MoeslimChoice. Ilmu Fiqih tidak hanya membahas seputar amaliyah ibadah, seperti bersuci, shalat, puasa, dan sebagainya. Namun lebih dari itu, Fiqih membahas dan mengatur berbagai urusan kehidupan manusia seperti peradilan, persaksian, kriminalitas, dan banyak lagi.
Hal tersebut diungkapkan Grand Mufti Mesir, Syekh Syauqi Ibrahim Allam, saat menyampaikan materi secara virtual, di acara Muktamar Internasional Fiqih Peradaban I, yang merupakan rangkaian gelaran peringatan 1 Abad NU, yang digelar di Hotel Shangri-La, Surabaya, Jawa Timur (Jatim).
"Sudah ada beberapa pembahasan baru dalam masalah peradilan yang mengikuti perkembangan zaman dan sesuai dengan waktu dan tempat," kata Grand Mufti Mesir, Syekh Syauqi Ibrahim Allam, seperti dilansir dari NU Online, Senin (6/2/2023).
Lebih lanjut, Syekh Syauqi menyatakan, Fiqih juga membahas soal hubungan bilateral antarnegara, termasuk di dalamnya adalah soal politik, hubungan Muslim dengan non-Muslim, baik dalam kondisi damai maupun perang.
"Fiqih juga membahas berbagai masalah duniawi yang tidak lepas dari kehidupan umat manusia, seperti kedokteran, arsitek, dan farmasi, serta penguatan militer suatu negara untuk menjaga keutuhan negara dari musuh-musuhnya," tambah Syekh Syauqi.
Menurut Syekh Syauqi, para ulama Fiqih bahkan sudah membahas dan menulis aneka permasalahan tersebut di berbagai kitab. Untuk itu, di antara umat Islam hendaknya ada yang mampu memahami dan mendalaminya, jika tidak maka semuanya akan berdosa.
Baca Juga: Memasuki Abad Kedua, Ketum PBNU: Menuju Kebangkitan Baru NU
Mufti Mesir ini menyampaikan, maksud dari penjelasan yang disampaikannya itu adalah untuk memecahkan setiap permasalahan yang ada. Fiqih Islam menghasilkan suatu fatwa berdasarkan sumber dan referensi yang jelas dan terpercaya.
"Makna fatwa adalah suatu proses pengambilan hukum atas peristiwa yang terjadi baik individu atau kelompok," imbuhnya.
Syekh Syauqi juga membeberkan, pemahaman suatu fatwa dan ilmu terhadap hukum-hukum yang menyeluruh adalah ilmu terhadap hukum-hukum itu sendiri. Ilmu tersebut kemudian bisa disesuaikan dengan aneka permasalahan kekinian.
"Maka setiap permasalahan bisa membawa pada optimisme dan wasilah terbentuknya peradaban Islam, sebab hal itu bisa menjawab kejadian dalam kehidupan manusia seiring berjalannya waktu dan zaman," katanya.
Lebih jauh, Syekh Syauqi menyatakan, aneka permasalahan tersebut semakin jelas di zaman yang serba digital seperti sekarang. Menurutnya, dalam kondisi ini fikih bisa bekerja misalnya untuk mencegah timbulnya bahaya dari teknologi digital.
"Terlebih adanya beberapa fatwa cacat dan radikal yang diembuskan oleh segelintir kelompok di media sosial yang menyebabkan Islam dicap sebagai agama yang keras, padahal itu bertentangan dengan hakikat Islam yang mulia," jelasnya.
Syekh Syauqi kemudian menegaskan bahwa Islam adalah agama peradaban yang mengajak umat manusia pada keselamatan, perdamaian, kasih sayang, keadilan, dan persamaan.***
Artikel Terkait
Presiden Minta NU dan Kaum Nahdliyin Terus Beri Contoh Hidup dengan Adab Islam yang Baik
Muktamar Internasional Fiqih Peradaban I Hasilkan Rekomendasi: Tolak Khilafah, Dukung PBB