Kasus Gizi Buruk Masih Jerat Indonesia

Kesehatan  SENIN, 14 OKTOBER 2019 | 11:50 WIB

Kasus Gizi Buruk Masih Jerat Indonesia

Ilustrasi

MoeslimChoice | Kasus gizi buruk, yang kerap diindikasikan sebagai cermin negeri terbelakang, masih juga menjadi persoalan yang menjerat Indonesia, hingga saat ini.

Salah satu temuan kasus gizi buruk muncul di Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mengaku kerap kesulitan dalam menangani penyakit gizi buruk. Pasalnya, kasus gizi buruk ini biasanya diikuti dengan penyakit lain.

Kepala Dinkes Kabupaten Serang, Sri Nurhayati, mengatakan, dalam menangani kasus gizi buruk pihaknya memang mengalami dilema.

Sebab, beberapa kasus gizi buruk yang ditangani dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan pengelolaan gizi, tidak melahirkan perubahan. Biasanya, kasus gizi buruk seperti ini disertai penyakit penyerta, antara lain hidrosefalus.

"Ada 136 kasus (gizi buruk) di Kabupaten Serang," ujarnya, Minggu (13/10/2019).

Meski begitu, lanjut Sri, semua kasus gizi buruk dan juga hidrosefalus yang ada sudah ditangani. Namun, tetap dengan segala keterbatasan.

"Kalau dioperasi (hidrosefalus) harus ada pertimbangan. Kan tidak hanya hidrosefalus saja, biasanya gizi buruk, ada TBC, dan itu harus disembuhkan dulu dan biasanya sudah kronis," katanya.

Sekalipun harus operasi, kata dia, harus ada indikasi lebih dulu. Infeksi harus dilenyapkan dulu, sebab saat operasi pembuluh darah akan terbuka semua.

"Jadi kalau tidak diatasi, infeksi menyebar dan fatal. Seperti (kasus hidrosefalus) di Jawilan, itu sudah ditangani maksimal dengan segala cara. Walau pesimis, tetap harus diupayakan. Walau kita tahu prediksinya seperti itu (sulit disembuhkan), tetapi harus diupayakan," ucapnya.

 

Nasib Raehan

Sementara itu, Raehan Aldiansaputra (8), bocah asal Kampung Usulan, Desa Pasir Buyut, Kecamatan Jawilan, Serang, diketahui mengalami gizi buruk sekaligus Hidrosefalus.

Buah hati pasangan suami-istri Warsah dan Tantowi ini sudah divonis menderita penyakit itu sejak usia 4 bulan.

Tubuhnya semakin hari kian mengering. Benjolan di kepalanya pun terus membesar. Anak keenam dari 7 bersaudara tersebut tak bisa beraktivitas normal seperti anak lainnya.

Sehari-hari, Raehan tak bisa lepas dari pangkuan sang ibu, Warsah. Akibatnya, sang ibu pun tak bisa bekerja seperti biasanya.

Warsah mengatakan, baru mengetahui anaknya menderita hidrosefalus dan gizi buruk sejak usia 4 bulan. Dirinya pun kemudian mencoba membawanya ke Puskesmas dan ke RSUD Serang.

"Sudah lengkap pemeriksaan awal. Sudah di-rontgen," ujarnya.

Ia mengatakan, hingga umur enam tahun, tubuh Raehan semakin kurus. Kepalanya pun semakin membesar, bahkan saat ini lingkar kepalanya sudah 60 centimeter.

"Terakhir periksa lingkar kepala waktu Maret lalu. Dia, kalau makan, biasanya paling jajan sama nasi," ucapnya.

Pihak Puskesmas pun biasanya memberikan makanan tambahan, vitamin dan susu, untuk buah hatinya tersebut. Namun demikian, kondisi anaknya masih belum sembuh juga.

"Kalau sudah habis katanya (puskesmas) boleh ambil lagi, dia positif gizi buruk sama hidrosepalus," katanya.

Dirinya berharap agar anaknya bisa mendapatkan perawatan lebih baik. Namun dirinya terbentur kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan.

"Mudah-mudahan bisa cepat sembuh, dan ada donatur," ucapnya kepada wartawan. [yhr]


Komentar Pembaca
Indonesia Akan Terapkan Hotel Syariah

Indonesia Akan Terapkan Hotel Syariah

Kamis, 21 November 2019 | 20:37

Selamat Jalan Pak Bahtiar Effendy

Selamat Jalan Pak Bahtiar Effendy

Kamis, 21 November 2019 | 15:35

Bunga untuk Veronica Tan

Bunga untuk Veronica Tan

Kamis, 21 November 2019 | 17:00