Sumur Bor Pacitan: Titiknya Ada Puluhan, Tapi Faktanya…

Daerah  KAMIS, 12 SEPTEMBER 2019 | 12:07 WIB

Sumur Bor Pacitan: Titiknya Ada Puluhan, Tapi Faktanya…

Boimin memperlihatkan kondisi mesin yang mangkrak dari sumur bor di Dusun Nglumbu, Desa Sambong, Pacitan

MoeslimChoice | Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, seharusnya bisa terbebas dari serangan krisis air bersih di musim kemarau.

Pasalnya, kota kelahiran Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, ini sebetulnya sudah memiliki puluhan titik sumur bor yang tersebar di 12 kecamatan.

Menurut catatan dari Dinas Cipta Karya Kabupaten Pacitan, sejak 1990 hingga 2015, terdapat 45 titik sumur bor yang dibangun di 12 kecamatan.

Rinciannya, di Kecamatan Donorojo (ada 7 titik), Pringkuku (3), Punung (4), Pacitan (6), Tulakan (4), Kebonagung (5), Sudimoro (2), Tegalombo (1), Bandar (1), Nawangan (2), Ngadirojo (2), dan Arjosari (1).

Pembangunan 45 titik sumur bor di 12 kecamatan itu bersumber dari berbagai instansi, yakni Badan Geologi Bandung (27 unit), APBD II (2), P2AT PU Pengairan (15), dan APBD I (1).

Bahkan, tahun ini, Kabupaten Pacitan disebutkan menerima lagi tambahan 3 titik sumur bor, bantuan dari Badan Geologi Bandung, yang dilaksanakan di Desa Sukorejo (Kecamatan Sudimoro), Tremas (Arjosari), dan Gemaharjo (Tegalombo).

“Tahun ini, ada pengeboran lagi di 3 kecamatan, yaitu Arjosari, Tegalombo, dan Sudimoro. Khusus di Kecamatan Sudimoro, semula titiknya akan dipasang di Desa Klepu. Tapi, berhubung di Desa Klepu tidak ada (titik) airnya, maka dipindah ke Desa Sukorejo,” kata Wahab, Kepala Bidang Cipta Karya Kabupaten Pacitan, kepada koresponden MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, Kamis (11/9/2019).

 

Krisis Tahunan

Lantas, kenapa setiap tahun Kabupaten Pacitan masih juga masuk ke dalam wilayah yang terserang krisis air bersih di musim kemarau? Apa kabar dengan fungsi dari puluhan titik sumur bor itu?

Selidik punya selidik, sejumlah masyarakat di Kabupaten Pacitan menyatakan, sumur-sumur bor itu memang masih ada, tapi tak semuanya berfungsi alias mangkrak.

Berbagai dalih diapungkan ke permukaan, mulai dari penyusutan debit air hingga rusaknya mesin pompa. Tapi, titik kuncinya, semua itu bersumber dari tidak adanya perawatan yang intensif terhadap aset berharga tersebut.

Masyarakat di sana menyebut hal itu sebagai dampak dari fenomena demenyar. Dalam bahasa masyarakat Pacitan, demenyar berarti “senang dengan barang baru yang bermanfaat tapi enggan merawat”.

Begitulah nasib yang —antara lain— menimpa sumur bor dan mesin pompanya di Dusun Nglumbu RT 01 RW 02, Desa Sambong, Kecamatan Pacitan.

Kedalaman sumur bor bantuan dari Badan Geologi Bandung ini mencapai 125 meter. Semula, air bersih yang dihasilkannya sangat mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Sumur bor itu bantuan dari pemerintah. Warga merasa sangat tertolong. Kalau harus buat sendiri, biayanya sangat besar. Sayang, fungsinya hanya berjalan seumur jagung,” kata Boimin (65), mantan Kepala Dusun Nglumbu, kepada MoeslimChoice.

Ya, dalam hitungan umur jagung, mesin dari sumur bor itu rusak. Hal itu sudah dilaporkan ke pihak instansi yang menangani. Ada tanggapan, dan langsung diperbaiki.

“Tapi, selang 5 bulan, mesin itu rusak lagi. Sudah saya laporkan, namun tidak ada perbaikan sampai saat ini,” kata Boimin.

Alhasil, hingga detik ini, salah satu aset milik Kabupaten Pacitan itu pun berhenti berfungsi, dan —tentu saja— melahirkan kesulitan tersendiri bagi masyarakat.

Fenomena semacam itulah yang dinilai masyarakat menjadi salah satu penyebab fenomena krisis air bersih masih juga menyerang Kabupaten Pacitan di setiap musim kemarau. [yhr]


Komentar Pembaca