Evaluasi Setahun Kerja Gubernur DKI Jakarta:

Anies Baswedan | Saya Memilih Jadi Teknokrat

Nasional  JUMAT, 19 OKTOBER 2018 | 08:52 WIB | Yukie H Rushdie

Anies Baswedan | Saya Memilih Jadi Teknokrat

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (yhr/MoeslimChoice)

MoeslimChoice | Mengakhiri tahun pertama kerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan lebih memilih untuk menjadi teknokrat yang menjawab kebutuhan-kebutuhan dasar warganya ketimbang sekadar mengikuti opini-opini harian yang cenderung bersifat politis.

Hal itu disampaikan Anies Baswedan dalam wawancara eksklusif dengan MoeslimChoice, harian Rakyat Merdeka, Kantor Berita Politik RMOL.co, RMOLJakarta, dan RMOL TV di Ruang Kerja Gubernur, Balaikota DKI Jakarta, Kamis (18/10/2018).

“Kalau orientasinya sekadar pada keberhasilan secara politis, bisa saja saya ambil satu tempat, saya bikin make-up yang bagus, terus di-gede-gedein. Untuk apa? Pembentukan opini,” kata Anies.

Pertanyaannya, lanjut Anies, apakah ia mau menjadi gubernur yang bekerja berdasarkan opini kelas menengah di media sosial, atau yang membereskan kebutuhan dasar Jakarta sebagai ibukota negeri?

“Saya mau jadi politisi, atau teknokrat? Saya milih yang kedua aja,” katanya.

Maka, Anies menggenjot upaya pemenuhan kebutuhan air bersih warga Jakarta, yang sebetulnya tidak pernah diopinikan media massa maupun media sosial, padahal merupakan persoalan di ibukota yang bertahun-tahun tak pernah tertuntaskan.

“Bayangkan, 40% penduduk Jakarta tidak punya akses air bersih. Ini artinya 4 juta dari 10 juta penduduk. Kok bisa? Karena kita, selama 12 tahun, tidak pernah tambah pipa. Lho, kok bisa? Karena opini gak ada yang ngomong pipa,” jelas Anies.

Padahal, tambahnya, begitu air itu kotor, di pinggir-pinggirnya berbagai masalah sontak bermunculan. Kesehatan, pertumbuhan, gizi, semua jadi bermasalah.

Nah, saya akan genjot. Dan kemarin-kemarin itu, mau ngeluarin Rp 1,2 triliun, gak bisa-bisa, kan? Padahal itu untuk bikin pipa. Sementara bangun MRT, 6 km, Rp 6,8 triliun. Ya, Instagramable saja,” katanya.

 

Raport via RPJMD

Anies berpendapat, untuk melihat raport seorang gubernur, tengoklah RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) yang dibuatnya.


“Pada gubernur, ada janji kampanye. Lalu diterjemahkan pada RPJMD. Kalo RPJMD itu udah di-committed, itulah raportnya seorang gubernur,” kata Anies.

Jadi, menurutnya, achievement atau pencapaian itu harus diukur dari rencananya. Janji kampanye diterjemahkan pada RPJMD, barulah muncul anggaran tahunan untuk pelaksanaan.

“Tapi, kita ini kebanyakan terfokus pada anggaran tahunan dan opini harian. Daily opinion itu kemudian diakumulasi membentuk pattern persepsinya. Sementara, problem-problem utama tetap gak beres, karena kita (bekerja) gak merujuk pada tujuan yang ingin dicapai berdasarkan RPJMD,” tandas Anies.

Konsekuensinya, lanjut Anies, janji-janji kampanye itu akan direalisasikan sesuai dengan jadwal teknokrat, RPJMD.

“Ada yang bisa dimulai dan dilaksanakan pada tahun pertama. Ada yang tahun kedua. Ada yang tahun ketiga, dan seterusnya. Harapannya, semua yang kita rencanakan itu, nanti setelah tahun ketiga, keempat, akan kelihatan. Dan, insya Allah, kita akan jalankan semuanya,” kata Anies.

Kini, Anies sudah menerjemahkan RPJMD-nya dalam bentuk Kegiatan Strategis Daerah (KSD). Ada 60 KSD, terbagi dalam beberapa klasifikasi, yang menentukan prioritas pelaksanaannya.

“Setiap kepala dinas, setiap kepala SKPD dengan badan dan lain-lain, di-link kinerjanya dengan capaian di KSD ini, agar program-program strategis ini berjalan,” katanya.

Di tahun pertamanya sebagai gubernur, setidaknya ada tiga gebrakan Anies yang dinilai cukup fenomenal, yakni pelepasan 26,25% saham Pemprov DKI di perusahaan bir PT Delta Djakarta, penutupan “hotel mesum” Alexis, dan penghentian izin reklamasi di pesisir utara Jakarta. [yhr]


Komentar Pembaca
Suporter Asal Meksiko Menjadi Mualaf

Suporter Asal Meksiko Menjadi Mualaf

Rabu, 30 November 2022 | 18:10

Lebih Memilih Al-quran Daripada Hp

Lebih Memilih Al-quran Daripada Hp

Selasa, 29 November 2022 | 18:55