Dr Murniati Mukhlisin MAcc | Dari Baturaja Hingga Rektor Tazkia

Islamtainment  RABU, 18 SEPTEMBER 2019 | 19:35 WIB | Warni Arwindi

Dr Murniati Mukhlisin MAcc | Dari Baturaja Hingga Rektor Tazkia

MoeslimChoice | Kini lebih banyak yang mengenalnya sebagai Dr Murniati Mukhlisin MAcc, rektor Institut Tazkia di Bogor, Jawa Barat, sebuah perguruan tinggi Islam yang identik dengan kajian ekonomi Islam. Tapi, tetap masih akan ada yang akan mengingatnya sebagai Mu Kim Ni remaja yang kabur dari rumah keluarganya di Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Selain sebagai rektor Murniati adalah pembicara dan motivator publik. Bersama suaminya, Luqyan Tamanni, ia menulis sebuah buku inspirasional bernama Sakinah Finance yang berbicara tentang keuangan keluarga Islam. Mereka melakukan beberapa talkshow dan pelatihan berdasarkan Sakinah Finance di beberapa kota di Indonesia, Uni Emirat Aarab, Inggris, AS, Kanada, Jepang, Turki, Jerman, Qatar, Arab Saudi, Australia, Brunei Darussalam, Prancis, Malaysia, dan Mesir.

Dalam kesehariannya, selain tetap menulis di berbagai media, ia juga melakukan bisnis rumahan dengan anak-anaknya di bawah payung Tamanni Shop. Tapi, bagaimana dengan Mu Kim Ni itu?

Kedua orang tuanya, Mu Kap Chin dan Kang Pau Chu dikenal di antara para tionghoa pedagang  di Baturaja dan Belinyu, Bangka Belitung. Namun, di mata Murniati remaja, saat lulus SMA pada 1991, keluarganya jauh dari kondisi harmonis. Kedamaian dan keharmonisan justru ia temukan dalam keluarga sahabat–sahabatnya yang dijumpai di rumah mereka saat belajar bersama semasa SMA.

Lebih dari itu, ia melihat keluarga teman-temannya yang Muslim sangat harmonis menjalankan ajaran agama Islam dengan tekun. Alasan ini pula yang akhirnya menjadi salah satu pendorongnya memeluk Islam dan berganti nama menjadi Murniati Mukhlisin. Nama barnya bolehlah diartikan sebagai datang secara murni bersama-sama mereka yang ikhlas.

"Saya ingin memperbaiki keadaan keluarga dan memberikan contoh kepada keluarga terutama adik–adik, tentang makna sebuah keluarga," kata ibu dari Layyina Humaira Tamanni, Hayyan Hani Tamanni, dan Rayyan Ayman Tamanni ini mengenang.

Namun, kala itu, bukannya didengar, ia malah diejek dan dicemooh. Namun, Ani, panggilannya tak terlalu mengambil hati. Jauh dari keluarga, ia merantau hingga Jakarta. Dari seorang wartawan, Ani mendapatkan rekomendasi mendapat orang tua asuh dari PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Ia diterima dengan hangat di keluarga Ustazah Qomariah Baladraf Teh Giok Sien di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Di Jakarta, Ani aktif mengikuti kegiatan kepemudaan Islam di Masjid Istiqlal dan di Yayasan H Karim Oei, di Jl Lautze. Secara ekonomi, ia juga mulai mandiri setelah diterima bekerja di sebuah bank swasta di Jalan Sudirman Jakarta. "Walau kadang sedih juga,  karena harus melepas jilbab setiba di kantor, karena bank yang banyak memperkerjakan staf non-Muslim tidak memberikan izin berjilbab," katanya.

Walau jauh dari kampung halamannya, ia tetap memperhatikan keluarganya, yang saat itu belum sepenuhnya menerima keislamannya. Ani mengungkapkan, sejak kabur dari rumah, ia berusaha mengambil hati keluarganya. Berkirim kabar dan hadiah, salah satu upayanya. Walhasil, mama dan beberapa adiknya luluh hatinya. Tak hanya merangkulnya kembali, belakangan mereka juga turut menganut Islam. Keinginannya terkabul: memiliki keluarga yang hangat dan saling mendukung.

Di sisi spiritual, Ani terus mengasah ilmu agamanya. Terpacu terus mendalami Islam, ia melanjutkan kuliah di bidang akuntansi syariah setelah dua tahun bekerja di Jakarta. Lantas ia pun lebih khusyu meningkatkan kapasitas pribadinya. Murniati berhasil memperoleh gelar sarjana dalam bidang akuntansi Islam dari International Islamic University of Malaysia (sarjana), Universitas Indonesia (pascasarjana), dan University of Glasgow, Inggris (doktoral). Dia dianugerahi beasiswa istimewa untuk mendukung studinya.

Dari perjalanan sejauh ini, Murniati memiliki pengalaman kerja di bidang perbankan, keuangan dan layanan TI yaitu Unibank - Jakarta, Ernst & Young - Kuala Lumpur, dan ANSI Berhad - Selangor, Malaysia. Kembali ke Indonesia, Murniati kemudian memulai karirnya sebagai dosen di Akuntansi dan Keuangan Islam tahun 2002 dan terus menanjak hingga menjadi rektor seperti sekarang ini.


Komentar Pembaca