Petani Jagung: Kalau Jagung Impor Masuk, Harga Jagung Petani Anjlok

Advertorial  MINGGU, 04 NOVEMBER 2018 | 19:16 WIB

Petani Jagung: Kalau Jagung Impor Masuk, Harga Jagung Petani Anjlok

Jagung

MoeslimChoice I Kalangan petani membaca keputusan Pemerintah mengimpor 100 ribu ton jagung pakan, sebagai kepentingan orang-orang tertentu saja.

“Impor ini menurut saya lebih banyak digaungkan di kalangan elit. Orang yang punya kepentingan-kepentingan sesaat begitu. Dijadikan menggoreng isu impor ini menjadi sesuatu yang sangat penting”, demikian pendapat Direktur Eksekutif Petani Centre Entang Sastraatmadja.

Entang mendasarkan pendapatnya pada kenyataan, bahwa sebagian petani di Pulau Jawa adalah petani gurem dan buruh tani. Hanya sebagian kecil yang memiliki lahan di atas 2 hektar.

“Nah kalau kita lihat mereka, mereka tidak terlalu peduli dengan impor atau tidak. Yang penting bisa bekerja, bisa menyewa sawahnya, supaya kebutuhan hidup kesehariannnya terpenuhi”, kata Entang.

Menurutnya penting untuk meyakinkan pada petani, bahwa ekspor impor adalah hal biasa dalam dunia perdagangan internasional, bukan sesuatu yang harus di heboh-hebohkan.

“Hanya kan pertanyaannya, masa sih kita punya potensi, punya kekuatan kok tiba-tiba harus melalukan impor. Tinggal sekarang bagaimana kita menggenjot supaya produksi kita terus meningkat sekalipun kita berhadapan dengan kondisi-kondisi alam yang memang sulit untuk kita lawan”, tambahnya.

Diskusi seputar impor komoditas pertanian kembali mengemuka, menyusul keputusan impor 100ribu ton jagung pakan oleh Pemerintah melalui rapat koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator Ekonomi Darmin Nasution Jumat (2/11/2018) lalu. Keputusan ini diambil mencermati perkembangan harga jagung pakan, yang memberatkan peternak ayam mandiri.

Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI), Sholahuddin mengaku khawatir keputusan pemerintah ini akan menurunkan semangat petani. Sebagian besar petani jagung di sentra produksi memasuki masa tanam. Sementara sejumlah lokasi di Jawa Timur, seperti Jember, Tuban, Kediri, Jombang, dan Mojokerto sekitar dua pekan mendatang justru akan melakukan panen.

“Kalau ada yang menyebut impor perlu dilakukan karena stok menipis, kami bisa mentahkan itu. Saat ini pabrik pengering kami di Lamongan saja, masih ada stok 6.000 ton. Di Dompu juga masih stok banyak karena di sana masih ada panen”, terang Sholahuddin.

Ia memperkirakan impor jagung baru akan terealisasi di bulan Januari. Momen itu bertabrakan dengan musim panen raya.

“Kalau impor masuk saat panen, petani sudah bisa membayangkan harga jagung mereka akan anjlok”, jelasnya.

Dengan kondisi tanam dan panen yang bervariasi, Sholahuddin optimistis produksi jagung hingga akhir tahun bisa mencapai target yang ditetapkan pemerintah. Apalagi panen di tahun ini mencakup lahan yang luas.

“Pertanaman jagung Bulan September mencapai 5,86 juta hektar tersebar di wilayah Indonesia, dan sampai Bulan Oktober produksi jagung diperkirakan mencapai 25,97 juta ton. InsyaaALLAH dengan semangat petani untuk menanam, target 30,05 juta ton jagung di 2018 bisa tercapai. Semangat petani itu yang perlu kita jaga”, pungkasnya.

Terlebih mengingat sejak tahun 2017, produksi jagung dalam negeri sudah mencukupi kebutuhan pakan ternak.

“Seharusnya tahun politik menjadi kesempatan pemerintah untuk semakin menunjukkan keberpihakannya kepada petani”, tutup Sholahudin. (Ang)

 


Komentar Pembaca