Unesco Tetapkan Eks Tambang Batu Bara Ombilin Jadi Warisan Budaya Dunia

Wisata  MINGGU, 07 JULI 2019 | 08:16 WIB | Warni Arwindi

Unesco Tetapkan Eks Tambang Batu Bara Ombilin Jadi Warisan Budaya Dunia

MoeslimChoice | Pertambangan batu bara zaman kolonial, Ombilin di Sawahlunto atau "Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto", Sumatera Barat, ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia itu berlangsung dalam sesi Sidang ke-43 Komite Warisan Dunia UNESCO PBB di Gedung Pusat Kongres Baku di Baku, Azerbaijan, pada Sabtu, 6/7/19.

Ungkapan bahagia datang dari Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan, Husnan Bey Fananie, yang hadir dalam sesi sidang. Menurutnya, Indonesia kembali dikenal dunia atas peninggalan sejarah di Sawah Lunto. "Alhamdullah, dahsyat sekali. Ini merupakan warisan budaya dunia kelima yang dimiliki oleh Indonesia. Semoga kita dapat jadikan alat untuk membangun untuk Indonesia selajutnya," ungkap Husnan dalam siaran pers yang dikirim Asisten Dubes Indonesia untuk Azerbaijan Bidang Publikasi dan Humas, Sabtu, 6/7/19.

Mantan anggota DPR RI itu menyebut penetapan Ombilin Sawah Lunto sebagai warisan dunia adalah kado untuk rakyat Indonesia. "Ini kado luar biasa untuk rakyat Indonesia pada 2019. Semoga kita semua dapat melestarikan dan menjaga peninggalan sejarah," kata Husnan.

Yang hadir dalam penganugerahan Ombilin Sawah Lunto sebagai Warisan Sejarah Dunia antara lain Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno; Walikota Sawah Lunto, Deri Asta; Perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Warisan, Najmuddin; dan perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup.

Sebelum penetapan ini, Indonesia sudah memiliki empat warisan dunia kategori alam yakni Taman Nasional Komodo (1991), Taman Nasional Lorentz (1999), Hutan Tropis Sumatera (2004), dan Taman Nasional Ujung Kulon (1991). Kemudian empat warisan dunia kategori budaya, yaitu Candi Borobudur (1991), Candi Prambanan (1991), Situs Sangiran ( 1996), sistem Subak di Bali (2012).

Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, adalah salah-satu kota tambang batu bara tertua di kawasan Asia Tenggara, yang dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda sejak akhir abad ke-19, menurut UNESCO dalam situs resminya.

"Kita bangga warisan budaya kita ditetapkan sbg warisan dunia. Ini berarti tugas kita untuk pelestarian warisan budaya semakin dituntut," kata Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 6/7/19.

"Sekaligus, ini juga menjadi tantangan kita semua untuk menunjukkan kepada dunia tentang upaya indonesia memajukan Kebudayaan," tambahnya.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, perjalanan kota lama tambang batubara Sawahlunto untuk mendapatkan status warisan budaya dunia "tidaklah mudah".

Hilmar Farid mengatakan, pengusulannya diawali melalui tahapan prakarsa, tentative list (daftar sementara), nominasi, evaluasi, dan diakhiri penetapan. Walaupun sudah terdaftar dalam World Heritage UNESCO untuk kategori tentative lists (daftar sementara) pada 2015, riwayat penominasiannya sudah dimulai sejak 2014, kata Darmawati, kepala sub bagian kerja sama dan Kehumasan, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud.

"Kemudian pada 2018, tema Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto secara syarat administrasi sudah dinyatakan lengkap diterima pihak ICOMOS, UNESCO," ungkapnya.

Hilmar mengungkapkan, pengusulan untuk kategori ini bukanlah perkara yang mudah, karena diperlukan penelitian mendalam. "Yaitu melalui pendekatan multi disiplin ilmu seperti arkeologi, antropologi, arsitektur lansekap, geografi, ilmu lingkungan, dan beberapa ilmu terkait lainnya," jelasnya.

Karena itulah, Hilmar Farid menyambut gembira atas ditetapkannya peninggalan tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto sebagai salah satu dari warisan budaya dunia oleh UNESCO. "Pengakuan UNESCO yang berarti pengakuan dunia akan meningkatkan citra bangsa Indonesia di mata internasional," katanya.

Menurut Hilmar, ketika sudah diakui UNESCO, selanjutnya pelestarian warisan dunia tersebut menjadi kewajiban dari seluruh Indonesia untuk menjaga dan melestarikannya sebaik-baiknya. "Bila diketahui terjadi masalah terhadap warisan tersebut, secara otomatis perhatian dunia akan tertuju ke Indonesia," katanya.

"Sebagai contoh, saat terjadi peristiwa gempa di Daerah istimewa Yogyakarta pada 2 Mei 2006, salah satunya hingga menimbulkan kerusakan pada Candi Prambanan, salah satu situs diakui dunia," ungkapnya.

"Maka banyak negara menawarkan bantuan baik dalam bentuk biaya perbaikan maupun asistensi tenaga ahli," jelas Hilmar.

Selain dituntut menjaga, melestarikan dan mewariskan secara estafet kepada generasi berikutnya, Indonesia secara berkala harus memberikan laporan ke UNESCO mengenai kondisi keterawatan warisan-warisan tersebut.

"Semangat mengusulkan saja tidak cukup. Sebab setelah diakui sebagai warisan dunia, maka kita harus siap melestarikan, menjaga dan merawat supaya tidak terkena sanksi dari UNESCO," kata Hilmar.

Sanksi paling berat adalah mencabut status warisan dunia (The World Heritage) dari daftar Unesco.Ya jangan sampai.


Komentar Pembaca