Dampak Pembangunan Jalan Tol di Era Jokowi, Ratusan Hektar Sawah Tergusur

Nasional  SENIN, 15 APRIL 2019 | 20:47 WIB | Adhes Satria

Dampak Pembangunan Jalan Tol di Era Jokowi, Ratusan Hektar Sawah Tergusur

Moeslimchoice | Akselerasi pembangunan jalan tol di era Presiden Jokowi adalah mengesankan. Sepanjang 2015-2018 telah diresmikan 756 Km jalan tol baru, terdiri dari 668,6 Km tol Trans Jawa dan 87,5 Km tol TransSumatra.

Jalan tol yang terbangun dalam empat tahun terakhir ini melampaui pencapaian pemerintahan sebelumnya era 1978-2014 yang hanya mencapai 742 Km. Arus besar pembangunan jalan tol ini masih akan berlanjut ke depan seiring proses persiapan dan konstruksi sekitar 1.100 Km jalan tol baru yang diperkirakan akan selesai pada 2019-2021.

Demikian riset yang dilakukan Indonesia Development and Islamic Studies  (IDEAS). Penelitian yang bertajuk “Harga Mahal Trans Jawa”, dilakukan oleh tim riset (Yusuf Wibisono, Febbi Meidawati, Siti Nur Rosifah, dan Fajri Azhari).

Perlu diketahui IDEAS adalah lembaga think tank tentang pembangunan nasional dan kebijakan publik berbasis ke-Indonesiaan dan ke-Islam-an yang didirikan dan bernaung di bawah Yayasan Dompet Dhuafa.

Ketua IDEAS, Yusuf Wibisono saat ditemui Moeslimchoice di Kantor IDEAS, di Jalan Legoso Raya, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Senin (15/4/2019), memfokuskan penelitiannya terkait “Trans Jawa danTergusurnya Sawah”.

“Pembangunan jalan tol terkonsentrasi di Jawa, pulau terpadat dengan permintaan transportasi yang tinggi, karenanya menjanjikan pengembalian investasi yang menarik bagi investor jalan tol. Tol Trans Jawa yang akan terbentang dari Merak hingga Banyuwangi sepanjang 1.175 Km, melintasi 5 provinsi, 15 kota dan 21 kabupaten,” papar Yusuf.

Menurut kajian IDEAS, akselerasi pembangunan jalan tol dan hingar bingar peresmiannya dalam empat tahun terakhir menyimpan fakta tersembunyi, yakni, tergusurnya ratusan hektar areal lahan pertanian produktif di Jawa, terutama sawah.

Kabupaten yang kehilangan sawah terbesar dalam 5 tahun terakhir,tercatat adalah kabupaten yang dilalui proyek jalan tol Trans Jawa, yaitu: Banyuwangi, Bandung, Serang, Cirebon, Brebes, Sragen, Ngawi, Pemalang, Tegal, Nganjuk dan Semarang.

Dalam periode 2015-2018 tercatat dibangun 680,4 Km jalan tol di Jawa, yang sebagian besar dibangun diatas lahan pertanian, terutama sawah. Jalan tol sepanjang 680,4 Km itu diperkirakan telah mengambil alih lahan pertanian seluas 4.457 hektar.

Dengan jalan tol sepanjang 766,1 Km kini dalam proses konstruksi, diperkirakan akan terdapat 5.018 hektar lahan pertanian yang akan hilang pada 2019-2021. Lahan pertanian yang hilang untuk pembangunan jalan tol, terutama sawah, seluas 9.475 hektar ini, setara dengan luas seluruh lahan sawah di Kabupaten Pacitan.

Lebih jauh, Yusuf menjabarkan, setelah jalan tol beroperasi, ekspansi perkotaan dipastikan akan deras menerjang areal sawah dan lahan pertanian produktif di sekelilingnya.

Dengan perhitungan konservatif, dimana dampak pembukaan jalan tol akan mengambil lahan pertanian hanya di lokasi paling strategis, yaitu di sekeliling pintu gerbang tol-nya saja, diperkirakan 680,4 Km jalan tol yang dibangun sepanjang 2015-2018 diperkirakan akan memicu konversi lahan pertanian hingga 49 ribu hektar, setara dengan luas seluruh sawah di Kabupaten Sukabumi.

Sedangkan 766,1 Km jalan tol yang akan beroperasi pada 2019-2021, diperkirakan akan memicu konversi lahan pertanian hingga 70 ribu hektar, setara dengan luas seluruh sawah di Kabupaten Bojonegoro.

Dengan rencana pembangunan jalan tol ke depan di seluruh penjuru Jawa, tidak hanya jalur utara namun juga jalur selatan, maka dampak jalan tol terhadap alih fungsi lahan pertanian produktif adalah signifikan.

“Dengan panjang jalan tol direncanakan hingga 2.500 Km, maka dalam perhitungan konservatif – jangka pendek, konversi lahan pertanian dapat mencapai hingga 200 ribu hektar, setara dengan luas gabungan seluruh lahan sawah di Kabupaten Indramayu dan Karawang. Dalam jangka panjang, dampaknya akan jauh lebih besar lagi.” (des)


Komentar Pembaca