Kesehatan Jiwa | Indonesia Masuk Zona Merah Kasus Bunuh Diri

Kesehatan  RABU, 11 SEPTEMBER 2019 | 07:51 WIB | Sugiharta Yunanto

<b>Kesehatan Jiwa</b> | Indonesia Masuk Zona Merah Kasus Bunuh Diri

Harvard Club Indonesia berdiskusi tentang bunuh diri di DPR | Ist.

MoeslimChoice | Badan Kesehatan Dunia (WHO) di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa menetapkan 10 September sebagai Hari Pencegahan Bunuh diri sejak 2003 lalu. Pada peringatan tahun ini WHO mewanti-wanti bahwa bunuh diri telah menjadi momok dunia. Data WHO menyebutkan setidaknya kasus bunuh diri yang tercatat sekitar 800.000 orang di seluruh dunia meninggal akibat bunuh diri. Artinya, setiap 40 detik terdapat 1 orang yang meninggal karena bunuh diri.

Bagaimana di Indonesia? The Indonesian National Representative of International Association for Suicide Prevention (IASP) diwakili oleh Nalini Muhdi, dr SpKJ K dari Kedokteran Jiwa Unair mengungkapkan, sejak peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri pada 2003, 15 tahun lalu, Indonesia sudah berada di zona merah rawan upaya bunuh diri. Rentang usia rawan bunuh diri pun ternyata di tataran remaja hingga dewasa awal, atau dalam usia sekolah hingga usia produktif (15-29 tahun).

“Masa remaja hingga dewasa awal itu sangat rentan terhadap depresi yang memicu upaya bunuh diri. Sehingga sebenarnya kasus bunuh diri ini seperti fenomena gunung es yang hanya terlihat dipermukaan saja. Sedangkan kebanyakan kasus underreported,” ungkap Nalini, Rabu, 4/9/19.

Sedangkan Anggota Komisi IX DPR-RI  Nova Riyanti Yusuf (Noriyu) mengatakan,  masalah kesehatan kejiwaan harus menjadi salah satu fokus pemerintahan Jokowi periode kedua. Noriyu yang merupakan psikiater professional menyatkan isu mengenai masalah kejiwaan dan mental sudah memasuki masa kritis.

"Kritis karena sudah menjangkit anak-anak muda di Indonesia namun belum banyak menjadi prioritas pemerintah saat ini," kata Nova saat diskusi yang diadakan Harvard Club Indonesia (HCI) di Gedung Nusantara DPR RI bertepatan dengan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, Selasa, 10/9/19.

Diskusi mengupas berbagai tantangan sektor kesehatan dari berbagai aspek. Mulai dari masalah pendanaan, kesehatan jasmani, mental, dan berbagai isu kesehatan masyarakat. Nova menegaskan, negara ini akan tumbuh menjadi negara maju jika SDM-nya berkualitas.

Berkualitas secara fisik dan intelegensia serta kejiwaannya, itu kalau kita mau kejar generasi emas 2045. Indonesia membutuhkan sebuah visi kesehatan yang adaptif dan komprehensif mencakup hingga kesehatan kejiwaan.

Sedangkan Nalini mengungkapkan alasan seseorang memutuskan untuk bunuh diri tidaklah bisa atau boleh disimplifikasi atau disederhanakan. Karena saat ini upaya bunuh diri tidak hanya terbesit dibenak orang dewasa, tetapi juga kerap ditemui terjadi pada anak anak dan remaja.

Pemicu bunuh diri adalah adanya sumber-sumber stres yang tidak segera ditangani sehingga menyebabkan timbulnya stresshore yang dalam. Sumber-sumber stres tersebut adalah konflik, tekanan, krisis dan frustasi.

“Stresshore di Indonesia itu lengkap, keempatnya ada. Sehingga kalau kita tidak memiliki cara atau kekuatan mental untuk menghadapi hal tersebut, ditambah kita riskan atau termasuk dalam golongan resiko tinggi kita akan rentan untuk depresi dan depresi kalau tidak teratasi akan menyebabkan orang berpikir tentang kematian,” jelasnya.

Selain itu, penyebab bunuh diri adalah reaksi atau resultante dari tekanan lingkungan ekonomi atau kehidupan yang biasanya berkaitan dengan lost atau kehilangan. Bisa jadi kehilangan uang, kehilangan pekerjaan, kehilangan prestis
atau harga diri dan bisa juga kehilangan orang yang dicintai, yang mana kehilangan itu signifikan bagi orang tersebut.

“Tetapi kembali lagi, bahwa keputusan bunuh diri dan alasannya itu sangat kompleks, tidak boleh disimplikasikan. Oleh karenanya, bagi korban bunuh diri yang selamat tidak hanya perlu dirawat dan diobati luka fisiknya, melainkan juga luka dijiwanya,” terang Nalini.

“Harusnya kejadian bunuh diri baik yang meninggal maupun masih tertolong juga harus dilaporkan ke departemen kedokteran jiwa atau psikiater. Karena meskipun telah sembuh luka fisiknya belum tentu luka jiwanya juga ikut sembuh. Hal itu tentu akan sangat memungkinkan untuk upaya bunuh diri terulang kembali,” tukasnya.

Bunuh diri pada dasarnya merupakan masalah mental disorder yang membutuhkan penanganan yang serius, merupakan kembangan dari depresi dan mood disorder sehingga tidak tepat jika korban bunuh diri dikategorikan sebagai korban kecelakaan, bahkan kecelakaan lalu lintas.

“Selama ini tidak banyak catatan khusus terkait kasus bunuh diri, para korban bunuh diri dicatat menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Sehingga penanganan preventif dan postventif menjadi sangat kurang,” tambahnya.

Untuk itu, Nalini berharap stakeholder atau pemangku kebijakan dalam hal ini Kementerian Kesehatan harus memiliki peran dalam suicide preventive. Paling tidak bagaimana upaya untuk mendekati angka catatan kasus bunuh diri yang lebih valid karena saat ini menurut Nalini angka yang tercatat untuk kasus bunuh diri sama sekali tidak valid.

“Mungkin dengan upaya yang komprehensif dari Kemenkes dan rumah sakit untuk setidaknya ada pendataan pasien terkait kecelakaan yang dialami pasien IGD, adakah kemungkinan upaya bunuh diri,” ujar Nalini.

“Angka kasus bunuh diri ini sangat tidak valid, bahkan data yang dicatat WHO saja belum tentu mencakup seluruh kejadian bunuh diri. Banyak kematian karena bunuh diri yang underreported, apalagi yang tidak mati atau masih tertolong, malah tidak tercatat,” tambahnya.

Hal tersebut disebabkan kasus bunuh diri ini masih bertabrakan dengan stigma masyarakat bahkan agama. Kebanyakan orang mungkin malu atau malah menutupi jika anggota keluarga ada yang berupaya bunuh diri.


Komentar Pembaca