Teluk Persia di Ambang Perang, AS Ancang-ancang Serbu Iran

Internasional  MINGGU, 19 MEI 2019 | 05:55 WIB | Warni Arwindi

Teluk Persia di Ambang Perang, AS Ancang-ancang Serbu Iran

Teluk Persia, jalur migas dunia

MoeslimChoice | Suasana menjelang perang menyebar di kawasan Teluk Persia karena Amerika Serikat sudah bersiaga menyerang Iran. Bahrain, sekutu dekat Amerika Serikat di Teluk, telah mengeluarkan peringatan agar warganya keluar segera dari Iran dan Iraq demi keselamatan.

Bahrain juga mengingatkan warganya agar tidak berkunjung ke Iraq dan Iran sehubungan permusuhan yang semakin tajam antara Iran dan AS.

"Situasi regional tidak stabil, perkembangan membahayakan dan berpotensi ancamanan," ujar pernyataan Kementerian Luar Negeri Bahrain seperti dikutip oleh Reuters, Minggu, 19/5/19.

Sebelumnya, Washington pada Rabu, 15/5/19 lalu memerintahkan para staf non-darurat di Kedutaan AS di Baghdad, Iraq untuk pulang karena khawatir akan permusuhan dengan Iran. Exxon juga telah mengevakuasi staf warga asing dari ladang minyak di Iraq. Milisi Syiah di Iraq merupakan sekutu Iran.

Sebelumnya, Badan Penerbangan Federal atau FAA mengeluarkan peringatan agar pesawat komersial AS tidak melintas di perairan Teluk Persia dan Teluk Oman sehubungan permusuhan antara Washington dan Teheran yang terus memanas. "Meningkatnya aktivitas militer dan ketegangan politik di kawasan ini memunculkan risiko terhadap operasi penerbangan sipil AS karena berpotensi salah perhitungan atau keliru mengidentifikasi," kata FAA dalam pernyataannya, seperti dikutip oleh Reuters, Sabtu, 18/5/19.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan Amerika Serikat saat ini telah menghasut sehingga menciptakan ketegangan yang tak bisa diterima negaranya. Aljazeera.com menyiarkan, Javad Zarif mengatakan Iran tidak sudi lagi berbicara dengan Washington. Namun Iran akan tetap berhati-hati dalam setiap tindakannya menyusul pengerahan peralatan militer oleh Amerika Serikat ke wilayah teluk.

“Kami sangat yakin ketegangan yang disebabkan oleh Amerika Serikat sungguh tak bisa diterima dan dicontoh. Kami telah bersikap menahan diri dari program nuklir, meskipun pada kenyataannya AS menarik diri dari kesepakatan pada Mei tahun lalu,” kata Javad Zarif, mengacu pada kesepakatan nuklir yang dibuat pada 2015 antara Iran dan negara-negara kekuatan dunia.


Komentar Pembaca