Mulai 2019 Bungkus Makanan Harus Memuat Peringatan Kesehatan

Kesehatan  SABTU, 22 DESEMBER 2018 | 19:00 WIB | Warni Arwindi

Mulai 2019 Bungkus Makanan Harus Memuat Peringatan Kesehatan

Makanan dalam kemasan

MoeslimChoice | Penjualan makanan dalam kemasan memasuki babak baru mulai 2019. Setiap bungkus kemasan makanan yang beredar informasi gizi yang tertera juga bakal mencantumkan pesan kesehatan mengenai batasan asupan gula, garam dan lemak.

MC Award 2

Kira-kira, bunyi peringatan dalam kemasan makanan itu akan berbunyi: Konsumsi gula > 50 g, natrium > 2000 mg, lemak total > 67 g per orang per hari berisiko hipertensi, stroke, diabetes melitus, serangan jantung. Tanda > berarti melebihi atau di atas.

Kemasan yang akan memasang peringatan itu misalnya mi instan, makanan ringan konsumsi anak-anak. Ringkasnya, makanan dalam kemasan yang biasa ditemukan di supermarket hingga warung-warung sembako.

"Seperti di bungkus rokok ada pesan kesehatannya kan. Nah ini, di bungkus makanan juga ada, bedanya dengan bungkus rokok, pada bungkus pangan tidak ada gambar penyakitnya," ujar Kepala Subdit Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular kementerian Kesehatan RI, Prima Yosephine dalam keterangan tertulis yang diterima Sabtu, 22/12/18.

"Jadi, nanti akan kami sosialisasikan hal ini ke masyarakat. Mungkin sekitar awal 2019," lanjut Prima.

Sebelumnya Prima berbicara dalam acara Jakarta Food Editor’s Club (JFEC) bertema Emotional Eating, Waspadai Asupan Gula, Garam, Lemak di The Maja, Jakarta Selatan, 18/12/18 bersaa PT Unilever Indonesia.

Prima menyatakan, pemuatan pesan kesehatan berlandaskan Peraturan Menteri Kesehatan No 63 Tahun 2015 mengenai Perubahan Permenkes No 30 Tahun 2013 tentang Pencatuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak pada Pangan Olahan dan Siap Saji. Di dalamnya tertulis, empat tahun sesudah Permenkes dibuat akan ada implementasinya.

Pemerintah berharap lewat pesan kesehatan tersebut masyarakat jadi sadar sudah menyantap berapa banyak gula, garam, dan lemak. Sehingga, bisa menekan angka penyakit tidak menular di Indonesia yang jumlahnya terus meningkat.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi penyakit tidak menular mengalami peningkatan jika dibandingkan lima tahun lalu. Terjadi kenaikan kasus pada penyakit kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi. Misalnya kanker, prevalensi dari 1,4 persen menjadi 1,8 persen di 2018

Saat ini pihak Kementerian Kesehatan RI tengah berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait kehadiran pesan kesehatan di bungkus makanan ini. "Kemenkes yang mengeluarkan Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) dan BPOM yang melakukan implementasi dan evaluasinya," tandas Prima.


Komentar Pembaca