Ketika Paul Romer dan Anies Baswedan Duduk Satu Meja

Kajian  JUMAT, 06 SEPTEMBER 2019 | 09:53 WIB

Ketika Paul Romer dan Anies Baswedan Duduk Satu Meja

Paul Romer, mantan kepala ekonom Bank Dunia,

Nevada - Amerika Serikat, saat itu tiba musim panas di bulan Agustus, ada seorang pria berusia 63 tahun berambut putih diam diam mengikuti "ritual" tahunan di sana. Bacchanal Years Party di Black Rock City, Nevada.

Bacchanal adalah acara tahunan yang rutin diadakan sejak 1986 di suatu gurun pasir yang tandus di Nevada. Yang menarik pada acara Bacchanal kali ini, ada kehadiran pria berambut putih. Siapa dia?

Pria itu bernama Paul Romer. Ini adalah kali pertama Pak Romer, mantan kepala ekonom Bank Dunia, menghadiri Bacchanal tahunan.

Imajinasinya menjadi liar menyaksikan Bacchanal tahunan di Nevada. Ia menyaksikan sendiri. Bagaimana mungkin 70 ribu manusia berbondong-bondong hadir dan tenggelam dalam satu malam? Dalam suatu keadaan, Anarki!

Ya, mereka yang hadir tanpa ada komando atau hierarki bisa tertib dan bergembira? Pak Romer terus berpikir keras dalam kepakarannya sebagai ekonom. Ia lalu berimajinasi dengan ide ide segarnya membayangkan bagaimana mungkin kota tandus seperti di Black Rock melakukannya?

Dan menariknya dalam suatu keadaan yang anarkis bisa berjalan tertib. Apakah ini bisa dikatakan sebuah tipikal kota masa mendatang?

Lantas ia berpikir mengapa ini  tidak dikembangkan menjadi suatu perencanaan kota baru dan sebagai kajian ekonomi pengetahuan moderen? Diam-diam ia simpan proposal itu dikepalanya selama dua tahun.

Ya, diam diam ia pendam proposal itu dua tahun ia sebagai ekonom sebelum menerima tawaran sebagai Senior Vice Presiden Bank Dunia (world bank) sejak 2016 hingga berhenti awal 2018.

Pak Romer tidak sia-sia dalam mengisi masa pensiunnya akhirnya Paul Romer, memenangkan hadiah Nobel 2018 untuk bidang ekonomi, bermaklumat bahwa abad mendatang akan membutuhkan lebih banyak "Urbanisasi Manusia Membara" (burning man).

Selama masa menjabat ia membujuk agar sebuah kampus menerima proposalnya. Proposal memaksa Pak Romer untuk mempelajari mekanisme kota. Dia membujuk sebuah kampus bergensi di Kota New York, New York University (N.Y.U).

Pak Romer mengusulkan agar N.Y.U. untuk membuat lembaga riset baru yang didedikasikan untuk mereka, dan N.Y.U setuju mengirim dua ahli perencanaan kota. Keduanya memberi pengetahuan baru. Dua ahli itu adalah Shlomo Angel dan Alain Bertaud.

Shlomo Angel mengajarinya fondasi jaringan jalan yang baik. Alain Bertaud memberinya kerangka kerja: perencanaan kota.

Pak Romer masih belum happy, kedua ahli dari kampus sebagai perencana kota mendesain terlalu banyak, sementara dirinya ekonom terlalu banyak menyerah pada pasar. Jawabannya ada di antara - dalam menggambar kotak jalan di padang pasir.

"Keindahan pikiran Paul adalah bahwa dia melihat pola di mana kita tidak melihatnya, karena dia melihat pola di seluruh contoh yang tidak ada hubungannya dengan satu sama lain," kata Bertaud, (New York Times September, 2019)

Sampailah akhirnya Pak Romer dalam pertemuan imajinasi memandangi grid jalan Manhattan, kota piagam yang dibayangkan, Kota Black Rock.

Dia mengambil pekerjaan itu dengan diam-diam berharap membujuk Bank Dunia tempatnya bekerja mendukung gagasannya menciptakan kota baru. Dan ternyata Pak Romer kurang beruntung. Bank Dunia bergeming.

 

Membayangkan Paul Romer Duduk Satu Meja Dengan Bang Anies Baswedan

Jika Bank Dunia bergeming. Bagaimana Bang Anies Baswedan selaku ekonom yang sekarang Gubernur kota Jakarta? Kota yang telah perlahan tapi pasti menjadi tiga besar kota dunia.

Bagaimana Bang Anies melihat hasil riset mendalam seorang Paul Romer dikaitkan kebutuhan Jakarta? Kita bicara masa depan Jakarta loh.

Sebagai ekonom dan pemegang amanah rakyat Jakarta tentu Bang Anies sudah membaca hasil riset Paul Romer. Jika tidak saya siap kirimkan.

Jika Paul Romer membayangkan mekanisme kota Back Rock City di Nevada Amerika Serikat dengan belajar pada bagaimana awal kota Manhattan dibuat. Maka ijinkan saya membayangkan, tanah reklamasi Teluk Jakarta yang tandus dan tak bertuan menjadi pilot project, menjadi sebuah kota yang menggerakkan perekonomian?

Tesis tak terbantahkan dari Pak Romer adalah, urbanisasi massal membara akan terjadi di kota-kota besar di Asia. Ledakan penduduk, termasuk di Jakarta.

Langkah-langkah konkret harus dilakukan. Jika terlalu politis wacana perluasan wilayah Jakarta di wilayah pinggiran. Maka di lokasi tanah reklamasi teluk Jakarta harusnya bisa. Toh, dulu sebelum Bang Anies, mereka membuat sertipikatnya bisa dalam "one night".

Jakarta masa depan harus well planned- saya membayangkan dibentuk bursa berjangka komoditi rumput laut di sana.  Dua tahun sisa pengabdian Bang Anies dalam periode awal masih bisa jika melakukan pondasi yang kokoh bagi pemerintah membuat road map mengacu pada penelitian Paul Homer bukan lagi apa kata pengembang. Apalagi dari hasil utang.  

Lakukan Bang Anies.Demi masa depan Jakarta agar Jakarta selamat dari serbuan urbanisasi massal yang membara.

Soemantri Hassan (Pemerhati Kebijakan Publik)
Adaptasi dari New york Times Edisi 5 September 2019

 


Komentar Pembaca