Bagaimana Nasib PKS Setelah Ada Partai Gelora?

Polhukam  JUMAT, 13 SEPTEMBER 2019 | 02:00 WIB

Bagaimana Nasib PKS Setelah Ada Partai Gelora?

Moeslimchoice-Sejumlah pentolan PKS resmi hijrah dengan mendirikan partai politik baru. Partai Gelombang Rakyat (Gelora) namanya. Parpol yang dikomandoi Anis Matta dan Fahri Hamzah itu bertekad untuk ikut kontestasi Pemilu 2024.

Di tingkat akar rumput tentu parpol ini diperkirakan akan merebut basis massa yang sama dengan PKS. Menurut Pengamat Politik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta Andriadi Achmad, kehadiran Partai Gelora tidak terlepas dari fenomena perpolitikan tanah air pascareformasi.

Menurut Andry, kondisi yang terjadi di Partai Gelora dan PKS tidak terlepas juga dengan yang dialami parpol lainnya. Seperti Partai Golkar yang telah melahirkan PKPB, PKPI, Partai Demokrat, Gerindra, Hanura, Nasdem, Berkarya. Begitu juga PDIP terbelah menjadi Partai Pelopor, PDI Marhaenisme, dan lain-lain. Partai lawas lainnya di Orde Baru yang juga mengalami sempat mengalami percepahan yakni PPP.

Partai berlambang kakbah itu melahirkan PBR. Begitu juga dengan PKB yang menelurkan PKNU, PKBIB. Menjelang Pemilu 2019, Nasdem yang sebelumnya terlahir dari rahim Partai Golkar pun mengalami perpecahan dan mantan politisinya mendirikan Partai Perindo. “Dalam politik itu sah-sah saja. Dalam politik tiada kawan dan lawan yang abadi,” ujar Andriadi Achmad, Kamis (12/9).

Khusus untuk Partai Gelora, Andriadi melihat ada fenomena yang menarik. Selama ini PKS dikenal dengan soliditasnya. Padahal PKS itu dikenal sebagai parpol yang tidak melekat pada figuritas tokoh sentral, melainkan kepemimpinan kolektif. PKS pun dikenal sebagai partai dengan loyalitas dan militansi kadernya. Pada akhirnya goyah dan menyerah jua. Semua itu ditandai dengan berdirinya Partai Gelora.

“Sebetulnya jika PKS tidak mengalami fragmentasi dengan kekuatan sebagai oposisi terhadap pemerintah 2019-2024, maka peluang untuk menjadi pemenang pada Pemilu 2024 terbuka lebar,” sebut Direktur Eksekutif Nusantara Institute PolCom SRC itu.

Andriadi Achmad menilai kelahiran Partai Gelora dari “rahim” PKS mengingatkan publik pada sejarah berdirinya AKP di Turki. Partai itu didirikan Erdogan dan Abdullah Gul, mantan fungsioaris Partai Refah (Erbakan).

“Pendirian Partai Gelora terkesan mirip dengan berdirinya AKP di Turki dengan meninggalkan Partai Refah (Partai Felicity),” sebut Andri.

Kembali pada Partai Gelora. Kata Andri, wacana deklarasi Partai Gelora dalam waktu dekat bisa membawa pengaruh signifikan akan eksistensi PKS ke depan. Oleh karena itu, PKS mestinya mempersiapkan diri setelah hengkangnya fungsionaris PKS yang selama ini kerap hingar bingar di jagat perpolitikan Indonesia.

Eksistensi PKS sejak Pemilu 2004 sampai dengan pemilu 2019 tidak beranjak dari parpol papan tengah. Oleh karena itu, Pemilu 2024 merupakan ujian terberat PKS.

“Eksistensi PKS pada Pemilu 2024 sangat rentan. Itu disebabkan oleh perpecahan dan keluarnya fungsionaris baik nasional maupun tingkat daerah. Jika PKS bisa melewati ujian dan lolos parliamentary threshold. Maka bisa saja PKS ke depan menjadi partai papan atas,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menuturkan, pihaknya merasa sama sekali tidak terancam. Sebab, PKS adalah partai kader yang solid selama ini. Saat ini PKS akan fokus memenuhi ekspektasi publik. ”Selama kaderisasi kami baik, PKS akan terus membesar. Insya Allah,” kata wakil ketua Komisi II DPR itu.

Fahri Hamzah mengatkaan, pendirian partai tersebut merupakan jawaban atas dorongan grassroots di daerah. Persiapan sudah dilakukan dan Partai Gelora siap dideklarasikan dalam waktu dekat. ”Oktober ini kita konkretkan di lapangan. Pokoknya, lebih cepat lebih baik,” kata politikus asal NTB itu.(JPC)


Komentar Pembaca