UIN Surabaya dan RMI Kerjasama Pengembangan Pondok Pesantren

Pendidikan  KAMIS, 19 SEPTEMBER 2019 | 18:03 WIB

UIN Surabaya dan RMI Kerjasama Pengembangan Pondok Pesantren

foto/net

Moeslimchoice. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, menjalin kerjasama dengan Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) PBNU dalam pengembangan pondok pesantren. Sinergi ini ditandai dengan penandatanganan nota kerjasama antara Rektor UINSA dengan Ketua RMI Pusat, serta antara Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UINSA dengan Ketua RMI Jawa Timur.

Penandatanganan berlangsung pada Simposium Nasional Pondok Pesantren tentang Sinergi dan Kolaborasi Pengembangan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren dalam Mendukung Pencapaian Suistainable Development Goals/SDGs. Simposium ini diinisiasi oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UINSA Surabaya. 

Hadir sebagai narasumber, Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan dalam negeri yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat RMI, KH. Abdul Ghofar Rozin (Gus Rozin), Kasubdit Sarana dan Prasarana Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ruchman Basori, serta Akademisi dan Peneliti bidang arsitektur dari ITS, H. Muhammad Faqih. 

Selaku moderator adalah Abdulloh Hamid Dosen Fakultas Saintek UINSA yang juga Pengurus RMI PBNU. Kegiatan ini dihadiri sedikitnya 100 utusan Pondok Pesantren di lingkungan RMI.

Rektor UINSA, Masdar Hilmy dalam sambutannya berharap simposium dan kerjasama ini mendorong munculnya kegiatan yang konkrit. 

"Suatu karya nyata yang terukur, terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) untuk kemaslahatan dalam bidang pengembangan desain dan perencanaan pengembangan pondok pesantren," ujar Masdar yang juga Dewan Pakar Lembaga Pendidikan Tinggi NU Jawa Timur, di Ruang Amphiteater Lt. 2 Gedung Twin Towers, Rabu (18/9) kemarin.

Gus Rozin menyambut baik inisiasi kerjasama dengan UINSA. Menurutnya, revolusi industri 4.0 menuntut respon dari pesantren. 

"Walaupun saya kira dalam konteks revolusi industri 4.0, fisik saja tidak cukup. Tetapi belum terlambat untuk memulai, berusaha untuk mengejar ketertinggalan. Bagaimana supaya ada support yang sistematis, masif, dan terstruktur untuk membangun fisik," ujarnya.

Gus Rozin berharap, MoU dengan UINSA tidak sekedar berhenti dalam seremonial. 

"Maka kemudian, kami akan berperan sebagai pendobrak, alarm, sekaligus terus-menerus mengingatkan apa yang sudah dalam tahap perjanjian atau belum dan apa yang bisa kita sajikan," tukasnya lagi.

Ketua RMINU Jawa Timur, KH. Agus Zaki Hadzik menyampaikan, salah satu poin kerjasama dengan FST UINSA yang akan segera ditindaklanjuti adalah pembuatan Sistem Informasi untuk tata kelola administrasi perkantoran bagi Pesantren di Jawa Timur. 

"Sehingga walapun Pesantren itu ada puncak gunung, tetap bisa update," ujar Gus Zaki.

Kasubdit Sarana dan Prasarana, Ruchman Bashori menjelaskan fungsi Kementerian Agama tentang kebijakan pengembangan sarana dan prasarana pondok pesantren, yaitu Rekognisi, Regulasi dan Fasilitasi.

Simposium Nasional Pondok Pesantren menekankan pentingnya kolaborasi lembaga pendidikan dengan pesantren, dalam hal perencanaan dan pengembangan untuk mewujudkan Sustainable Development Goals. 

"Dalam hal desain arsitektur, kita punya khas desain arsitektur Islam Nusantara," pungkas Muhammad Faqih yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor ITS. [mel]


Komentar Pembaca