Jahiliyah Harus Dijauhi Umat Islam, Oleh Karena Itu Kenalilah 4 Tandanya

- Minggu, 5 Februari 2023 | 11:44 WIB
KH Faturrahman Kamal menjelaskan jahiliyah dan ciri-cirinya
KH Faturrahman Kamal menjelaskan jahiliyah dan ciri-cirinya

Jahiliyah secara umum oleh umat Islam dimaknai dengan kebodohan/bodoh. Dalam tradisi Islam sendiri, Islam, istilah Jahiliyah didefinisikan pada keadaan masyarakat Arab sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW. Padahal, jahiliyah juga sebetulnya masih ada pada masyarakat di era modern ini.

Pada Zaman Jahiliyah dulu, masyarakat Arab hidup dalam kebodohan. Mereka melakukan bahkan mentradisikan berbagai hal buruk yang jauh dari pedoman moral ketuhanan, dan menodai nilai kemanusiaan tersebar.

Jahiliyah itu dihapus oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh Allah SWT, jahiliyah disebutkan dalam Al Quran di mana ada 4 cirinya. Umat Islam harus menjauhi keempat sifat itu, agar tidak menjadi masyarakat jahiliyah.

Apa saja keempat ciri jahiliyah tersebut?

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah KH Fathurrahman Kamal mengatakan bahwa kepada Rasulullah SAW, Allah SWT mewahyukan  di dalam Al Quran.  

“Hanya empat makna di dalam Al Quran, tidak ada yang kelima,” ujarnya dalam Tabligh Akbar Musywil Muhammadiyah Kalimantan Barat ke-15, bertempat di Aula Universitas Muhammadiyah Pontianak, dikutip dari muhammadiyah.or.id, Ahad (5/2/2023).

Ciri pertama: adalah distorsi epistemologis atau kerancuan cara berpikir. Hal ini disebutkan Allah dalam Surat Ali Imran ayat 154, terkait makna ẓannal-jāhiliyyah (Prasangka Jahiliyah).

Cara berpikir yang salah itulah, kata dia, yang melahirkan suatu sistem yang menyengsarakan masyarakat kita. Yang membuat dekadensi moral karena salah cara berpikir cara mengambil kebijakan di negeri ini.

Contoh dari prasangka Jahiliyah ini, lanjutnya, juga merebak dalam berbagai sikap permisif di masyarakat Islam seperti menganggap kalau seks bebas itu boleh asal suka sama suka, homoseks perlu dilegalkan demi menjaga hak asasi manusia, hingga agama apapun hakikatnya sama demi menjaga koeksistensi.

“Itu semua kekacauan epistemologis,” tegasnya.

Ciri Kedua: adalah jahiliyah dalam tradisi dan hukum (hukmul Jahiliyah). Al Quran menjelaskan dalam Surat Al-Maidah ayat 50.

Menurut Fathurrahman, ciri ini dicontohkan pada kehidupan oligarkis.

Diktakannya, masyarakat yang kuat memakan yang lemah, yang kaya mengeksploitasi yang papa. Itu tradisi masyarakat Arab Jahiliyah. Hukum tidak lagi melahirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Tapi hukum dipermainkan. Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Itu tradisi jahiliyah, di politik juga sama.

Ciri ketiga: adalah jahiliyah dalam aspek kebudayaan (tabbarujal jahiliyah). Al Quran menegaskan dalam Surat Al-Ahzab ayat 33.

Ciri keempat:adalah jahiliyah dalam psikologis dan kepribadian manusia yang arogan (hammiyatal jahiliyah). Alquran menjelaskan dalam Surat Al-Fath ayat 26.

Menurut KH Faturrahman, ini masalah psikologis kepribadian manusia yang sudah terdistorsi, rusak. Bangunan kepribadian ini rusak. Ada yang disebut dengan rasialisme, fanatisme, dan lain-lain, orang bisa saling merendahkan hanya karena berbeda kelompok, orientasi politik dan perbedaan apapun.

Untuk mengatasi empat ciri Muhammadiyah ini, Muhammadiyah menurut Fathurrahman telah memiliki pedoman, yakni Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).

“Maka kalau kita Muhammadiyah ingin memajukan Kalimantan ini, kita harus siap hijrah, move on dari tradisi jahiliyah epistemologis dan cara berpikir menuju tradisi ilmu dan tauhid. Dari tradisi hukum yg anti kemanusiaan dan anti Tuhan, kita harus berani menegakkan al hukmul ilahi. Hukum manusia sehebat apapun, dia tetap produk manusia, kalau tidak dibimbing wahyu dia akan menyengsarakan kehidupan kita. Dan kejahiliyahan budaya, kita harus berani menggantinya dengan al akhlak Islamiyah,” katanya.[*]

Editor: Rosydah

Tags

Terkini

Bacaan Doa Niat Puasa Ramadan

Minggu, 19 Maret 2023 | 00:08 WIB
X