Kronologi Geger ‘Kiamat Sudah Dekat’

Berita  JUMAT, 15 MARET 2019 | 07:20 WIB

Kronologi Geger ‘Kiamat Sudah Dekat’

Salah satu rumah warga Badegan, Ponorogo, yang ditinggal pergi pemiliknya karena diduga terpengaruh isu kiamat

MoeslimChoice | Sebanyak 52 warga Desa Watubonang dan Desa Semanding, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, geger.

Mereka berbondong-bondong pindah rumah ke Malang karena termakan isu kiamat. Mereka pindah ke Malang untuk menuntut ilmu agama.

Peristiwa ini sudah terjadi selama kurang lebih sebulan. Kepindahan sebagian dari mereka tak diketahui pemerintah desa setempat.

"Dipamiti secara langsung, tidak sama sekali. Kecuali yang jual rumah karena harus memerlukan urusan administrasi dengan desa," ujar Perangkat Desa Watubonang, Sogi, kepada wartawan di Ponorogo, Kamis (14/3/2019).

Warga yang terdoktrin isu kiamat itu sempat mengikuti pengajian di Padepokan Gunung Pengging.

Pengajian ini dipimpin oleh seorang warga bernama KT, pria yang dianggap sebagai pemuka agama.

Di padepokan itu terdapat aula besar, surau, dan gazebo. Aula tersebut biasanya digunakan ratusan warga untuk mendengarkan pengajian setiap Selasa dan Jumat malam.

"Dua hari tersebut biasanya mereka berkumpul melaksanakan pengajian," terang Kepala Desa Watubonang, Bowo Susetyo.

"Tidak ada yang aneh. Mereka habis salat Isya lalu mendengarkan ceramah seperti pada umumnya. Kayak pengajian biasa," jelasnya.

Selain itu, tak ada yang aneh dari pakaian warga yang mengikuti pengajian. Tidak ada yang menunjukkan kegiatan yang menyimpang dari pengajian itu.

Namun karena panik akan ada kiamat, para warga menjual tanah dan rumah mereka dengan harga yang murah. Hasilnya digunakan untuk bekal pindah ke Malang.

Informasi jual-beli rumah warga yang terdoktrin isu kiamat pun heboh di media sosial.

Akibat kejadian ini, ada 10 siswa sekolah dasar (SD) yang ikut hijrah bersama orang tuanya ke Malang sampai-sampai mereka tidak masuk sekolah.

Para siswa tersebut tidak pamit secara resmi ke sekolah. Mereka juga tidak mengurus kepindahan ke sekolah lain.

"Tidak pamit, tidak minta pindah sekolah juga. Menghilang begitu saja,” kata salah satu guru SDN 2 Watubonang, Taman.

Bahkan, dari 10 siswa yang tak masuk sekolah itu 3 siswa di antaranya terancam tidak dapat mengikuti ujian nasional. Karena ketiga siswa tersebut merupakan siswa kelas 6 SD.

Mirisnya, akibat kejadian ini, ada seorang suami yang rela meninggalkan istri yang baru dinikahinya.

Kejadian ini menimpa keluarga Katiyem (45). Menantunya meninggalkan putrinya tanpa alasan yang jelas pada Senin (4/3/2019), pukul 22.00 WIB.

Katiyem menyebut putrinya hanya ditinggali pesan bahwa suaminya pergi ke Malang, menyusul rombongan lain yang sudah berangkat terlebih dahulu.

Padahal, usia pernikahan Katiyem dan suaminya baru menginjak delapan bulan, bahkan belum dikaruniai buah hati. Sang menantu berangkat saat hujan lebat dan hanya membawa pakaian.

"Sebenarnya anak saya sudah berusaha mencegah. Tetapi tidak dihiraukan oleh suaminya," ujar Katiyem, Rabu (13/3/2019).

Beruntung, menantunya itu tak ikut menjual rumah dan aset keluarga.

Polisi pun langsung bertindak atas kejadian warga yang geger karena isu kiamat ini. Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Frans Barung Mangera, mengatakan, sebelum pindah, warga diminta menjual aset-aset yang dimiliki untuk bekal kehidupan di akhirat, dibawa, dan disetorkan ke pondok.

Warga juga diminta untuk membeli pedang seharga Rp 1 juta. Warga yang tidak membeli pedang diharuskan menyiapkan senjata sendiri sehingga meresahkan masyarakat sekitar.

“Mereka (para jemaah) menyebarkan isu bahwa Ramadan tahun ini akan ada huru-hara (perang) dan jemaah diminta membeli pedang seharga Rp 1 juta,” ujar Barung.

Warga yang terdoktrin isu kiamat menyatakan akan ada kemarau panjang selama tiga tahun mulai 2019-2021, yang mengakibatkan paceklik yang sangat lama. Warga pun diminta menyetor gabah 500 kilogram per orang.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ponorogo angkat bicara terkait isu ini. Ketua MUI Ponorogo, Ansor M. Rusdi, menegaskan, isu kiamat sangat meresahkan masyarakat dan membuat kekacauan.

“Rasulullah Muhammad SAW sendiri tidak menyebutkan kapan terjadinya kiamat dan belum diketahui pastinya,’’ kata Ansor, Kamis (14/3/2019).

Ansor mengatakan, kiamat memang harus diyakini kebenarannya sebab diajarkan dalam Islam dan sudah disebutkan secara jelas sebagai bagian dari rukun iman.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, telah meminta Kepala Kementerian Agama Ponorogo untuk menyelidiki kasus tersebut dan melakukan konfirmasi kepada guru spiritual Padepokan Gunung Pengging.

"Orang bisa terpengaruh info itu dengan mudah. Tapi beda dengan Ponorogo saya minta kepada Kakankemenag (Kepala Kantor Kemenag Ponorogo) supaya mengkonfirmasi ke pimpinan mereka," kata Khofifah saat ditemui di kantor DPRD Jatim, Surabaya, Kamis (14/3/2019).

Khofifah berencana menemui 52 warga yang pindah ke Malang setelah mendapat kejelasan dari Kemenag Ponorogo. Alasannya, kasus doktrin ini perlu diketahui akarnya dengan jelas.

Kasus ini tengah diselidiki oleh pihak kepolisian bersama TNI. Kapolres Ponorogo, AKBP Radiant, mengaku telah berkoordinasi dengan pihak Polres Malang.

"Saya juga sudah koordinasi dengan Kapolres Malang. Bahwa ada beberapa ajaran yang dipelintir di Ponorogo," jelasnya.

Sementara itu, Dandim 0802 Ponorogo, Letkol Inf Made Sandy Agusto, menjelaskan, sempat ada warga Ponorogo yang datang ke Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin milik Gus Muhammad Romli, di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kabupaten Malang.

Informasinya, Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin diduga menyebarkan isu kiamat dan huru-hara akan datang setelah bulan Ramadan. Namun, menurut Sandy, ajaran di ponpes itu tak ada yang menyimpang.

"Sebenarnya kalau ajarannya di Malang tidak masalah. Tapi kalau yang di Watubonang masih kita dalami," tuturnya. [yhr]


Komentar Pembaca