Maman Klarifikasi: Bukan Menjelekkan Menag

Polhukam  MINGGU, 21 JULI 2019 | 11:05 WIB | Warni Arwindi

Maman Klarifikasi: Bukan Menjelekkan Menag

Maman Imanul Haq | Dok.

MoeslimChoice | Wakil Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Maman Imanulhaq, meluruskan pemberitaan tentang kritiknya terhadap Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin. Dalam diskusi Polemik MNC Trijaya, yang disiarkan live pada Sabtu pagi, 20/7/19, Maman sempat menyebut Menteri Lukman gagal dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai menteri.

"Gagal, ya gagal, bukan hanya kinerjanya. Datang deh ke Lapangan Banteng (Kantor Kemenag) tidak pernah ada sebuah kementerian yang parkirnya paling jelek kecuali Kemenag. Parkirnya saja jelek, apalagi menterinya," ujar Maman ketika mendapat giliran bicara sebagai narasumber.

Maman lantas menyampaikan pelurusan atas pemberitaan yang mengutip pernyataannya itu. Maman mengklaim tidak bermaksud menjelek-jelekkan lembaga Kementerian Agama. Dia hanya menyoroti lemahnya penegakan reformasi birokrasi di Kemenag akibat sistem yang tak berjalan.

"Sejatinya ingin menyatakan bahwa sekalipun seorang menteri memiliki integritas, dedikasi dan sikap kenegarawanan seperti Menteri Agama Lukman Syaifuddin, kalau sistem birokrasinya tidak berjalan, niscaya reformasinya akan gagal," jelas Maman dalam keterangan tertulis yang diterima Kantor Berita RMOL.

Mengenai kalimatnya yang menyinggung lahan parkir Kemenag, disebutnya cuma kiasan untuk menunjukkan bahwa perbaikan birokrasi akan menentukan perbaikan lingkungan sekitarnya. "Sekalipun menterinya bagus, kalau birokrasi jelek maka parkirannya pun bisa jelek," jelas Maman.

Dia menegaskan, inti dari kritiknya itu dalam konteks pentingnya reformasi birokrasi di semua lembaga pemerintahan tanpa kecuali. "Sehebat apapun menterinya, kalau sistem reformasi birokrasi tidak dibangun akan gagal seperti kasus Menteri Lukman di Kementerian Agama,” kata Maman mengklarifikasi.

Menurut dia, kegagalan Lukman juga terkait merebaknya gerakan intoleransi dan radikalisme hingga membuat gesekan sosial berpotensi melebar. Dia bilang, birokrasi yang selama ini hanya jadi representasi sebuah kekuasaan yang hegemonik, tidak melayani, merasa paling pintar, memarjinalkan peran masyarakat dan cenderung korup, harus direformasi total.

"Perbaikan negara tidak cukup hanya mengandalkan sosok yang baik tanpa disertai tindakan perbaikan reformasi. Mengkritik Kementerian Agama itu sebagai bagian usaha menyampaikan persoalan yang objektif. Bukan menjelek-jelekkan Menteri Agama," ucap Maman.


Komentar Pembaca