Wasekjen PKB Tidak Bermaksud Menjelekkan Kemenag

Polhukam  MINGGU, 21 JULI 2019 | 10:24 WIB

Wasekjen PKB Tidak Bermaksud Menjelekkan Kemenag

Foto istimewa

MoeslimChoice | Wakil Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Maman Imanulhaq, mengklarifikasi pemberitaan tentang kritiknya terhadap Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin.

MC Award 2

Dalam diskusi Polemik MNC Trijaya, yang disiarkan live pada Sabtu pagi (20/7/2019), Maman sempat menyebut Menteri Lukman gagal dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai menteri. 

"Gagal, ya gagal, bukan hanya kinerjanya. Datang deh ke Lapangan Banteng (Kantor Kemenag) tidak pernah ada sebuah kementerian yang parkirnya paling jelek kecuali Kemenag. Parkirnya saja jelek, apalagi menterinya," ucap Maman ketika mendapat giliran bicara sebagai narasumber saat itu.

Beberapa waktu lalu, Maman memberikan klarifikasi atas pemberitaan yang mengutip pernyataannya itu. Maman mengaku tidak bermaksud menjelek-jelekkan lembaga Kementerian Agama. Dia hanya menyoroti lemahnya penegakan reformasi birokrasi di Kemenag akibat sistem yang tak berjalan.

"Sejatinya ingin menyatakan bahwa sekalipun seorang menteri memiliki integritas, dedikasi dan sikap kenegarawanan seperti Menteri Agama Lukman Syaifuddin, kalau sistem birokrasinya tidak berjalan, niscaya reformasinya akan gagal," terang Maman mengklarifikasi. 

Mengenai kalimatnya yang menyinggung lahan parkir Kemenag, disebutnya cuma kiasan untuk menunjukkan bahwa perbaikan birokrasi akan menentukan perbaikan lingkungan sekitarnya. 

"Sekalipun menterinya bagus, kalau birokrasi jelek maka parkirannya pun bisa jelek," tukas Maman.

Menurutnya, inti dari kritiknya itu dalam konteks pentingnya reformasi birokrasi di semua lembaga pemerintahan tanpa kecuali. 

"Sehebat apapun menterinya, kalau sistem reformasi birokrasi tidak dibangun akan gagal seperti kasus Menteri Lukman di Kementerian Agama,” terang Maman. 

Disebutkan Maman, kegagalan Lukman juga terkait merebaknya gerakan intoleransi dan radikalisme hingga membuat gesekan sosial berpotensi melebar.

Lebih lanjut ia menambahkan, birokrasi yang selama ini hanya jadi representasi sebuah kekuasaan yang hegemonik, tidak melayani, merasa paling pintar, memarjinalkan peran masyarakat dan cenderung korup, harus direformasi total. 

"Perbaikan negara tidak cukup hanya mengandalkan sosok yang baik tanpa disertai tindakan perbaikan reformasi. Mengkritik Kementrian Agama itu sebagai bagian usaha menyampaikan persoalan yang objektif. Bukan menjelek-jelekkan Menteri Agama," imbuh Maman.


Komentar Pembaca