Pemilu Yang Meninggal Bertentangan Dengan Nilai Kemanusiaan

Polhukam  JUMAT, 26 APRIL 2019 | 16:10 WIB | Warni Arwindi

Pemilu Yang Meninggal Bertentangan Dengan Nilai Kemanusiaan

Foto net

MoeslimChoice | Penyelenggaraan Pemilu serentak 2019 menyisakan duka. Setidaknya lebih 100 orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), anggota Polri hingga Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) yang meninggal dunia setelah tahapan pemungutan suara pada 17/4/19.

Mayoritas penyebab petugas kehilangan nyawa, karena kelelahan, dan KPPS kali ini berada di urutan pertama terbanyak jumlah korban meninggal dunia. Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai Rabu, 24/4/19, sebanyak 883 anggota KPPS menderita sakit dan 144 orang meninggal selama pelaksanaan Pemilu 2019.

Jumlah itu ditambah anggota Polri dan Panwaslu. Pegiat media sosial, Darmansyah mengatakan, ibarat peribahasa "Nasi Sudah Menjadi Bubur", bergugurannya para 'pahlawan demokrasi' itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan.

Menurutnya, tentu saja tingginya angka korban meninggal dunia itu tidak dapat dipandang sebelah mata. "Saya meminta penyelenggara pemilu untuk secara transparan mengumumkan ke publik mengenai jumlah orang yang meninggal dunia saat bertugas akibat dari penyelenggaraan pemilu," ujar Darmansyah, Kamis, 25/4/19.

Dia sangat menyayangkan pernyataan Anggota Bawaslu RI, Rahmat Bagja yang mengungkapkan tidak ingin membesar-besarkan peristiwa wafatnya pejuang demokrasi. Baginya, pernyataan itu justru bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Apalagi, Presiden Joko Widodo menyatakan korban yang meninggal dunia saat mengawal pemilu sebagai pahlawan demokrasi, papar Darmansyah. "Sudah seharusnya dan sepantasnya, seseorang yang mengorbankan jiwa dan raga untuk berhasilnya penyelenggaraan pemilu diinformasikan kepada masyarakat," imbuh dia.



Komentar Pembaca