Pengusaha Daur Ulang Sangkal Styrofoam Penyebab Kanker

Kesehatan  SELASA, 11 JUNI 2019 | 11:05 WIB | Warni Arwindi

Pengusaha Daur Ulang Sangkal Styrofoam Penyebab Kanker

Aneka wadah styrofoam | Dok.

MoeslimChoice | Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) menyangkal isu kemasan styrofoam sebagai penyebab kanker. Donny Wahyudi, Anggota ADUPI, mengatakan sejak 2009 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada satu negara pun di dunia yang melarang penggunaan styrofoam dengan alasan kesehatan.

“Alasan pelarangan lebih ke lingkungan,” ujarnya di Jakarta,  Senin, 10/6/19. Donny juga menyebutkan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pun menyatakan bahwa bahan baku styrofoam tidak menganggu kesehatan.

Dari sampling 17 jenis styrofoam, Donny bilang, sebagian besar tidak mengandung residu stirena. Jika ada, masih jauh di bawah standar, yaitu 5.000 part per million (ppm). “Barang-barang yang sering ditemui seperti kopi dan strawberry itu mengandung sekitar 100 ppm stirena, kalau styrofoam 43 ppm,” katanya.

Selain isu kesehatan, Donny juga menyoroti isu lingkungan. Menurut dia, masalah sampah plastik yang ada saat ini disebabkan perilaku masyarakat yang buang sampah sembarangan dan masuk ke sungai. Styrofoam dianggap sebagai sampah utama di sungai karena sifatnya yang mengambang dan gampang terlihat karena warnanya putih.

“Padahal sampah di bawah itu yang tidak layak didaur ulang styrofoam 100 persen bisa di daur ulang,” jelasnya.

Kemasan styrofoam juga dinilai masih lebih efisien dibandingkan kemasan lain. Donny membandingkan kemasan Styrofoam dihargai Rp200 per buah, sedangkan kemasan plastik lain Rp600 dan kemasan karton Rp2.000. Apabila pengusaha makanan berpindah ke kemasan karton, harga makanan akan naik minimal 20 persen.


Komentar Pembaca