• Minggu, 5 Februari 2023

Kutuk Pembakaran Al-Quran di Swedia, HNW Dorong Indonesia Galang Kekuatan OKI

- Selasa, 24 Januari 2023 | 11:30 WIB
Anggota DPR RI, Hidayat Nur Wahid/foto:fraksi pks
Anggota DPR RI, Hidayat Nur Wahid/foto:fraksi pks

MoeslimChoice. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) telah terbuka menyatakan penolakan keras atas tindakan yang telah dilakukan Politisi Garis Keras Swedia, Rasmus Paludan, serta berharap agar sikap tegas tersebut juga bisa dibawa ke forum Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Hal tersebut mendapat dukungan penuh dari Anggota DPR RI, sekaligus Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS, Hidayat Nur Wahid (HNW). HNW bahkan mengutuk keras aksi pembakaran Kitab Suci Al Quran di Swedia yang dilakukan oleh politisi ekstrimis Rasmus Paludan itu, yang dilakukannya dengan penjagaan dan legalisasi dari berwenang di Swedia.

"Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, yang demokratis dan menghormati HAM, sudah seharusnya bila Kementerian Luar Negeri RI, yang mewakili pemerintah Indonesia tidak berhenti hanya dengan mengutuk aksi pembakaran Al Quran yang merupakan tindakan ekstrim, intoleran, radikal dan bentuk nyata dari Islamophobia, yang dapat menciptakan kegaduhan di banyak negara, yang bisa mengganggu hubungan timbal balik Swedia dengan negara-negara OKI maupun komunitas Umat Islam, karena Al Quran adalah kitab yang disucikan oleh seluruh Umat Islam di seluruh dunia. Pemerintah RI juga perlu lebih serius lagi dengan menggalang sikap kebersamaan di forum OKI, agar gelombang penolakan terhadap tindakan intoleran, ekstrim dan islamophobia tersebut, semakin besar dan semakin dapat mengkoreksi dan menghentikan," kata Anggota DPR RI, Hidayat Nur Wahid, melalui siaran pers di Jakarta, Senin (23/1/2023).

HNW juga mengatakan, OKI yang beranggotakan 57 negara tersebut, saatnya bersatu untuk mengutuk dan menolak dan menghentikan aksi pembakaran Al Quran oleh ekstrimis garis keras Swedia, Rasmus Paludan, yang sepertinya dibiarkan oleh pemerintah Swedia dengan alasan kebebasan berekspresi. 

Padahal, bila kebebasan berekspresi itu terkait dengan hak asasi manusia, maka berbagai putusan pengadilan HAM Eropa telah tegas membedakan antara kebebasan berekspresi dan menghina ajaran agama orang lain.

Misalnya, dalam putusan pada 2018 lalu, dimana Pengadilan HAM Eropa di Strassbourg itu menyatakan bahwa penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW bukanlah kebebasan berekspresi.

"Dan tindakan Rasmus ini, yang jelas-jelas menghina Nabi Muhammad dan ajaran agama Islam, tentunya hal itu jauh dari makna kebebasan berekspresi yang dibenarkan oleh akal sehat maupun Dewan HAM Eropa," tegas HNW.

Lebih lanjut, HNW mengatakan, selain menggalang kerja sama dengan negara-negara OKI yang sudah nyatakan penolakan dan kutukan keras seperti Turki, Qatar, Malaysia dan lain-lain, pihak pemerintah Indonesia juga bisa memberikan tindakan yang lebih konkret dengan memanggil Dubes Swedia di Indonesia, agar Umat Islam tidak terprovokasi, agar masalah ini lekas selesai dan tak terulang lagi.

"Apabila pemanggilan Dubes Swedia ini dilakukan segera dan diikuti oleh negara-negara OKI lainnya, tentu bisa menunjukkan kepada Pemerintah Swedia agar mereka menjaga hubungan yang baik dengan negara-negara OKI, dan tidak 'bermain-main' dengan hal yang essensial bagi umat Islam, yakni penghormatan terhadap kitab Suci Al-Qur’an," tambah Anggota DPR RI dari Dapil Jakarta II yang meliputi Luar Negeri ini.

Halaman:

Editor: Melati

Terkini

Paloh Makan Siang Bersama Luhut

Sabtu, 4 Februari 2023 | 00:31 WIB

Bada Jumat Nasdem Terima PKS di Markas

Kamis, 2 Februari 2023 | 20:25 WIB

Ketua Forsesdasi Sumsel Hadiri Rakornas Tahun 2023

Kamis, 2 Februari 2023 | 18:00 WIB

Usulan Meniadakan Jabatan Gubernur Jadi Isu Ramai

Rabu, 1 Februari 2023 | 15:26 WIB

Ada Apa Paloh Sambangi Airlangga?

Rabu, 1 Februari 2023 | 14:32 WIB
X