17 Hari Mencari Cinta Anies Baswedan

Kajian  SENIN, 09 SEPTEMBER 2019 | 12:49 WIB

17 Hari Mencari Cinta Anies Baswedan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Urgensi Infrastruktur Dinamis Konsolidasi Perekonomian Nasional


Masih ingat lagu yang dinyanyikan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Band Jamrud? Nah, kira-kira itulah harapan saya cuma minta 30 menit waktu para penggede membaca curahan hati ini.

30 Menit gak lama ya? saya buat simple deh padahal banyak yang mau diulas. Tapi karena ada penyakit sosial kata Bang Anies yaitu, daya baca. Minat tinggi tapi daya baca rendah akhirnya tidak sampai pesannya.

Alkisah ini hanya kegelisahan warga negara yang kebetulan ber-KTP hendak memberi masukan buat pemimpinnya. Gubernur Indonesia menurut politisi Muarar Sirait, Anies Rasyid Baswedan.

Mohon izin saya panggil Abang biar lebih dekat. Bang Anies yang insya Allah saya banggakan baiknya mempertimbangkan judul saya di atas melakukan terobosan di tanah reklamasi teluk Jakarta yang Abang rebut kembali untuk melakukan urbanisasi manusia yang membara.

Bang Anies yang insya Allah saya banggakan. Di tanah reklamasi teluk Jakarta itu jadikan pilot project membangun Infrastruktur Dinamis untuk manusia manusia Indonesia yang lagi nelangsa. Lakukan urbanisasi manusia di sana.

Siapa yang nelangsa? Petani, nelayan dan rumah tangga para buruh Bang. Di whatsapp group dan inbox facebook saya banyak yang ngeluh Bang terkait keadaan ekonomi bangsa ini.

Semua sudah terasa Bang. Ini real! Satu contoh saja petani cengkeh di Kuningan Jawa Barat sambil merintih bercerita pohon cengkeh yang dulunya bisa dijual per pohon satu juta lebih. Kini Rp150 ribu masih ditawar tengkulak.

Ini petani cengkeh Kuningan Jawa Barat. Kampung ibunya Abang. kalau gak percaya saya antar Bang. Belum lagi yang terdekat Bang, nasib nelayan pinggiran kota Jakarta Utara.

Mereka bertahan dengan semangat dan harapan hari demi hari. Umumnya para buruh di Jakarta Utara pekerja pabrik yang ngeri-ngeri sedap tergerus daya belinya.

Mereka (petani, nelayan kepulauan seribu dan buruh pabrik di Jakarta) cuma bisa mengandalkan semangat dan harapan. Ribut ribut di media sosial soal esemka, iuran BPJS, pindah ibukota negara serta RUU KPK sebenarnya menyakitkan mereka.

Mereka itu para petani dan nelayan serta buruh, baginya hidup ini harian. Tidak mungkin mengkonsumsi rangkaian kata  para buzzer. Rakyat sudah cerdas penjilat dan koruptor lebih bahaya penjilat kok.

Akhirul kalam, saya hanya berharap lewat tulisan tolong berdayakan tanah reklamasi teluk Jakarta dalam pembentukan infrastruktur dinamis.

Kalau how to nya simple aja Bang. Bacalah konsep riset Paul M Romer. Bacalah buku bagus hasil riset juga dari Michael Sherraden.

Malu rasanya RRC Mbahnya komunis tertib mengurus kesejahteraan rakyatnya. Pun Mbahnya kapitalis, Amerika Serikat serius bekerja melakukan distribusi kesejahteraan buat warga negaranya. Trump pun menyerukan di negaranya kebijakan infrastruktur is "a necessity", (The New York Times, Sept 07, 2019).

Sebagai ekonom dan politisi cerdas Bang Anies lebih paham dari saya, bahwa hanya kebijakan infrastruktur yang dapat melakukan konsolidasi perekonomian.

Infrastruktur menggerakkan pekerjaan rakyat dan logistik rakyat serta aktivitas berbahan baku tidak impor. Bukan sebaliknya seperti yang terjadi. Prioritas jalan tol yang kita alami antiklimaks. Ini yang membuat kita berantem sesama anak bangsa karena berbeda prioritas dan hasil. Industri baja dan semen nasional bleeding.

Bang Anies yang insya Allah saya banggakan sebagai ekonom, tentu lebih paham, ortodoksi ekonomi sebagai ilmu pengetahuan hanya bertahan dari kreasi politik pengambil kebijakan. 17 hari lagi Bang. Deklarasi di tanah teluk Jakarta.


Soemantri Hassan
Pemerhati Kebijakan Publik

 


Komentar Pembaca