Untuk Ketua IAEI Sri Mulyani Indrawati

Kajian  SABTU, 24 AGUSTUS 2019 | 09:18 WIB

Untuk Ketua IAEI Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Gagasan Mencetak Kolam dari Mata Air Baru

Sebelumnya, ijinkan saya mengucapkan selamat Kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati  sebagai Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI)  yang baru, yang insyaallah dikukuhkan, Sabtu (24/08/2019). Sayup-sayup kita saksikan Pembukaan Muktamar Ke IV IAEI yang baru diselenggarakan Jumat (23/08/2019) secara aklamasi meminta kesediaannya.

Selama dua periode kepemimpinan Bambang Brojonegoro Sumantri tidak memungkinkan untuk periode ketiga. Lalu atas restu Ketua MUI cq Calon Wakil Presiden KH Makruf Amin muncullah nama Ibu Sri Mulyani Indrawati (SMI).

Dan ini menarik, karena biasanya lobbying KH Makruf Amin pengalaman pengalaman sebelumnya, ucapannya sakti. Pasti SMI ketuanya. Setelah SMI ketua, lalu apa gagasannya?

SMI dan Gagasan Mencetak Kolam dari Mata Air Baru
 
Dengan naiknya SMI sebagai ketua IAEI (anggap berkenan menerima) akan membuat ekonomi islam di Indonesia harusnya lebih banyak berperan dari sekarang. Kita tidak soalkan pantas atau tidak pantas itu code of conduct organisasi lagian siapa yang berani menolak kiyai Makruf? Dosa kan.

Semoga dengan terpilih Ibu SMI bisa menjadikan islamic finance yang secara didaktika bahasa  arti syariah adalah juga "mata air". Indonesia yang mayoritas rakyatnya beragama islam butuh titik titik mata air itu tersalurkan menjadi kolam yang jernih dan menyehatkan. Kolam baru.

Jujur perkembangan dan permasalahan pada lemahnya perbankan syariah pada institusionalisasi (kelembagaan) dan sumber daya manusia. 

Dalam kelembagaan salah satu dampaknya karena memutuskan mengusung nama "syariah" bukan islamic finance mempunyai konsekwensi lanjutan pada disain akad bankingnya para praktisi kalah kompetitif dengan bankir Malaysia sekalipun. Sementara India dan Pakistan bersiap menyalip. 

Perbankan Syariah di Indonesia masih sibuk mengedukasi riba dan lebih dominan memberikan layanan Mudharabah (bagi hasil) dan Murabahah (jual beli). Padahal turunan dari Mudharabah dan Murabahah banyak disain akadnya. Para ahli dan praktisinya sudah  tahu tapi belum berani selain terbelenggu nama juga kena perlakuan pajak berganda. Ini yang menyebabkan stagnan perkembangan  ekonomi islam junto perbankan syariah di Indonesia tdak ada bedanya dengan yang tradisional.

Sementara di luar sana, segmen masyarakat potensi untuk dihimpun dana begitu besar. Bisa dilakukan sampling konsumen perbankan tradisional dan perbankan syariah dari bank ke bank konsumennya ya itu-itu saja.

Dengan naiknya SMI sebagai ketua baru yang notabene Menteri Keuangan tentunya ada kajian komprehensif perlakuan pajak berganda. Serta mulai berani melakukan terobosan terobosan layanan desain akad sebagaimana islamic finance di negara negara lain. Syariah itu mata air. Temukanlah mata air baru itu. 

Dalam hal kelembagaan, tentunya SMI bisa menularkan pengalamannya mereformasi birokrasi departemen keuangan dulu menjadi kementerian keuangan, mereformasi direktorat pajak itu era SMI. Dtunggu gagasan dan visinya, agar Indonesia menjadi pusat ekonomi islam dunia.

Soemantri Hasan (Pemerhati Kebijakan Publik)


Komentar Pembaca