Terbentur Budaya Tabu, Kesadaran Donor Bola Mata Masih Rendah

Kesehatan  KAMIS, 10 OKTOBER 2019 | 08:31 WIB

Terbentur Budaya Tabu, Kesadaran Donor Bola Mata Masih Rendah

Ilustrasi

MoeslimChoice | Di Indonesia, kesadaran donor bola mata masih rendah lantaran faktor budaya. Mendonorkan organ mata atau tubuh masih dianggap tabu, termasuk di negara Malaysia.

Hingga kini, calon pendonor mata untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah mencapai sekitar 2.000 orang.

Upaya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat yang sudah meninggal dunia agar mendonorkan matanya, salah satunya dilakukan dengan advokasi.

"Saya pernah mengusulkan [agar] jenazah [jadi] milik Pemerintah, seperti di negara Filipina," kata Profesor Suhardjo selaku Ketua Bank Mata Jogja, di sela-sela peringatan Hari Penglihatan Sedunia di RSUP Sardjito, Rabu (9/10/2019).

Lebih lanjut ia menjelaskan, jika jenazah sudah menjadi milik pemerintah, maka sah untuk mengambil organ.

Berbeda di Indonesia, yang masih harus menunggu persetujuan dari pihak keluarga agar bisa mendapat organ.

Langkah lain yang bisa diterapkan, yaitu memakai konselor seperti di India. Konselor bertugas mengedukasi serta memotivasi pihak keluarga apabila ada keluarganya yang —misalnya— menjadi korban kecelakaan yang telah meninggal untuk mendonorkan matanya.

"Ini masih sebatas ide saja, tetapi bisa dipelajari," ungkapnya.

Ia berharap agar pemerintah mempunyai regulasi yang jelas terkait donor bola mata. Sampai saat ini, belum ada kebijakan-kebijakan yang mengatur hal itu.

Profesor Suhardjo menyebutkan, bank mata di Amerika Serikat pernah menawarkan untuk satu bola mata harganya Rp 30 juta.

Dengan demikian, orang yang mampu melakukan transplantasi atau cangkok kornea hanya orang kaya. Masyarakat yang tidak mampu seharusnya bisa dibiayai pemerintah.

"Tapi kenyataannya belum bisa dibiayai. Saya ingin masyarakat matanya sehat, terlepas dari status ekonominya," imbuhnya.

Pendataan yang dilakukan pendonor mata berasal dari Kabupaten Semarang atau Sleman. Bola mata yang sudah diberikan tidak diberikan secara gratis, karena perlu biaya pengawetan senilai Rp 4 juta.

"Untuk biaya operasinya masih bisa ditanggung BPJS," katanya.

Dokter Spesialis Mata RSUP Sardjito, Firman Setya Wardhana, menuturkan, perlu edukasi kepada pihak keluarga agar mau mendonorkan bola mata salah satu anggota keluarganya yang sudah meninggal dunia. Meski demikian, tidak dapat dipaksakan.

"Sepenuhnya atas persetujuan pihak keluarga," ujarnya.

Menurut dia, melakukan donor bola mata merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan.

"Masih banyak di Indonesia yang memerlukan donor mata ataupun retina," kata dia. [yhr]


Komentar Pembaca
Ditolak UGM, UAS Tenang: Kalo Saya Marah, Umat Meledak!

Ditolak UGM, UAS Tenang: Kalo Saya Marah, Umat Meledak!

PendidikanSelasa, 15 Oktober 2019 | 12:47

 Kebakaran Hebat Terjadi di Dekat Rumah Kapolri

Kebakaran Hebat Terjadi di Dekat Rumah Kapolri

Tentang SumselSelasa, 15 Oktober 2019 | 16:37

Ternyata Rumah Milik Ortu Kapolri Ikut Terbakar

Ternyata Rumah Milik Ortu Kapolri Ikut Terbakar

Tentang SumselSelasa, 15 Oktober 2019 | 20:59

Api Berhasil Dipadamkan, Rumah Kapolri Selamat

Api Berhasil Dipadamkan, Rumah Kapolri Selamat

Tentang SumselSelasa, 15 Oktober 2019 | 17:14

BEM SI Jabodetabek-Banten Nekat Mau Aksi Demo Siang Ini

BEM SI Jabodetabek-Banten Nekat Mau Aksi Demo Siang Ini

PolhukamKamis, 17 Oktober 2019 | 05:55