Belajar pada Kasus Paman Gendong Mayat Keponakan di Tangerang

Kajian  MINGGU, 25 AGUSTUS 2019 | 21:30 WIB

Belajar pada Kasus Paman Gendong Mayat Keponakan di Tangerang

Ilustrasi paman gendong mayat keponakan di Tangerang

Bukti Etika Kita Telah Lama Mati

Siapa pun yang melihat viralnya kejadian di suatu Puskesmas di Tangerang, Banten, akan geram dan miris. Atas dasar Standart Operation Prosedur (SOP) mayat manusia tak ada arti.

Kita tak ingin mengulang dan mengulas lebih lanjut siapa yang salah. Toh, terbetik kabar Kepala Puskesmas mewakili pemprov sudah meminta maaf. Bahkan Walikota Tangerang Arief R Windansyah sudah takziah ke keluarga korban tentu meminta maaf.

Lalu persoalan berhenti di situ? Tidak. Belajar pada kasus puskesmas di Tangerang bukti etika kita dalam masalah besar. Melebihi masalah inflasi perekonomian negeri ini. Etika kita dalam deflasi!

Ukuran etika di masyarakat kita sekarang menjadi lentur. Apa yang baik dan salah menjadi samar. Kadang  penyelesaian di atas materai dan permohonan maaf, satu satunya langkah penyelesaian hukum dalam soal soal etika di masyarakat.

Contoh soal materai menarik. Apa urusannya materai dengan etika? Tidak ada. Materai hanyalah bukti perikatan terjadi di dalam sistem hukum Indonesia. Umumnya aspek perdata di suatu negara lebih pada pengenaan hukum pajaknya. 

Dalam kasus pencemaran nama baik yang menjadi trend misalnya, menjadi lucu jika aspek pidana mesti dibubuhi materai. Padahal tidak harus.

Ilustrasi di atas adalah  soal etika dalam bisnis. Pun dalam seluruh aspek kehidupan sehari hari. Termasuk etika kedokteran. 

 

Belajar pada Kasus Tangerang: Etika Kita Telah Bangkrut

Kasus di Tangerang bukan saja menohok aktornya dokter dan Walikota. Tapi Seluruh isi manusia yang ada di Puskesmas.

Dan boleh jadi abainya masyarakat Tangerang yang sekadar menolong, itu adalah cermin kita sebagai bangsa telah bangkrut etikanya. Termasuk saya, harus jujur malu dan geram dengan kejadian itu.

Karena kejadian awal di puskesmas maka yang patut disorot adalah etika para dokter dan birokrat. Mereka yang harusnya diupgrade soal soal etika. Karena berhubungan dengan subjek manusia terus menerus.

Etika yang semakin lentur di tengah masyarakat semakin bahaya profesi-profesi yang berhubungan dengan subjek manusia. Mereka perlu di-upgrade kontinyu walau presiden sekali pun harus ada perangkat medical check up etikanya atau dalam ilmu komunikasi dilakukan audit etika komunikasi. 

Salah satu contoh upaya serius dilakukan Univeristas Gajah Mada (UGM) almamaternya Presiden Jokowi. Fakultas kedokteran UGM selangkah lebih serius dari kampus kedokteran lain dalam urusan etika. 

Di UGM Program pasca sarjananya, pengkajian etika kolaborasi dengan fakultas filsafat dibuat Program berbasis website Manajemen Etik dan Penguatan Integritas (MEPI). Membahas kasus kasus etik. Portal berbasis website  dibuat agar mahasiswa kedokteran dan filsafat mudah dalam mengakses portal tersebut.

Di dalam MEPI terdapat beberapa modul soal soal etika penelitian yang berhubungan dengan manusia. Sehingga mereka saling sharing dan diskusi bersama dosen dan mahasiswa terkait penelitian sosial atau yang berhubungan dengan manusia.

Etik atau Etika itu soal melatih rasa akan kepekaan sebagai subjek manusia. Ibarat hand phone, anda pun perlu charger menyegarkan etika Anda. Agar Anda tidak mati sebagai subjek manusia.

Soemantri Hassan (Pemerhati Kebijakan Publik)

 

 

 


Komentar Pembaca
Korupsi: Extra Ordinary, Ordinary, atau Orderan
Taichan Mengalir

Taichan Mengalir

22 Sep, 2019 | 04:09

Heboh Sendiri

Heboh Sendiri

21 Sep, 2019 | 07:34

Shankly Dixie

Shankly Dixie

20 Sep, 2019 | 04:16

Perbedaan Ibadah Mahdhah dan Ghairu Mahdhah
Deislamisasi, Sejarah Islam Diamputasi