Antre Selfie di Makam Habibie, Ini Adab Ziarah Kubur Versi Santri Jawa-Madura

Kajian  SENIN, 16 SEPTEMBER 2019 | 12:07 WIB

Antre Selfie di Makam Habibie, Ini Adab Ziarah Kubur Versi Santri Jawa-Madura

Makam BJ Habibie

MoeslimChoice | Promotor musik ternama Indonesia, Adrie Subono, yang juga keponakan dari Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, tidak mempermasalahkan banyaknya warga yang swafoto (selfie) di makam pamannya.

"It's okay," kata Adrie saat ditemui usai ziarah di Makam Taman Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (15/9/2019).

Adrie menilai, apa yang dilakukan oleh warga, yakni selfie di depan makam pamannya, sebagai bentuk penghormatan.

"Warga datang ke sini kan mau memberikan penghormatan kepada bapak Habibie. Mereka datang ke sini juga untuk memberikan doa, ngirim doa, it's okay. Mereka juga tertib kan di sini, gak masalah," kata Adrie.

Hingga kini, puluhan warga terus berdatangan berziarah ke makam Habibie dan juga Ainun Habibie yang berada di sebelahnya.

Warga tersebut datang untuk berdoa dan membacakan surat Yassin di samping makam. Usai berziarah, warga mengabadikan momen tersebut dengan foto di depan makam.

Tidak hanya makam Habibie, warga juga menyempatkan diri singgah ke sejumlah makam tokoh nasional lainnya, seperti Ani Yudhoyono, yang berada persis di belakang makam Ainun Habibie.

Alasan warga berziarah, karena ingin mendoakan mantan Menteri Riset dan Teknologi tersebut. Mereka juga mengaku mengidolakan Presiden Ke-3 RI tersebut.

"Ini pertama kali saya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, saya mengidolakan Pak Habibie makanya saya datang untuk berziarah sekaligus membacakan doa," kata peziarah dari Lebak Bulus.

Lantas bagaimana hukum selfie di makam?

Hasil Bahtsul Masail para santri se-Jawa dan Madura di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 15 April 2015, selfie menjadi haram jika menimbulkan fitnah dan mengundang orang lain untuk bekomentar negatif.

Hukum selfie adalah boleh apabila yakin atau ada dugaan kuat bahwa hal tersebut tidak akan menimbulkan fitnah.

Fitnah di sini yang dikehendaki berarti suatu hal yang dapat mendorong kemaksiatan atau ketertarikan hati untuk mendekati zina bahkan melakukannya, dan mengundang orang lain berkomentar senonoh yang tidak sesuai syariat Islam.

Adapun haram-tidaknya selfie tergantung dari niat dan tujuan si mukallaf (pelaku), apabila digunakan untuk menipu, menghina, dan melecehkan orang lain yang dapat menimbulkan penyakit hati, maka hukumnya haram.

Selain membacakan doa serta zikir-zikir pada saat ziarah kubur, yang merupakan tujuan utama dalam berziarah, hendaknya bagi para peziarah juga menjaga adab-adab yang berlaku pada saat ziarah kubur.

Adab-adab dalam berziarah ini secara rinci dijelaskan dalam kitab Tafsir As-Siraj Al-Munir:

“Hendaknya bagi orang yang berziarah di kuburan untuk berperilaku sesuai dengan adab-adab ziarah kubur dan menghadirkan hatinya pada saat mendatangi kuburan. Tujuannya datang ke kuburan bukan hanya sebatas berkeliling saja, sebab perilaku ini adalah perilaku binatang. Tetapi tujuan ziarahnya karena untuk menggapai ridha Allah SWT memperbaiki keburukan hatinya, memberikan kemanfaatan pada mayit dengan membacakan di sisinya Al-Qur’an dan doa-doa. Dan juga ia menjauhi duduk di atas kuburan.

“Etika setelah masuk di area sekitar kuburan ialah mengucapkan salam 'Assalamu alaika dara qaumi mu’minin, wa inna insya Allahu bikum lahiqun (semoga kesalamatan tertuju pada engkau wahai rumah perkumpulan orang-orang mukmin, sesungguhnya kami, jika Allah menghendaki akan menyusul kalian).

“Ketika sampai di kuburan mayit yang ia kenal, maka ucapkan salam padanya dan datangilah dari arah wajah mayit itu, karena menziarahi kuburannya sama seperti berbicara dengannya sewaktu hidup.

“Lalu orang yang berziarah merenungkan keadaan orang yang telah dikubur di bawah tanah, yang telah terpisah dari keluarga serta orang-orang yang dicintainya.

“Orang yang berziarah hendaknya juga merenungkan bagaimana keadaan teman-temannya yang telah meninggal.

“Bagaimana impian mereka telah pupus dan bagaimana harta mereka sudah tidak lagi menolong mereka. Debu-debu telah bertaburan pada keindahan tubuh dan wajah mereka, organ tubuh mereka telah terpisah-pisah dalam tanah, lalu istri mereka menjanda, anak-anak mereka menjadi yatim.

“Dan nantinya giliran bagi dirinya untuk menjadi seperti teman-temannya akan tiba. Keadaannya di kubur sama persis seperti keadaan temannya, dan hartanya nantinya juga sama persis seperti harta teman-temannya (tidak dapat menolongnya).” (Syekh Khatib Asy-Syirbini, Tafsir as-Siraj al-Munir, hal. 5277). [yhr]


Komentar Pembaca