Hijrah, Kenapa ke Madinah?

- Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:10 WIB
Foto ilustrasi/net
Foto ilustrasi/net

PENGHITUNGAN tahun Hijriyah itu didasarkan pada tahun dimana Nabi SAW hijrah ke Madinah. 

Yang jadi pertanyaan : kenapa Nabi SAW memilih Madinah sebagai tempat hijrah? Kenapa bukan Habasyah atau Thaif? 

Jawabannya menarik untuk direnungkan dan didiskusikan. 

1. Habasyah dan Thaif

Meski Raja An-Najasyi masuk Islam, namun rakyatnya yang Nasrani ternyata tidak ada yang masuk Islam. Bahkan konon keislaman An-Najasyi disinyalir dilakukan diam-diam, takut ditentang oleh rakyatnya sendiri. 

Maka memigrasikan seluruh pemeluk Islam sekota Mekkah ke Habasyah nampaknya bukan pilihan tepat. 

Apalagi kalau hijrah ke Thaif, lebih tidak tepat lagi. Karena tipikal penduduk Thaif mirip-mirip dengan musyrikin Mekkah. Kedatangan Nabi SAW berdua dengan Zaid bukan disambut tapi disambit. 

2. Penduduk Madinah Banyak Muslim

Lain halnya dengan Madinah, jauh sebelum Madinah ditetapkan sebagai lokasi hirjah, sudah banyak penduduknya yang masuk Islam. 

Bahkan Nabi SAW sempat mengirimkan seorang juru dakwah bernama Mush'ab bin Umair ke Madinah. 

Hasilnya luar biasa, sampai 12 kepala suku dari Aus dan Khazraj telah berbai'at sumpah setia di Aqabah Mina saat haji untuk membela Nabi SAW dan Muhajirin sampai tetes darah penghabisan.
Secara dukungan masyarakat, Madinah sangat siap mendukung dakwah Nabi SAW, bahkan siap dijadikan pusat dakwah. 

3. Yahudi Madinah

Sementara itu di Madinah juga ada kaum Yahudi. Di masa itu Yahudi belum jadi musuh. Justru keislaman penduduk Madinah sedikit banyak dipengaruhi oleh doktrin kaum Yahudi dengan ajaran agama samawi. 

Perlu diketahui juga bahwa sebagai sesama agama samawi, ajaran Yahudi punya banyak kesamaan ajaran dengan risalah yang dibawa oleh Nabi SAW. 

Halaman:

Editor: Zulfahmi

Terkini

X