Kepala BNPT Mau Simpatisan ISIS Mendapat Kesempatan Pulang

Nasional  SELASA, 09 JULI 2019 | 23:09 WIB | Warni Arwindi

Kepala BNPT Mau Simpatisan ISIS Mendapat Kesempatan Pulang

Suhardi Alius di depan awak media

MoeslimChoice | Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius meminta agar masyarakat memberikan kesempatan bagi anak-anak simpatisan ISIS yang ingin kembali ke Indonesia. Suhardi khawatir, apabila para anak-anak yang terpapar paham terorisme itu dibiarkan tanpa ada perhatian bisa berakibat fatal karena dendam yang ditimbulkan.

Bahkan, mereka bisa melakukan hal yang lebih parah. Ia mencontohkan anak Imam Samudra yang kehilangan nyawa di Suriah.

"Kita lihat harus jernih, apakah kita harus korbankan anak-anak itu? Apakah dia bersalah? Beri kesempatan kedua, dia tidak berdosa," kata Suhardi saat menghadiri diskusi bertajuk 'Para Pengejar Mimpi ISIS: Layakkah Mereka Kembali', Selasa, 9/7/19.

"Kalau dilepas, (anak-anak itu) Imam Samudra waktu bom Bali itu anaknya umur sembilan tahun, sekarang sudah mati di Syiria, lebih keras dari bapaknya," tuturnya.

Namun, Suhardi mengatakan pihaknya tidak bisa menjamin apakah anak-anak tersebut tidak melakukan hal-hal yang mengancam negara Indonesia dengan gerakan radikal, untuk itu pihaknya akan membentengi diri dengan melakukan pendekatan yang humanis.

"Jadi sekarang sudah berbalik, kita sistem jangan perorangan kita putus mata rantai itu. Kita bikin sistem satu sisi kita buat daya tahan, satu sisi yang sudah terpapar kita netralkan dengan sisi kemanusiaan ini konsep yang akan kita bangun," tukasnya.

Sedikitnya 73 ribu pengungsi yang merupakan wanita dan anak-anak kini berada di kamp Pengungsian Al-Hawl, termasuk dari Indonesia. Terdapat pula pria asal Indonesia yang kini berada di tahanan Suriah. Semuanya menyatakan ingin kembali ke Tanah Air.

Berdasarkan penelusuran BNPT tidak sedikit anak-anak WNI yang dibawa ke Suriah menyatakan keinginannya untuk kembali ke Indonesia. BNPT pun menemukan fakta bahwa ada WNI perempuan yang pergi bersama suami dan anak-anaknya ke Suriah lalu menjadi bagian dari ISIS.

Namun dalam perjalanannya, suaminya meninggal dan perempuan WNI itu kemudian menikah dengan kombatan ISIS dan memiliki anak. Anak-anak hasil perkawinan dengan kombatan ISIS itu, kata Suhardi, juga menjadi persoalan.

Toh Suhardi bilang, keputusan terkait dipulangkan atau tidaknya WNI mantan militan ISIS ke Tanah Air, akan dibicarakan lintas sektoral. Belum ada keputusan baku mengenai kepulangan mereka yang pernah bergabung dengan ISIS.

Dia mengatakan di Eropa, warga negara yang berperang untuk negara asing secara otomatis akan kehilangan kewarganegaraannya. Namun di Indoenesia hal itu masih menjadi perdebatan.


Komentar Pembaca