bicara."

Ia menegaskan, pembatalan itu bukan karena masalah tema yang diusung UAS.

"Bukan sama sekali (masalah tema)," katanya. "Bukan jadi kontra, tapi pembicaranya yang oleh masyarakat itu ada yang dinilai sesuatu sehingga setuju dengan pembicara itu, ada yang tidak setuju dengan pembicara itu."

Saat ditanya penolakan atas kehadiran UAS, Rektor UGM menuturkan dirinya tidak mengkalkulasi hal itu.

"Saya tidak mengkalkulasi masing-masing ya, tapi banyak yang datang ke WA, telepon, pro dan kontra banyak. Jadi itu alasan bagi kami untuk meminta takmir untuk membatalkan acara," ujarnya. [yhr]


Komentar Pembaca